Melancong

Yuk Wisata Sejarah ke Monumen Kresek, Prasasti Pengingat Kekejaman PKI di Madiun!

Foto : 2.bp.blogspot.com

“JaSMeRah” – Jangan Sampai Melupakan Sejarah. Itulah pesan mantan presiden pertama RI, Ir. Sukarno agar kita senantiasa mempelajari masa lalu bangsa ini sehingga mampu memetik pelajaran berharga dari setiap peristiwa yang ada. Nah, wisata sejarah bisa jadi cara unik untuk menerapkan prinsip “JaSMeRah” sambil bertamasya bersama saudara atau teman. Salah satu wisata sejarah yang layak kamu kunjungi jika sedang berada di Madiun adalah “Monumen Kresek”.

Melirik Monumen Kresek di lokasi Tragedi Pemberontakan PKI

Prasasti pengingat kekejaman PKI di Madiun (Foto : 1.bp.blogspot.com)

Ya, bagi warga Madiun, salah satu potret sejarah yang tak boleh dilupakan adalah peristiwa pemberontakan PKI yang terjadi di Madiun pada tahun 1948 silam. Tragedi berdarah itu bermula dari sekelompok orang berideologi komunis – atheis (tidak Bertuhan) yang kala itu ingin memanfaatkan kelemahan Bangsa Indonesia karena baru saja memerdekakan diri dari Jepang maupun Belanda.

Pilihan Editor

Sekelompok pemberontak komunis tersebut lantas ingin mengubah NKRI menjadi negara Soviet Republik Indonesia melalui jalan pemberontakan. Peristiwa kekejaman PKI  tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk Monumen Kresek yang dibangun pada tahun 1987 dan selesai 4 tahun setelahnya serta diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, Bpk Soelarso pada tanggal 10 Juni 1991.

Lokasi Monumen Kresek

Lokasi Monumen Kresek (Foto : 2.bp.blogspot.com)

Monumen yang terletak 8 KM dari pusat kota Madiun tepatnya di Desa Kresek, Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun, Jawa Timur tersebut berdiri di tanah pemerintah seluas 3,3 Ha, area ini dulunya merupakan bekas rumah warga yang dijadikan PKI sebagai ajang pembantaian, warga sekitar dikurung di dalam rumah tersebut lalu rumah tersebut tersebut dibakar bersama warga yang ada di dalamnya. Begitu kejamnya para pemberontak atheis tersebut begitu membekas di hati masyarakat Madiun hingga kini.

Setiap kali kita mengunjungi Monumen Kresek maka kenangan – kenangan dan kebanggaan kita terhadap jasa para pahlawan bunga bangsa tersebut tentu akan langsung muncul. Oleh karenanya Monumen Kresek ini bisa menjadi salah satu lokasi wisata Kebangsaan, untuk mengingatkan kembali Peristiwa Madiun berdarah di awal-awal Kemerdekaan RI terutama kepada para generasi muda agar senantiasa membentengi diri dari usaha – usaha merongrong kedaulatan NKRI.

Diorama kisah yang menggambarkan bagaimana kejamnya PKI dalam membantai pejuang

Gambaran Monumen Kresek (Foto : 4.bp.blogspot.com)

Pada saat mengunjungi Monumen Kresek ini, kita akan disuguhkan diorama apik yang menggambarkan bagaimana kejamnya PKI dalam membantai pejuang – pejuang Pancasila dari kalangan TNI, Ulama, maupun warga sipil. Patung – patung dan relief menjadi saksi bisu yang menggambarkan betapa tak berperikemanusiaannya para pemberontak PKI dalam memperlakukan warga sipil, Kyai maupun anggota TNI kala itu.

Jika menyusuri Monumen dari depan, di pintu masuk kita akan langsung dihadapkan dengan relief lengkap dengan papan nama 17 korban keganasan PKI di Kresek. Di bawah Relief tersebut sebenarnya terdapat sumur yang dijadikan lokasi pembuangan korban dari keganasan PKI. Di sumur itulah mayat – mayat para korban ditemukan pertama kali. Sumur tersebut sudah ditutup dan dibangun relief di atasnya. Adapun gambar relief yang bertumpuk-tumpuk menggambarkan 17 korban yang diangkat dari sumur tersebut.

