Halo, Takaiters!

Sejarah Indonesia menyebutkan nama “MASTRIP” dalam beberapa lembarannya. Tapi, pernahkah kamu mendengar istilah atau sebutan “Mastrip” tersebut? Atau mungkin di kota tempatmu tinggal ada setapak jalan bernama “Jalan Mastrip”? Sayangnya generasi millenial masa kini banyak banget yang mulai lupa dengan sejarah bangsanya sendiri.

Salah satunya sejarah Mastrip! Padahal sejarah Mastrip ini penuh dengan cerita heroik anak-anak muda berstatus pelajar di zamannya. Hah? Serius masih pelajar udah ikut angkat senjata? Yup … Kamu nggak salah dengar, Guys. Mereka ini anak-anak muda se-usia SMP-SMA yang rela jadi Tentara Pelajar demi mempertahankan NKRI di awal masa kemerdekaan Indonesia, keren!

Kisah kepahlawanan TRIP di Eks-Karesidenan Madiun

Foto: djogja1945.blogspot.com

Meskipun sejarah Hari Pahlawan yang biasa kita rayakan setiap tanggal 10 November muncul karena latar belakang sejarah perjuangan “Arek-arek Suroboyo”. Namun sebenarnya, semangat dari perayaan Hari Pahlawan juga ditujukan untuk mengenang seluruh pahlawan Indonesia dari berbagai latar sejarah perjuangan yang mereka emban masing-masing.Baik  pada era Perjuangan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia melawan Belanda dan Jepang, maupun di era mempertahankan kemerdekaan dari serangan Agresi Militer Belanda. Serta serangan pemberontakan dari dalam, seperti Pemberontakan PKI 1948 dan 1960.

Wilayah bekas atau “eks”-Karesidenan Madiun juga memiliki kisah-kisah kepahlawanan yang tersaji dalam bingkai sejarah perjuangan maupun pertahanan kemerdekaan yang juga tak kalah heroik.

Diantaranya yakni kisah kepahlawanan yang ditunjukkan oleh para pemuda-pemudi yang tergabung dalam “TRIP” alias Tentara Republik Indonesia Pelajar. Terutama yang berasal berbagai daerah seperti Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan, dan lain sebagainya.

Sejarah panggilan Mastrip untuk para pemuda heroik

Sejarah panggilan Mastrip
Foto: djogja1945.blogspot.com

Ya, mereka adalah pahlawan-pahlawan muda yang usianya masih sangat belia. Masih berstatus pelajar, namun semangatnya membela tanah air tak pernah diragukan oleh sejarah. Bahkan karena usia mereka yang masih sangat belia, dan karena para TRIP ini banyak didominasi oleh anak laki-laki, maka banyak masyarakat memanggil mereka dengan sebutan “MAS-TRIP”.

Mas adalah sapaan umum untuk lelaki muda. Sebutan ini populer di Jawa Timur dan biasa ditujukan bagi mereka yang lebih tua. Untuk menghargai keberanian para pemuda ini, masyarakat memanggil para pelajar anggota TRIP ini dengan sebutan Mas. Jadilah sebutan MASTRIP akhirnya populer di masyarakat.

Kelahiran Mastrip juga dibidani peristiwa 10 November 1945 di tanah Surabaya

Foto: kabarblitar.com

Sejarah mencatat nama-nama mereka sebagai pahlawan bunga bangsa yang rela mengorbankan harta benda, jiwa, bahkan nyawanya untuk negeri yang mereka cintai, meski kedewasaan belumlah terpancar dari fisik mereka.

Nama MASTRIP pun diabadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Madiun, tempat dimana monumen MASTRIP didirikan. Bagi mereka yang awam, mungkin mengira bahwa Jln. MASTRIP di Madiun adalah nama dari seorang pahlawan, mengingat lokasi jalannya berada di wilayah jalan dengan nama-nama para pahlawan.

Lahirnya MASTRIP juga banyak dipengaruhi oleh sejarah hari pahlawan tanggal 10 November 1945. Sejarah dimulai melalui siaran RRI di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Padang, termasuk Surabaya. Semangat para pemuda menggelora memelopori perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Bertepatan dengan peristiwa Pidato Ir. Sukarno di lapangan IKADA Jakarta pada tanggal 19 September 1945, di Surabaya terjadi sebuah insiden perobekan bendera Belanda. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Insiden Hotel Oranye di jalan Tunjungan.

Pada pertengahan Oktober hingga akhir November 1945, terjadi pertempuran heroik arek-arek Surabaya yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Sejak peristiwa itu, banyak terbentuk laskar-laskar pemuda. Tidak ketinggalan para siswa membentuk kesatuan-kesatuan tentara pelajar yang kemudian tergabung dalam Brigade XVII. Diantaranya TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), TGP (Tentara Genie Pelajar), TP (tentara pelajar). TRIP sendiri berasal dari kelompok BKR Pelajar, yang dibentuk pada 22 Agustus 1945. BKR Pelajar dikenal juga dengan nama EX BRIGADE 17 Tentara Pelajar. Sedangkan pihak VOC Belanda biasa menyebut mereka dengan Die Kleintjes TRIP.

Usia anggota TRIP yang masih sangat muda

Foto: djogja1945.blogspot.com

Usia rata-rata anggota TRIP yakni antara 12 hingga 20 tahun. Benar -benar masih belia untuk ukuran para tentara tentunya. Mereka memang masih sangat muda dan tentunya bukan pasukan profesional terlatih. Namun, satu hal yang perlu diapresiasi dari TRIP adalah keberanian dan kegigihan mereka dalam membela tanah air.

