Hai, Takaiters!

Pulau Lombok masih saja berduka. Ujian dari-Nya belum juga selesai. Setelah satu minggu yang lalu diguncang gempa berkekuatan 6, 4 SR dan minggu kemarin, 5 Agustus 2018 gempa yang lebih keras terjadi lagi dengan kekuatan magnitudo 7 Skala Richter (SR).

Dilansir dari BBC.com, setidaknya 44 orang meninggal dunia dan lebih dari 50 luka-luka hingga dini hari pukul 03.00 WITA. Belasan gempa susulan masih terjadi dan dipastikan kondisi gelap gulita karena listrik padam masih berlangsung di kota Mataram hingga 4 jam pasca gempa. Bahkan di wilayah Lombok Utara dan Lombok Timur dimana pusat gempa terjadi, sitiuasi masih gelap mencekam dan belum seluruh korban dapat dievakuasi.

Hal ini sedikit mengingatkan penulis akan dahsyatnya gempa di Yogyakarta 12 tahun silam, tepatnya pada 27 Mei 2006. Meski jauh berbeda jika dilihat dari jumlah korban, di mana gempa Yogya menimbulkan lebih dari 5000 korban jiwa meninggal dunia, namun sebenarnya ada beberapa persamaan antara gempa Lombok dan gempa Yogya. Baca yuk, Guys!

Gempa Lombok dan Yogya, keduanya termasuk dalam jenis gempa dangkal 

Gempa jogja 2016 (Foto: news.okezone.com)
Gempa Lombok berpusat di kedalaman 15 km dari permukaan tanah, di mana lokasi pusat gempa ada di darat dari arah barat laut Kabupaten Lombok Timur. Sementara pusat gempa Yogya berada di arah selatan-barat daya Yogyakarta, dengan kedalaman pusat gempa 11,3 kilometer dari permukan tanah.
Secara teori, pusat gempa yang berada di bawah area 30 kilometer dari permukaan tanah termasuk gempa dangkal dan berpotensi menimbulkan kerusakan lebih parah.

Keduanya terjadi akibat pergeseran lempeng patahan (kerak bumi)

gempa lombok pergeseran lempeng patahan kerak bumi (foto:merdeka.com)

Menurut Kepala BMKG Pusat, Prof Ir. Dwikorita Karnawati, Pulau Lombok diapit oleh dua generator pembangkit gempa, yaitu patahan Laut Flores di sebelah utara, dan tumpukan lempeng Samudera Indo-Australia di selatan pulau Lombok, tepatnya di Samudera Hindia. Penyebab terjadinya gempa Lombok tahun ini adalah akibat pergeseran salah satu lempeng tersebut, yaitu patahan di Laut Flores.

Hal ini hampir sama dengan kondisi yang menjadi pemicu gempa Yogya tahun 2006 silam.

Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk dalam jalur yang dilalui dua patahan, yaitu patahan atau sesar Opak yang berpusat di daerah Pundong, Bantul, dan patahan pertemuan lempeng Eurasia dengan Indo Australia, yang terletak 300 kilometer dari Pantai Selatan. Dan gempa tahun 2006 lalu diakibatkan oleh bergesernya salah satu lempeng tadi, yaitu patahan Opak.

Situasi mencekam karena berpotensi tsunami, dalam kondisi aliran listrik terputus, dan tak ada jalur komunikasi

Situasi mencekam karena berpotensi tsunami (Foto: tekno.tempo.co)

Sebagai salah satu saksi mata gempa Yogya 5, 8 Skala Richter tahun 2006 silam, penulis sangat mampu merasakan apa yang dirasakan warga Lombok ketika bencana gempa terjadi saat ini.

12 tahun lalu, saat bumi Yogya bergoncang, kondisi perabotan tumpah ruah, bahkan penulis sempat beberapa kali terjatuh dan menabrak pintu yang sulit dibuka karena goncangan yang sangat keras. Aliran listrik langsung terputus, demikian pula saluran komunikasi tidak dapat digunakan. Hal ini mengakibatkan kepanikan luar biasa, terutama dari keluarga di luar kota yang tidak dapat menghubungi kami dalam waktu beberapa jam ke depan. Terlebih saat dikabarkan gempa Yogya berpotensi tsunami, maka berduyun-duyun masyarakat di sekitar wilayah Yogya selatan mengungsi ke arah utara yang lebih tinggi. Sebaliknya, kami yang berada di wilayah utara justru berebut mengungsi ke selatan untuk menghindari gunung Merapi yang saat itu juga sedang erupsi. Jalan raya penuh dengan masyarakat dan kendaraan yang tumpah ruah ke jalan

Luar biasa mencekam, Guys! Tapi selalu ada hikmah dibalik setiap ujian dan bencana.

Gempa bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Justru kita harus berusaha bersahabat dengannya dan terus belajar mencari solusi bagaimana agar kerusakan yang terjadi selalu dapat diminimalisir dari waktu ke waktu.

Stay safe, ya, Guys! Dan selalu berdoa untuk keselamatan kita.