ibukota pindah ke palangkaraya
Artikel

Sulap Palangkaraya jadi Ibukota Indonesia, Mimpi Soekarno yang Bakal Terwujud

Foto : indoindians.com

Wacana pemindahan ibukota negara ke Kota Palangkaraya baru-baru ini kembali digulirkan, wacana tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini berkaitan dengan beban ibu Kota Jakarta saat ini yang dianggap sudah sangat terbebani sebagai pusat perdagangan dan juga pemerintahan. Belum lagi masih banyak masalah-masalah lain yang sering melanda ibukota Jakarta seperti kemacetan, banjir, dan abrasi oleh air laut.

Pemindahan ibukota negara ke Palangkaraya diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi II DPR yang membidangi masalah pemerintahan, Teguh Juwarno beberapa waktu. Ia menganggap wacana tersebut bukanlah ide yang baru, melainkan sudah ada pada masa pemerintahan presiden pertama Indonesia yakni Soekarno.

Tetapi hingga saat ini wacana tersebut belum terealisasikan, banyak kalangan menilai pemindahan ibukota negara perlu pengkajian yang sangat mendalam dari segi pendanaan, letak geografis, dan faktor pengadaan barang dan medannya. Tapi kamu tahu nggak? Kenapa Kota Palangkaraya yang layak menjadi pengganti ibukota Indonesia yang baru. Yuk intip 4 alasan logis mengapa Kota Palangkaraya layak menjadi ibukota negara Indonesia.

Tidak adanya gunung api sehingga membuat Kota Palangkaraya relatif aman dari ancaman gempa bumi

Sejak ditetapkan sebagai ibukota Kalimantan Tengah pada tahun 1957, kala itu Presiden Soekarno memiliki rencana untuk membangun dan mengembangkan ibukota Kalimantan Tengah tersebut yang menjadi ibukota masa depan negara Indonesia.

Selain itu Kota Palangkaraya juga memiliki letak geografis yang bagus yakni jauh dari daerah batas konvergen tektonik, yang dianggap relatif aman dari ancaman bencana gempa bumi. Hal ini juga diperkuat, bahwa Kota Palangkaraya tidak memiliki gunung api, berbeda halnya seperti Pulau Jawa yang banyak memiliki gunung-gunung api aktif dan tentunya rawan akan ancaman gempa bumi.

Luas Kota Palangkaraya jauh lebih luas dibandingkan Jakarta

Kota Palangkaraya merupakan ibukota impian Bung Karno kala itu, dimana Kota Palangkaraya memiliki luas sekitar 2.678,51 kilometer persegi, bandingkan saja dengan ibu kota Jakarta saat ini hanya memiliki luas 661,52 kilometer persegi. Namun, pada masa pemerintahan Bung Karno kebijakan pemindahan ibukota negara ke Palangkaraya gagal, lantaran terkendala faktor pengadaan barang dan medan.

Pilihan Editor

Ibukota yang baru idealnya harus diluar Pulau Jawa dengan tujuan agar perekonomian menjadi merata

Wacana pemindahan ibukota negara keluar Pulau Jawa, lebih ditekankan kepada daerah-daerah yang relatif aman dari ancaman bencana alam, seperti diketahui Pulau Jawa dipenuhi gunung-gunung masih aktif yang rawan menimbulkan ancaman gempa bumi.

Selain itu, wacana pemindahan ibukota negara keluar Pulau Jawa juga harus melihat ketersediaan lahan atau tanah yang harus dikuasai oleh pihak negara, agar tidak perlu lagi mengurus masalah-masalah seperti pembebasan lahan lagi. Dengan pemindahan ibukota negara diluar Pulau Jawa diharap sistem perekonomian bisa merata, dimana selama ini sistem perekonomian hanya berpusat di Pulau Jawa saja.

Jakarta dinilai sudah terlalu padat, yang disebabkan banyaknya masyarakat dari berbagai daerah menetap disana

Seperi diketahui Jakarta merupakan kota terpadat di Indonesia, selain sebagai pusat perdagangan, Kota Jakarta saat ini juga mengemban beban sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Daya dukung Jakarta sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan, dianggap sudah tidak mampu lagi memikul beban tersebut dalam 20 tahun kedepan, dan Kalimantan Tengah dianggap mampu dan siap menjadi pusat pemerintahan baru di Indonesia.

Wacana pemindahan ibukota negara Indonesia ke Palangkaraya masih sebatas opini saja, hal ini dikarenakan butuh pengkajian sangat mendalam untuk menentukan kota-kota mana saja yang paling siap untuk menjadi pusat pemerintahan baru di Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Populer

To Top