Hai, Takaiters!

Mumi adalah salah satu cara untuk mengawetkan jenazah. Jenazah yang diawetkan dahulunya adalah orang yang berkuasa dan berpengaruh, seperti raja. Mumi yang terkenal berasal dari Mesir, yaitu, mumi dari raja Fir’aun.

Ternyata, Guys, di Indonesia, ada daerah yang memiliki tradisi mengawetkan jenazah. Pengawetan jenazah tersebut dengan tujuan berbagai macam alasan. Daerah manakah di Indonesia yang memiliki tradisi, mengawetkan jenazah Ini? Ayo simak di bawah ini:

1. Papua, Mumi Suku Moni

Mumi Suku Moni [image source]
Foto: boombastis
Mumi suku Moni ini bernama Belau Mala. Belau Mala dijadikan mumi karena dianggap sangat berjasa, mengantarkan misionaris dengan selamat. Proses pemumian suku Moni ini dengan melumuri jenazah dengan minyak babi di seluruh tubuh, kemudian jenazah ditaruh di atas perapian hingga akhirnya mengering dan tidak membusuk

2. Kampung Wolondopo, Nusa tenggara Timur

mumi Wolondopo [image source]
Foto: indopos.co.id
Kampung Wolondopo adalah salah satu kampung di Nusa Tenggara Timur. Di kampung ini terdapat sebuah bangunan yang berisi sebuah mumi yang awet secara alami. Mumi yang dikenal dengan nama Kaki More ini tidak pernah mengalami pembalsaman.

Kaki More adalah seorang ketua adat, berpesan saat ia meninggal tidak dikuburkan. Ia hanya di masukkan dalam sebuah peti, kemudian jasad Kaki More mengering dengan sendirinya. Mumi Kaki More berbaring miring, dengan sekujur badannya dibungkus kain bermotif batik.
Hingga saat ini mumi Kaki More dapat dikunjungi para wisatawan, dan terbuka untuk umum.

3. Papua, Mumi Suku Dani

Gambar terkait
Foto; Getty Images

Mumi suku Dani ini dalam posisi duduk, kepala mendongak keatas dan mulut terbuka.Ia dahulu adalah kepala suku. Proses pemumian dengan cara dijemur dan disimpan dalam gua. Setelah agak kering mumi ditaruh di atas perapian, lalu ditusuk dengan tulang babi agar menghilangkan lemak, sehingga lambat lain mumi akan mengering dan menghitam dengan sendirinya.

4. Sulawesi Selatan, Mumi suku Toraja

Gambar terkait

Suku Toraja yang terdapat di Sulawesi Selatan, mempunyai tradisi mengawetkan mayat sebelum dikubur di liang batu yang berada di bukit-bukit berbatu. Jenazah diberi ramuan khusus agar tidak membusuk. Sebelum keluarga memiliki dana yang cukup besar untuk mengadakan upacara penguburan di bukit berbatu, jenazah ditaruh dan ditidurkan di dalam rumah layaknya masih hidup.

Masyarakat Toraja menganggap jenazah yang belum dikubur masih berstatus seperti orang sakit, maka masih diberi makan, rokok, atau yang menjadi kebiasaannya sewaktu masih hidup.
Setelah keluarga memiliki dana yang cukup besar untuk mengadakan pemakaman dibukit batu, maka diadakan upacara disebut dengan rambu Solok.

Upacara mengawetkan jenazah di Indonesia ini adalah salah satu cara untuk menghormati para leluhur yang telah banyak melakukan kebaikan. Selain itu, agar masih dapat disaksikan oleh anak cucu mereka. Menarik ya, Guys.