Tahukah kamu guys jika banyak sekali nilai-nilai moral dari bangsa kita yang bernilai tinggi di mata masyarakat dunia? Salah satunya adalah sifat kedermawanan, yang ternyata terbukti tidak tergantung pada tingkat kemajuan sebuah bangsa.

Hal iniĀ  didasarkan pada sebuah survei yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) pada tahun 2016 lalu. Berdasarkan survey tersebut, CAF menempatkan Myanmar sebagai negara paling dermawan. Sementara di posisi kedua bertengger Indonesia sebagai negara paling dermawan.

Survey tersebut meliputi sejumlah 139 negara di dunia, termasuk Indonesia. Di dalam survey tersebut dicari nilai tertinggi melalui tiga indikator yakni helping strangers (kerelaan menolong orang asing/belum dikenal), donate money (mendonasikan uang), dan volunteering time (meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan kerelawanan).

Hasil survey dari berbagai negara itu dituangkan dalam World Giving Index Report 2017, yang diterbitkan pada 6 September 2017. Di dalam report itu, CAF mencatat bahwa jika indeks pada tahun ini menunjukkan ada tren menurun tentang kedermawanan masyarakat dunia.

Bahkan di negara barat yang menempati posisi 20 besar, trennya juga menurun termasuk Asia. Menurut CAF, hanya negara-negara Afrika saja yang secara umum pada tahun ini menunjukkan tren peningkatan.

Tujuan dari diterbitkannya indeks ini menurut CAF adalah untuk menciptakan perilaku dermawan yang inklusif. CAF mencermati bahwa pada tahun 2030 dunia akan dihuni oleh 2,4 milyar penduduk, sehingga perilaku berkelanjutan sebagai masyarakat dunia seperti gemar memberi dan menolong menjadi faktor yang sangat penting.

“Tujuannya sederhana, adalah untuk memantik perdebatan dan mendorong orang, pengambil kebijakan dan masyarakat untuk berpikir tentang hal apa yang mendorong orang untuk memberi, dan memberikan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan budaya memberi di seluruh dunia,” ujar Executive CAF, Sir John Low.

Dalam laporan ini pula CAF menjelaskan bahwa akan terdapat dana yang besar bila dunia memiliki semangat untuk memberi. Indonesia sendiri dalam WGI 2017 ini menempati posisi kedua, dengan skor 46% untuk kemauan menolong orang yang asing.

Nilai ini dianggap meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski banyak kalangan menganggap budaya masyarakat Indonesia yang satu ini mulai memudar, nyatanya berdasarkan survey kerelaan masyarakat Indonesia untuk saling tolong menolong cenderung meningkat.

Sementara itu dalam indikator kemauan mendonasikan uang, Indonesia menempati peringkat dua dengan skor 79%. Nilai ini juga ternyata meningkat dari tahun sebelumnya. Angka ini setara dengan 146 juta jiwa penduduk Indonesia, sehingga Indonesia menempati peringkat dua dalam hal populasi yang mau mendonasikan uang.

Fenomena munculnya donasi daring seperti Kitabisa.com dan munculnya berbagai badan amal di Indonesia bisa jadi memberi pengaruh terhadap perilaku di dalam masyarakat Indonesia.

Kemudian untuk indikator terakhir, kemauan untuk meluangkan waktu melakukan kegiatan kerelawanan, Indonesia menempati peringkat pertama dengan skor 55%. Di bawah Indonesia muncul negara Kenya, Myanmar, Liberia dan Tajikistan. Skor ini dinilai mengalami peningkatan daripada tahun sebelumnya dan setara dengan 106 juta jiwa penduduk Indonesia.

Sebenarnya kegiatan volunterisme ini berakar dari budaya gotong royong nenek moyang Indonesia. Hanya saja bentuk kegiatan kerelawanannya saat ini sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan zaman dahulu. Inilah mengapa sekilas budaya gotong royong sudah punah dalam masyarakat kita, padahal bentuk kerelawanan saat ini banyak sekali macamnya, seperti menyelenggarakan even, menjadi aktifis kampanye tertentu, dan lain sebagainya.

Nah bagaimana? Meskipun Indonesia berada di peringkat dua dunia dalam hal kedermawaanan, tentu hal ini tetap saja membanggakan ya, karena ini berarti nilai sosial untuk saling berbagi di Indonesia masih terus tumbuh. Bukan begitu guys?