Halo, Takaiters!

Umumnya, anak muda masa kini hanya mengenal kain wastra Nusantara sekilas saja. Itu pun hanya terbatas pada kain batik, ulos, dan songket. Padahal, Indonesia memiliki banyak kain Nusantara yang menarik. Tidak hanya bentuk fisiknya yang indah, setiap kain dari penjuru Indonesia memiliki makna luhur tertentu.

Kain tenun Dayak menjadi atribut yang wajib dikenakan  oleh masyarakat Dayak pada berbagai kesempatan formal, seperti pernikahan dan upacara adat lain. Setiap pria dan wanita Dayak memakai motif tenun yang unik dan beragam. Bahkan sering diadakan transaksi jual beli kain tenun sebelum sebuah acara dimulai.

Adapun ciri khas dari tenun Dayak adalah motif manusia yang sebut mansia. Namun untuk saat ini, motif tenun ikat Dayak lebih ke alam seperti tanaman yang mirip dengan pucuk rebung dan hewan seperti ular, biawak dan naga. Pucuk rebung atau pakis menandakan kesejahteraan, rezeki dan kebaikan dari dewa.

Setiap motif dari kain tidak boleh ditenun sembarangan lho, guys! Buktinya, ada kepercayaan bahwa setiap penenun harus mendapatkan mimpi terlebih dahulu. Jika tidak mendapatkan mimpi, mereka tidak bisa membuat kain, atau tidak dapat menyelesaikan tenun baru.

Ada juga pantangan yang menyebutkan bahwa tenun tidak boleh dibuat ketika ada sanak saudara yang meninggal. Konon kabarnya, pelanggaran perintah ini akan menyebabkan adanya anggota keluarga yang jatuh sakit.

Memang ada kesan magis yang seolah menyelimuti kain tenun khas suku Dayak, yang tentu menambah daya tarik pada kain tersebut.

Pilihan Editor



Selain keindahan motifnya, keunggulan dari tenun Dayak adalah minimnya penggunaan bahan yang mengeksploitasi alam secara berlebihan. Warna asli tenun suku Dayak berwarna lembut, karena pembuatan kain menggunakan bahan baku dedaunan.

Contoh bahan baku, misalnya, daun tengkawang yang sudah gugur diolah, dimasak, dan direndam benangnya. Ada lagi yang menggunakan beting, angker bay dan juga rengat, angkabang dan lainnya.

Dengan kata lain, tenun Dayak menggalakkan isu penghijauan yang masih berjuang mendapatkan tempat di kalangan pemerhati tanah air.

Salah satu tenun Dayak yang terkenal adalah tenun Doyo. Tenun ini berbahan baku daun doyo yang mirip dengan daun pandan. Serat tanaman doyo akan diolah menjadi bahan utama pembuatan tenun.

Dalam perkembangannya, banyak masyarakat Dayak yang mulai menggunakan pewarna buatan. Banyaknya permintaan warna cerah dari Malaysia membuat warna-warni tenun Dayak semakin bervariasi.

Sayangnya, tidak banyak generasi muda Dayak yang tertarik melestarikan kain tenun. Padahal, jumlah penenun semakin langka.

Transfer ilmu yang kurang memadai agaknya menjadi kendala. Itulah mengapa, perlu ada dokumentasi yang lebih memadai, seperti kumpulan foto dan buku yang membahas segala hal tentang tenun khas Dayak.

Nah, tertarik untuk mengoleksi tenun Dayak?