Akhir-akhir ini, semua mata di dunia terbelalak kaget dengan terjadinya tragedi kemanusiaan di salah satu negara di Asia. Perang saudara yang berlatar masalah SARA memang rentan terjadi di manapun. Ketika tidak ada pihak yang mampu meredam ego, hal itu akan melahirkan tragedi yang pasti membekas luka pada semua korban, yang parahnya tidak semuanya memahami benar bagaimana semua kehidupan dan masa depan direnggut dari mereka secara tiba-tiba.

Bagi negara kita tercinta, adalah sebuah kewajiban untuk mengulurkan tangan menolong mereka. Bukan saja karena minoritas penduduknya memiliki keyakinan yang sama, namun karena di dalam Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa ikut menjaga perdamaian dunia merupakan kewajiban bagi bangsa Indonesia. Kewajiban ini salah satunya diterjemahkan dengan membantu warga belahan dunia lain yang sedang berkabung luka akibat tragedi kemanusiaan.

Lalu tahukah kamu guys, jika menolong muslim Rohingnya itu bukan yang pertama kali yang dilakukan Indonesia? Jauh sebelumnya telah banyak manusia perahu akibat konflik di negaranya yang datang ke Indonesia. Mereka masuk ke Indonesia melalui perairan Aceh Utara, Gunungkidul Yogyakarta, Berau Kalimantan Timur, Pulau Lay Nusa Tenggara Timur, dan lainnya. Meski dalam jumlah kecil dan tidak terlalu disorot dunia, Indonesia merawat mereka sebagaimana mestinya. Yang terbesar saat itu adalah para pengungsi dari Vietnam, yang menetap untuk beberapa saat di Pulau Galang.

Di awal 1990-an, ribuan warga Vietnam pernah terdampar di sekitar Kepulauan Riau. Pemerintah dan warga Indonesia kemudian menyelamatkan dan membawa mereka ke darat. Banyaknya jumlah pengungsi saat itu membuat tempat pengungsian sementara yang ada menjadi tak lagi layak, sehingga kemudian dengan bantuan badan PBB yang mengurusi pengungsi (UNHCR), Indonesia membangun sebuah komplek pemukiman terpadu.

Dalam kawasan ini, dibangun barak mukim yang lebih memadai, tempat ibadah seluruh agama sebagaimana yang dianut para pengungsi, rumah sakit, sekolah, dapur umum, hingga penjara dan pemakaman. Para pengungsi diberi makanan dan pakaian yang baik, anak-anak disekolahkan, yang sakit dirawat, yang melakukan kejahatan dipenjarakan, yang meninggal dimakamkan dengan sangat layak. Tercatat sebanyak 250 ribu jiwa pengungsi pernah menetap di sana.

Komplek pengungsian ini terletak di Pulau Galang, sebuah pulau kecil di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Dari Pulau Galang inilah Indonesia pernah menggalang dukungan global untuk ikut berkontribusi dalam perdamaian dunia, dengan merawat kemanusiaan. Hingga kini, saksi sejarah yang menegaskan peran Indonesia tersebut masih dirawat dengan baik. Banyak wisatawan datang untuk mempelajari sejarahnya, banyak pula warga Vietnam yang berkunjung untuk mencari jejak keluarganya.

Kemudian pada pertengahan 2015, Indonesia kembali kedatangan ratusan manusia perahu asal Rohingya, dan terus bertambah hingga akhir 2016 lalu. Dengan sigap bersama berbagai kelompok masyarakat, Indonesia menampung dan merawat mereka. Setidaknya hingga mereka sehat, mendapat hak atas kehidupan dasar layak, memulangkan mereka ketika negara asalnya sudah aman, atau memastikan mereka mendapat suaka di negara lain.

Kemudian pada saat Rakhine State District di Myanmar kembali bergejolak pada 2017, pemerintah RI dengan tegas mengecam tragedi yang menewaskan ratusan etnis Rohingya tersebut. Pemerintah segera mengirim menteri luar negerinya untuk melakukan pembicaraan dengan pengambil kebijakan di Myanmar. Tentu saja langkah cepat pemerintah ini mendapat sorotan positif dari berbagai belahan dunia.

Lalu sementara itu di ranah kehidupan sosial, masyarakat Indonesia berinisiatif untuk menggalang pengumpulan dana sumbangan. Dana kemanusiaan swadaya masyarakat ini disalurkan melalui beberapa lembaga kemanusiaan yang nantinya akan digunakan untuk membeli makanan, pakaian dan obat untuk dikirim ke Rakhine. Proses pengiriman melibatkan pemerintah Myanmar dengan dukungan dari Palang Merah Internasional tentu saja.

Masyarakat muslim Indonesia yang merasa memiliki kepentingan paling tinggi karena adanya persamaan keyakinan pun melakukan unjuk rasa dengan damai di beberapa wilayah di Indonesia. Mereka sangat memahami, pentingnya berunjuk rasa tanpa melakukan kekerasan. Ketika menyampaikan keprihatinannya atas krisis Rakhine, pengunjung rasa lakukan aksi damai yang menuntut penghentian persekusi terhadap etnis Rohingya. Aksi demikian diharap mampu mendorong pemerintah Myanmar untuk “mendengar” suara berbeda.

Tidak hanya itu saja, para netizen juga diajak untuk mendeteksi berbagai berita bohong yang muncul terkait pemberitaan krisis Rakhine. Netizen Indonesia diminta melawan pemberitaan salah terkait hal itu, demi membantu publik dunia agar mampu berpikir jernih atas kondisi yang sedang dihadapi Rakhine dan Myanmar saat ini.

Semoga informasi ini bermanfaat.