Heiyo, Takaiters!

Beberapa perusahaan otomotif besar nampaknya tengah mengikuti tren elektrifikasi transportasi. Hal ini dilakukan guna mengembangkan prospek kendaraan inovatif yang ramah lingkungan.

Meskipun tren ini bukanlah hal yang baru, beberapa pegiat dan pemerhati otomatif mulai kembali menguatkan wacana tersebut dengan memunculkan tren transportasi berkonsep e-wheel.

Tidak hanya instrumen transportasi roda empat saja yang menjadi fokus. Perusahan Mobil ternama seperti General Motors (GM), dan Ford bahkan ikut serta dalam tren elektrifikasi transportasi roda dua e-wheel berbentuk e-bike (sepeda listrik) dan e-scooter (skuter listrik).

Di luar itu, Uber yang merupakan salah satu perusahaan transportasi online berkonsep ridesharing, bergerak lebih gesit bersama Lyft, perusahaan yang disebut-sebut sebagai pesaing utama Uber.

Tren Potensial

Tren potensial untuk transportasi urban
Lalu Lintas. – Foto: Pexels

Dilansir Digital Trends  Senin (26/11/2018), Ford diketahui telah membeli perusahaan e-scooter, Spin. Berbeda hal dengan GM yang berinisiatif langsung untuk mendesain produk e-bike mereka sendiri.Sementara Uber dan Lyft, telah menawarkan layanan penyewaan e-wheel di beberapa tempat. Layanan yang diluncurkan Uber dan Lyft tersebut bakal bersa(nd)ing ketat dengan pemain utama dalam jasa penyewaan yang sama, seperti Lime, Bird, Skip,  JCDecaux, Migo, dan masih banyak lagi.

Apabila tren e-wheel meningkat, bukan tidak mungkin permintaan produksi sepeda listrik dan skuter listrik, maupun transportasi arus utama seperti motor dan mobil juga mengalami peningkatan.

Bukan tanpa alasan, jika melihat Xiaomi yang dikenal sebagai perusahaan smartphone juga ikut-ikutan memproduksi smart e-wheel, sekaligus menantang perusahaan-perusahaan sepeda yang mulai lebih dulu meluncurkan produk e-bike mereka.

Banyaknya perusahaan yang mulai menggerakan fenomena e-wheel ini, baik sebagai produsen ataupun dalam bentuk jasa penyewaan dinilai akan dapat mendorong target pertumbuhan elektrifikasi transportasi dalam skala global.

Terlebih lagi dalam hal menekan penggunana bahan bakar fosil (migas) agar beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan. Pertumbuhan transportasi yang beralih ke bahan bakar listrik akan membantu mengurangi ketergantungan kita pada BBM.

Bukan Hal Baru

Layanan transportasi berkonsep e-bike sharing
Layanan e-bike sharing JCDecaux. – Foto: Shared Used Mobility Center

Secara umum, fenomena kendaraan bertenaga listrik sendiri sudah menjalar ke berbagai kota di seluruh dunia, walaupun tingkatan pertumbuhan dan penerepannya berbeda di masing-masing negara. Seperti halnya Indonesia yang masih bisa dibilang: jauh tertinggal dibandingkan kota-kota besar di negara-negara lain.

E-wheel sendiri sangat diharapkan untuk membantu mobilitas publik yang serba online seperti saat ini. Ketersediaan perangkat dan menjamur jasa penyewaan dinilai akan memberikan pilihan jenis, serta konsep transportasi alternatif yang lebih bervariasi.

Selain ramah lingkungan, apabilia tren ini dibawa dalam kemasan bike-sharing seperti apa yang diusung perusahaan yang menginisiasikan transportasi online ridesharing; tentu akan membawa angin segar untuk wajah transportasi urban, tak terkecuali Indonesia.

Pertumbuhan kendaraan pribadi yang seolah tak terbendung, jelas menjadi momok besar bagi negeri ini. Polusi kendaraan dan kemacetan adalah hal yang perlu menjadi fokus pembenahan. Bukan hanya soal kebijakan publik yang diterapkan pemerintah, awareness dari masyarakat sendiri tentu diperlukan juga.

Mengacu pada masalah polusi yang bersumber dari asap kendaraan, elektrifikasi transportasi merupakan langkah potensial untuk konsisten diterapkan. Tidak perlu sampai menunggu penemuan ‘ajaib’ lain semcam kendaraan berbahan bakar air mineral dalam kemasan kuota internet, misalnya.

Konversi energi tidak akan selesai jika melulu dihadapkan pada mimpi yang sefuturistik itu. Keburu kepadatan polusi sepadan batu bata entar. Lama-lama mengendap, lalu jadi gedung pencakar langit. Kemajuan tidak selalu beririsan dengan kecepatan koneksi wifi.

