Halo, Takaiters!

Semua pasti tahu dong kalau setiap tanggal 17 Agustus selalu penuh hingar bingar perayaan dirgahayu kemerdekaan Indonesia. Yup, 17 Agustus menjadi tanggal sakral bagi bangsa kita sebab di tanggal itulah secara resmi kita terbebas dari belenggu penjajahan. Indonesia Merdeka. Kita merdeka, Guys! Eits, tapi tunggu dulu. Sejarah mencatat berbagai kejadian dan fakta unik yang turut andil dalam upaya kemerdekaan NKRI di tanggal 17 Agustus tersebut, loh. Apa aja, sih, fakta-fakta unik yang sukses bikin Indonesia tercinta mulus memproklamasikan kemerdekaannya? Yuk, Simak!

1. Gelora Jiwa Muda yang Menyelamatkan Harga Diri Indonesia

Foto: sejarahpop.blogspot.com

Sebenarnya, dalam sejarah tercatat bahwa hampir saja kemerdekaan Bangsa Indonesia berstatus “hadiah” dari Pemerintah Jepang. Jika saja para kaum muda yang semangatnya berapi-api tak meyakinkan bahkan “menculik” golongan tua seperti Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok mungkin 17 Agustus bukanlah menjadi tanggal kemerdekaan yang kita kenal saat ini.

Singkat cerita, saat itu akses informasi dan komunikasi bagi rakyat pribumi sangatlah terbatas. Sehingga berita kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II sulit diakses oleh para pejuang di tanah air. Jepang juga berusaha menutup-nutupi kekalahan tersebut lantas berdalih akan “menghadiahi” Indonesia dengan kemerdekaan yang jelas-jelas sudah bisa diraih Indonesia secara mandiri.

Beruntung, kelompok golongan muda seperti Sutan Syahrir memiliki banyak koneksi melalui radio-radio yang sudah direbut dari Jepang. Berita kekalahan Jepang akibat Bom Hiroshima dan Nagasaki pada 7 dan 9 Agustus 1945 pun berhasil didengar Sutan Syahrir pada 10 Agustus. Duh, untung banget, ya, Guys!

Sutan Syahrir mendapatkan kabar tersebut melalui saluran radio luar negeri yang sebenarnya terlarang kala itu. Lantas Sutan Syahrir meneruskan berita penting tersebut ke berbagai saluran radio milik pejuang -pejuang di daerah agar bergerilya dan bersiap merebut kemerdekaan. Hanya satu semangat para pejuang tersebut: menolak kemerdekaan Indonesia yang diberikan dalam bentuk sebagai hadiah pemberian bangsa Jepang! Karenanya, setiap usaha proklamasi kemerdekaan murni diperjuangkan oleh keringat para pahlawan. Bangga banget, Guys!

Eits, itu kan versi para pejuang muda, ya. Nah, di sisi lain, Marsekal Terauchi di Dalat Vietnam mengundang para pejuang senior, nih, Guys. Tokoh-tokoh “tua” seperti  Ir. Soekarno, Moh Hatta dan Dr. Radjiman sengaja diundang dan Marsekal Terauchi mengatakan bahwa Jepang akan menghadiahkan kemerdekaan Indonesia sesuai dengan format desain yang telah disusun BPUPKI dan PPKI sebelumnya. Meskipun demikian, Jepang menghendaki kemerdekaan Indonesia baru dilangsungkan pada 24 Agustus 1945. Nah, loh!

Desakan Golongan Muda

Foto: galeribukujakarta.com

Beruntung sesampainya di Indonesia tepatnya tanggal 14 Agustus, Sutan Syahrir bersama para pemuda lain mendesak Ir. Soekarno dan Bung Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ir Soekarno dan para golongan tua kala itu masih ragu untuk memproklamasikan kemerdekaan sebab belum yakin: apakah Jepang benar-benar telah mengalami kekalahan? Sehingga Soekarno khawatir justru langkah proklamasi yang lebih dini dari keinginan Jepang ini akan berakhir dengan pertumpahan.

Pilihan Editor


Namun, Sutan Syahrir dan golongan muda pun telah mempersiapkan segala kemungkinan bahkan turut mendemonstrasikan simulasi ala-ala, Guys! Mereka meyakinkan dan mendemonstrasikan bagaimana pasukan yang sudah mereka bentuk nantinya akan mengawal prosesi proklamasi guna menghadapi kemungkinan terburuk yakni menghadapi gempuran tentara Jepang yang tak terima atas proklamasi mandiri yang dilakukan Indonesia.

