Hola, Takaiters!

Sering pusing dengan banyaknya sampah yang terlihat kacau balau di rumah masing-masing? Biasanya apa yang kita lakukan untuk mengurangi beban sampah plastik yang luar biasa banyaknya? Mungkin di antara kita banyak yang mengikuti arus, yaitu membakar sampah plastik tersebut. Ya, budaya membakar sampah telah mengurat nadi di dalam masyarakat kita.

Tentunya aksi pembakaran sampah ini berpotensi merusak lingkungan.  Sampah plastik yang susah sekali diuraikan ini akan membuat beban bumi semakin berat. Ujung-ujungnya, pencemaran lingkungan pun makin meluas.

Jika kamu termasuk generasi yang mengaku peduli lingkungan, ada baiknya  mencoba metode Ecobricks. Metode ini dipandang sebagai salah satu upaya menangani sampah plastik, agar bisa dimanfaatkan dalam bentuk lain. Mungkin Ecobrick belum terlalu familiar, namun cara ini membuat lingkungan bertransformasi menjadi lebih baik.

Pencetus Ecobricks adalah pasangan suami istri Russell Maier, pria asal Kanada yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sejumlah negara berkembang di Asia Tenggara. Bersama dengan istrinya, Ani Himawati– Maier memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah dan pengenalan metode Ecobricks ke berbagai negara.

Maier telah menjadi pejuang Ecobricks selama 3 tahun. Pengalamannya di Filipina menjadi titik balik dalam hidupnya untuk serius mencari penanggulangan terhadap sampah plastik. Menurut Maier, membakar sampah bukanlah sebuah solusi yang cerdas.

“Saya mengawali pembuatan ecobricks sejak empat tahun lalu di Filipina. Saat itu, saya tinggal di desa yang asri dan mulai berpikir mengenai sampah plastik agar tidak hanya terbuang percuma,” kata Maier.

Warga Kanada yang lama tinggal di Filipina itu kemudian mulai mendekati sekolah-sekolah untuk mengajarkan cara membuat “ecobricks” dari sampah plastik. Meskipun berdomisili di Bali, Maier aktif menyebarkan kebaikan metode ecobricks ke berbagai daerah, terutama di Jawa. Adapun respon paling positif didapati di Kota Jogjakarta.

Pilihan Editor



Melalui metode tersebut, warga diajak menyulap sampah plastik menjadi bahan material yang bisa dimanfaatkan , mulai dari bangku, meja hingga kebutuhan lainnya. Sampah plastik yang tidak memiliki nilai dimasukkan dan dipadatkan ke dalam sebuah botol plastik hingga penuh. Botol yang sudah terisi sampah plastik yang kering dan bersih tersebut bisa disusun menjadi berbagai bentuk sesuai kebutuhan.

Di Jogjakarta, metode ecobricks mulai dikenalkan pada Maret dengan menggandeng 405 bank sampah di wilayah. Hingga saat ini, sudah ada hampir 6.000 ecobricks yang bisa dibuat. Sebuah botol air mineral 600 mililiter membutuhkan setidaknya 2.500 lembar plastik bungkus mi instan atau setara 250 gram sampah plastik.

Selain mengurangi kuantitas sampah plastik yang dibuang ke tempat pembuangan sampah, metode ecobricks tersebut juga mampu mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepaskan ke lingkungan.

Tertarik mempelajari metode ini? Takaiters bisa berkunjung ke websitenya di www.Ecobricks.org dan www. russ.net. Takaiters bisa mempelajari modul pengelolaan sampah yang bijak dan ramah lingkungan.

Yuk, lestarikan lingkungan mulai dari sekarang.