Kemudian bagaimana dengan kemacetan? Ibarat kamar kost-an ukuran 3×3 yang diisi 10 orang saja, tentu bakal repot juga melangkahkan kaki untuk sekedar mengambil charger ponsel.

Kalaupun bicara soal ruas jalan, saya berani beradu lari dengan Lalu Muhammad Zohri di gang selebar pakaian berukuran M yang diapit tembok tinggi. Tentu dengan catatan, saya perlu start dari pole position. Karena, setahu saya Zohri adalah seorang sprinter, bukan atlet parkour.

Variasi Alternatif

Transportasi urban semakin variatif berkat kehadiran e-scooter sharing
Salah seorang pengguna layanan e-scooter dari Spin. – Foto: USA Today

Kendaraan pribadi yang kerap kali ‘hanya’ diproyeksikan sebagai instrumen pelengkap ‘identitas’ seharusnya malu kalau dalam realitasnya sehari-hari sering kena overlap oleh para pejalan kaki, sepeda ontel, sampai gerobak abang-abang tukang bakso.

Untuk memberangus kedua momok tersebut, transportasi publik merupakan salah satu premis paling bengis sebagai konsep “anti-macet”. Ditambah dengan sentuhan yang ramah lingkungan. Sementara, kemasan online menentukan kemudahan aksesibilitas sistem.

Posisi dari fenomena e-wheel dengan konsep e-bike sharing sendiri sebenarnya tidak terlalu signifikan. Karena desain konvensionalnya alias sepeda kayuh, memang sudah terlahir ramah lingkungan, walaupun sedikit kejam terhadap kalori.

Satu hal yang paling dekat adalah: sepeda listrik menggoda masyarakat yang kebetulan sedang atau memang malas jalan kaki. E-wheel akan menjadi pilihan alternatif masyarakat selain sepeda motor atau mobil, terlebih jika itu adalah kendaraan pribadi.

Dalam penerapannya, kita bisa mencontoh kota Shenzen, Tiongkok yang pada akhir 2017 lalu telah menerapkan 100 persen bus kota berbahan bakar listrik yang ramah lingkungan. Setidaknya, ada sekitar 16.359 armada bus listrik yang beroperasi di sana.

Kehadiran bike-sharing berbasis aplikasi (online) yang tersedia di dekat halte membantu mobilitas penumpang bus kota karena bisa menjadi transportasi penyambung dari atau menuju ke halte lainnya. Dengan begitu, sekali kayuh ‘dua-tiga pulau’ terlampaui.

Transportasi baik publik (massal) maupun transportasi dari perusahaan penyedia, perlu mencontohkan hal baik dengan tidak menyakiti lingkungan, sekaligus memberikan value yang bisa dipertimbangkan dengan kepentingan penggunanya. Mulai dari keamanan, kenyamanan, tarif, aksesibilitas, hingga pada kemudahan sistem dan kualitas layanan.

Ada Harapan

Bike-sharing, harapan untuk atasi kemacetan transportasi perkotaan Bandung
Proses penggunaan layanan bike-sharing besutan Boseh. – Foto: Boseh Bike

Dalam hal kendaraan ramah lingkungan, karya dalam negeri sebenarnya telah memperlihatkan harapan melalui hadirnya Motor GESITS yang merupakan motor listrik hasil kolaborasi PT. Garasindo Surabaya dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Sebelum kemunculan GESITS, Viar Motor Indonesia menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan motor listrik Viar Q1. Berbeda dengan GESITS, Viar Q1 sudah resmi mengaspal sejak tahun 2017.

Geliat fenomena bike-sharing juga sudah terlihat di beberapa kota di Indonesia. Pada awal 2018, oBike resmi berekspansi ke Indonesia. Startup penyewaan sepeda (bike-sharing) asal Singapura tersebut menyusul Banopolis, startup tuan rumah yang memperkenal “Boseh” di kota Bandung dan “Spekun” untuk sekitaran kampus Universitas Indonesia (UI).

Berbeda dengan Banapolis dan oBike, Migo menghadirkan penyewaan sepeda listrik. Konsep yang diusung Migo menjadikan mereka sebagai penyedia e-bike sharing pertama, sekaligus satu-satunya di Indonesia. Setidaknya, untuk sementara.

Polusi kendaraan dan kemacetan akan sangat menarik apabila dilihat sebagai dua sisi yang berdekatan. Bubarkan macet, bebaskan polusi sekalian. Transportasi urban sudah selayaknya punya kepercayaan diri untuk mewujudkannya. Menurut Takaiters sendiri, bagaimana?