Meski terkesan terlalu memaksakan diri dan gegabah yang merupakan sifat khas anak muda, namun peristiwa ini justru pada akhirnya berbuah manis. Bagaimana tidak, tanpa sikap keras kepala yang ditunjukkan golongan muda ini, tentu harga diri bangsa tak akan terselamatkan mana kala demi memproklamasikan kemerdekaannya, Indonesia menunggu dihadiahi bangsa lain. Dan, nggak okenya lagi kalau kita nyanyi: “Dua puluh empat Agustus tahun empat lima, Itulah hari kemerdekaan kita”. Nah ‘kan kepanjangan nggak enak nyanyinya, Guys. Hehe …

2. Tiang Bendera dari Batang Bambu dan Sang Saka Merah Putih yang Dijahit Tangan

Foto: jogja.tribunnews.com

Upacara bendera secara resmi dilaksanakan bangsa Indonesia pertama kali pada 17 Agustus 1945 di sebuah halaman agak luas di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Persiapan menuju upacara bendera tersebut bisa dibilang sangatlah mendadak dan penuh kesederhanaan. Bahkan Tiang bendera yang digunakan untuk mengibarkan sang Saka Merah Putih kala itu pun hanya terbuat dari batang bambu yang ditanam di tengah lapangan beberapa menit sebelum upacara proklamasi kemerdekaan dilangsungkan. Sedangkan Sang Saka Merah Putih yang kini disimpan di Musium Monas pun diselesaikan oleh Ibu Fatmawati semalam sebelum proklamasi dengan dijahit tangan! Ibu Fatmawati sampai begadang, loh, Takaiters. Hiks  ….

Warna merah dan putih sang Saka Merah Putih mungkin tidaklah secerah bendera merah putih yang kini berkibar di seluruh penjuru nusantara, namun begitu tinggi nilai historisnya. Peristiwa-peristiwa sederhana dalam mempersiapkan tiang bendera dari batang bambu dan Sang Saka Merah Putih yang dijahit tangan ini pun membungkus sejarah sakral upacara bendera yang dinanti-nantikan seluruh rakyat Indonesia selama lebih dari 300 tahun lamanya. (tissue mana tissue … #mewekbinmelow)

Naskah Asli Proklamasi yang Hampir Berakhir di Tong Sampah

Foto: Inilah.com

Tentu para pelaku sejarah yang ikut ambil bagian dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia tak berpikir terlalu jauh bahwa peristiwa yang tengah mereka lakonkan kelak akan begitu dikenang dalam sejarah perjuangan Indonesia. Makanya wajar, banyak dari mereka yang tak terpikirkan untuk mengabadikan setiap momen penting di hari itu. Yakali, Guys, belum ada FB dan Instagram apalagi tongsis buat selfie. Hehe …

Nah, saking tak terpikirkannya untuk mengabadikan tiap momen di hari itu, Bahkan naskah proklamasi yang dibacakan oleh Bapak Ir. Soekarno dan Moh. Hatta pun hampir saja terbuang ke tong sampah. Naskah asli itu sempat dibuang ke tong sampah setelah usai dibacakan karena toh dianggap tidak lagi terpakai sebab proklamasi telah dibacakan dan bahkan disiarkan melalui radio-radio yang berhasil direbut pejuang-pejuang di daerah. Namun, naskah asli proklamasi tersebut akhirnya terselamatkan oleh tangan seorang wartawan BM Diah. Wartawan tersebut memungut naskah asli proklamasi yang kala itu sudah  terbuang di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, tempat penyusunan strategi proklamasi kemerdekaan sejak sehari sebelum proklamasi. Sang wartawan pun menyimpan naskah asli tersebut sebelum akhirnya menyerahkannya kembali kepada pemerintah Indonesia setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan dan 19 hari. Syukur banget, ya, Takaiters. Satu saksi bisu sejarah besar negeri kita terselamatkan!

Unik banget ‘kan 3 fakta di atas?! Seunik cara kalian merayakan kemerdekaan! Selamat Hari merdeka, ya, Takaiters. Jangan lupa ikut lomba makan kerupuk dan lari kelereng, jangan malah lomba makan ati atau lari dari kenyataan, loh. Hihihi …