Markas TRIP di Eks-Karesidenan Madiun Jawa Timur

Foto: yoniflinud501.blogspot.com

TRIP ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia yang dahulunya berbentuk residen. Salah satu markas TRIP di Jawa Timur berada di eks-Karesidenan Madiun yakni di gedung SMPN 2 Kota Madiun. Letak SMPN 2 Madiun ini berdekatan dengan pasar kawak sehingga dahulu masyarakat setempat lazim menyebutnya dengan sebutan SMP Pasar Kawak.

Pada zaman penjajahan Belanda, di Kota Madiun hanya ada sekolah setingkat SMP yakni MULO (Meer Uidgebreide Onderwij) yang berada di Jalan Pengadilan sekarang Jalan Kartini. Setelah kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, Pemerintah Kota Madiun berhasil mendirikan sebuah SMP baru yang dinamai SMP Kota.

Gedung SMP Kota menempati bekas gedung HCS (Hoolandch Chinnessch School) sekolah yang hanya untuk orang Belanda dan China. Berdirinya gedung SMP Kota merupakan kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Karesidenan Madiun, sebab kesempatan untuk menuntut ilmu terbuka lebar walaupun belum bisa menampung semua lulusan Sekolah Rakyat (SR) pada waktu itu.

SMP Kota akhirnya diambil alih oleh kementrian P dan K pada tanggal 17 Agustus 1946. Kemudian diganti nama menjadi SMP 2 Madiun. Pada perkembangan selanjutnya Wali Kota Madiun mengizinkan gedung SMP 2 menjadi markas bagi TRIP bahkan saat itu muncul sebutan baru bagi SMP 2 yaitu SMP PERTAHANAN. Dikarenakan sebagian besar siswanya adalah anggota TRIP yang berjiwa patriot untuk mempertahankan kemerdekaan RI, bertempat tinggal, belajar sambil berjuang angkat senjata.

Kisah heroik Mastrip VS PKI di Madiun

sejarah mastrip
Foto: djogja1945.blogspot.com

Sebagai markas TRIP, gedung SMPN 2 Madiun pernah menjadi saksi bisu kisah heroik gugurnya Pelajar Moeljadi oleh Pasukan Pesindo (pendukung PKI Muso).

Pada saat itu para pelajar TRIP yang bermarkas di gedung SMP 2 Madiun menjadi incaran para pemberontak PKI yang hendak merongrong kedaulatan NKRI di karesidenan Madiun. Markas MASTRIP di SMP 2 Madiun menjadi incaran utama, karena SMP Pertahanan inilah yang menjadi salah satu pertahanan utama bagi wilayah karesidenan Madiun.

Oleh karenanya, para pemberontak PKI yang tak berhati nurani tersebut menjadikan markas MASTRIP sebagai incaran serangan pertama sebelum memulai pemberontakan mereka di Madiun. Serangan ini bisa disebut serangan fajar dalam artian sebenarnya, sebab serangan membabi buta dengan sasaran SMP Pertahanan ini dilakukan di pagi-pagi buta, waktu dimana sebagian besar anggota MASTRIP belum dalam keadaan siap siaga menghadapi bahaya. Bisa dibayangkan seberapa pengecutnya pemberontak PKI ini,bukan?

Moeljadi, Mastrip yang gugur di halaman SMP Pertahanan

Foto: mustjans69.wordpres.com

Peristiwa ini merupakan catatan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia, karena mencerminkan begitu besarnya semangat para pelajar yang berjiwa patriotik, dengan gigih dan berani menentang bahkan mengangkat senjata untuk melawan musuh pengkhianat kesatuan bangsa, mengikis habis terhadap pemberontakan Komunis di Indonesia.

Bahkan di antara pemuda TRIP, ada yang gugur tepatnya di halaman SMP 2 Madiun sebagai pahlawan bangsa yaitu MOELJADI pada tanggal 21 September 1948. Sedangkan beberapa temannya dibunuh di Desa Kresek Kabupaten Madiun bersama TNI juga banyak tokoh dan ulama.

Monumen patung Moeljadi

Foto: www.thepicta.com

Untuk mengenangnya, diabadikanlah dengan sebuah monumen Perjuangan MASTRIP yang berada di Jalan Mastrip berupa Patung MOELJADI berdiri tegak mengangkat senjata.

Kamu dan keluarga juga bisa berkunjung untuk melihat monumen tersebut sebagai kunjungan wisata sejarah sambil mengenalkan sejarah kepahlawanan yang terukir indah di karesidenan Madiun.

Mastrip sebagai teladan bagi Generasi Millenial

Foto: lookwhatshappen.zone.id

Gambaran kehidupan dan semangat juang para MASTRIP dalam mempertahankan kemerdekaan-tentunya- perlu menjadi teladan bagi para pemuda dan pelajar masa kini.

Tak hanya meneladani dari sisi semangat mereka dalam menimba ilmu, tapi juga usaha keras dalam mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif layaknya para MASTRIP Karesidenan Madiun.

Kamu pun bisa meneladani perjuangan pelajar-pelajar muda ini lewat semangat juang mereka. Mereka yang sama-sama masih muda saja sudah turut andil dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Jangan sampai deh, cuman gara-gara putus cinta udah bikin kamu galau dan gak punya semangat hidup, Guys! Malu sama para Mastrip yang tangisan dan darahnya ditujukan untuk bangsa. 😀 Stop galaunya. Yuk, berkarya aja untuk kemajuan bangsa! 🙂