Nama-nama 17 korban PKI

Nama-nama korban PKI (Foto : kompasiana)

Adapun 17 daftar korban yang dibantai di Kresek ini diantaranya Kolonel Marhadi, Letkol Wiyono, May Istiklah, R.M. Sardjono (Patih Madiun), Kyai Husen (Anggota DPRD Kabupaten Madiun), Mohamad (Pegawai Dinas Kesehatan), Abdul Rohman (Assisten Wedono Jiwan), Sosro Diprojdo (Staf PG Rejo Agung), Suharto (Guru Sekolah Pertama Madiun), Sapirin (Guru Sekolah Budi Utomo), Supardi (Wartawan Free Lance Madiun), Sukadi (Tokoh Masyarakat), K.H Sidiq, R. Charis Bagio (Wedono Kanigoro), K.H. Barokah Fachrudin (Ulama), dan juga Maidi Marto Disomo (Agen Polisi).

Jika anda berkunjung ke alun – alun kota Madiun, maka anda akan menemukan patung Kolonel Marhadi berdiri tegak di bagian depan alun – alun dan tengah menghadap ke arah SMPN 2 Kota Madiun, Tempat pertama kali para pemberontak PKI memberondong senjata kepada para mas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Di SMPN 2 kota Madiun tersebut juga terdapat prasasti berupa tugu bertuliskan nama – nama korban penembakan PKI tersebut.

Patung Muso memenggal Kiai jadi spot utama di kawasan Monumen Kresek

Patung Muso (Foto : wikimedia.org)

Selain prasasti berupa nama – nama 17 korban keganasan PKI tahun 1948, di Monumen Kresek juga terdapat beberapa diorama dan patung – patung yang menggambarkan adegan selama peristiwa pemberontakan PKI yang begitu dramatis. Seperti adanya patung anak-anak yang menggambarkan anak-anak korban PKI yang menuntut bela kepada pemerintah RI agar menumpas habis kegiatan PKI di Kota Madiun.

Terdapat pula adegan bagaimana kejamnya Tokoh PKI, Muso memenggal kepala Kiai Husen yang diabadikan melalui patung besar di bagian paling atas Monumen. Kiai Husen sendiri adalah seorang kiai yang arif dan bijaksana, beliau sebagai anggota DPRD Kabupaten Madiun pada 1948.

Kemudian di sebelah barat bangunan Patung Muso terdapat relief yang menggambarkan proses pemberontakan yang dilakukan oleh PKI sekaligus proses penumpasannya oleh Divisi Siliwangi yang dipimpin oleh Kolonel Sadikin dan Divisi Jawa Timur (Jatim) dipimpin oleh Kolonel Sungkono. Atas penumpasan Divisi Siliwangi inilah, pemberontakan PKI bisa digagalkan sehingga Kemerdekaan Indonesia yang hingga kini dapat kita rayakan tetap dapat dipertahankan tanpa kurang suatu apapun.

Berkunjung ke Monumen Kresek layaknya mengunjungi masa lalu. Sebab setiap bagian di dalam Monumen Kresek sangat sarat akan makna dan cerita, bahkan tangga atau disebut juga Undak-undak masuk ke Monument Kresek pun juga memiliki makna yakni menunjukkan tanggal 17-8-1945 sebagai hari Kemerdekaan RI. Makna Undal – undak ini semakin mengukuhkan kesimpulan bahwa atas jasa para pahlawan yang gugur di lokasi tersebutlah, Kemerdekaan RI mampu tetap dipertahankan hingga detik ini.

Pelajaran Berharga di Balik Kengerian Monumen Kresek

Monumen Kresek bukti kekejaman PKI di Madiun (Foto : eastjava.com)

Adegan – adegan dan makna – makna yang tersirat dari setiap sudut Monumen Kresek tersebut telah menjadikan Monumen Kresek sebagai bagian dari sejarah kelam di masa awal kemerdekaan Indonesia. Namun demikian, keberadaan Monumen Kresek bukan sebagai pengingat akan kenangan buruk bagi warganya. Melainkan sebagai pembelajaran kita agar sekali – sekali tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan para pemberontak PKI.

Kita bisa mempelajari banyak hal selama berwisata sejarah di Monumen Kresek, salah satunya adalah bahwa NKRI harga mati yang tak bisa dirubah – rubah lagi. Jikapun terdapat pihak – pihak yang menginginkan robohnya NKRI, maka segenap anak bangsa akan berada di garda terdepan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan NKRI. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh para pahlawan – pahlawan korban kekejaman PKI di Madiun.

Lebih dari itu, Monumen Kresek bisa menjadi suntikan semangat kita para generasi masa kini untuk semakin giat mengisi kemerdekaan RI agar pengorbanan para pahlawan tersebut tak sia – sia. Selayaknyalah kita membalas budi baik mereka dengan senantiasa bersungguh – sungguh memanfaatkan nikmatnya kemerdekaan dan kedaulatan bangsa untuk hal – hal positif yang sarat manfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Populer

To Top