Hola, Takaiters!

Undang-Undang (UU) Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 atau lebih dikenal sebagai UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) merupakan salah satu bentuk yang menggambarkan upaya Indonesia dalam memproteksi pengguna internet dari terpaan konten-konten porno. Sudah menjadi kesadaran; dalam bentuk apapun itu, pornografi secara (begitu) tegas dilarang.

Baru-baru ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah mengambil konsep baru untuk mendukung perindungan tersebut, selain melakukan pemblokiran langsung ke situs-situs berkonten porno. Terhitung sejak tanggal 10 Agustus kemarin, Kemenkominfo mengatakan bahwa seluruh konten yang mengandung unsur pornografi tidak bisa lagi diakses.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara mengatakan bahwa akses tersebut telah ditutup melalui semua layanan provider internet di tanah air. Kebijakan ini diberlakukan seiring dengan penerapan mode aman (safe mode) di mesin pencari atau search engine.

“Di Google Amerika Serikat, ada fitur safe search, yang kalau diaktifkan pengguna tidak akan bisa mengakses ke situs berbau pornografi dan saudara-saudaranya,” ujar Rudiantara di Jakarta, Rabu (8/8/2018) lalu, seperti dilansir Antara News.

Fungsi dari fitur safe mode dalam mesin pencari ini salah satunya adalah untuk memfiltrasi pencarian yang bermuatan konten dewasa seperti pornografi. Dengan pola tersebut diharapkan semakin mempersempit akses ke situs porno melalui mesin pencari. Setiap kata kunci (keywords) yang bertalian dengan unsur pornografi tidak akan muncul pada daftar hasil pencarian, Takaiters.

Melindungi Anak Bangsa

Anak Bangsa Terlindung Terpaan Konten Pornografi
Foto: Marie France Asia

Langkah ini dimaksudkan untuk melindungi pengguna internet, khususnya anak-anak dari terpaan konten yang belum pantas untuk mereka konsumsi. Hal tersebut disampaikan Rudiantara, sejalan dengan perlunya melakukan penindakan mulai dari sisi yang paling dasar.

Menteri yang masuk dalam susunan Kabinet Kerja era Presiden Jokowi ini menekankan bahwa pemblokiran akses ke situs pornografi untuk melindungi anak-anak bangsa. “Kita harus melindungi anak-anak kita. Saya mohon maaf kalau untuk penikmat (Pornografi), ini untuk melindungi anak bangsa,” ujarnya.

Kemenkominfo sendiri mencatat, hingga Juli 2018, ada 830.201 jumlah konten negatif, termasuk pornografi, beredar di internet. Nah Takaiters, untuk mengoptimalkan “terobosan” anyarnya ini, Kemenkominfo sendiri telah berkoordinasi dengan 15 operator penyedia layanan internet (ISP) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada Jumat (3/8/2018) lalu.

Dalam koordinasi tersebut, Kemenkominfo mewajibkan semua ISP untuk langsung mengaktifkan fitur safe mode di berbagai search engine, termasuk Google. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan, pihaknya mengklaim bahwa 98 persen sudah menunjukan hasil. Penerapannya sendiri ditargetkan mampu menutup celah akses konten pornografi di dunia maya melalui berbagai mesin pencari dalam jumlah yang signifikan.

Kata Kunci Adalah Masalah

Keywords Pornografi
Foto: Search Engine Journal

Sayangnya, masih ada keraguan pada apa yang diimplementasikan oleh Kemenkominfo kali ini. Seakan menjadi rahasia umum bahwa upaya dalam menghalau atau “menjinakkan” efek negatif internet. Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, sebelumnya telah sempat menjelaskan; seakan mengisyaratkan bahwa langkah ini adalah terobosan ambigu yang masih meninggalkan keraguan atas hasil yang dijanjikan.

Ia sendiri mengaku bahwa pihaknya masih terkendala dengan kata kunci terkait pornografi. Pasalnya, keywords yang merujuk ke konten bermuatan pornografi terus berkembang. “Makanya (sampai saat ini), kami kucingan-kucingan (untuk terus memonitor perkembangannya),” ujarnya.

Cara kerja mesin pencari tentu erat bertalian dengan keywords atau kata kunci. Search Engine sendiri merupakan sebuah sistem perangkat lunak yang dirancang untuk membantu pengguna mencari berbagai informasi yang tersimpan dalam layanan di jagat maya.

Setiap keywords yang diinput ke kotak pencarian yang disediakan pada search engine, nantinya sistem akan memberi daftar hasil pencarian informasi yang disesuaikan dengan keywords yang dimasukan pengguna. Atau, instilah yang lebih akrab ditelinga kita sebagai pengguna internet adalah Googling.

Dari apa yang terlihat, search engine bisa dikatakan punya segudang “koleksi” kata kunci. Dengan begitu, search engine yang berkemampuan sebagai “gerbang informasi” dapat secara instan memberikan beberapa link rujukan atau alamat ke laman situs yang mengandung unsur keywords tersebut.

Keywords yang terus berkembangan bukanlah satu-satunya persoalan. Secara umum pun perkembangan teknologi dan internet sebenarnya masih belum benar-benar terbendung, di mana sisi baiknya dinilai akan selalu beriringan dengan efek negatifnya. Artinya, efek positif dan negatif tersebut akan terus bergerak ngebentuk sebuah rivalitas yang klasik.

Ada beberapa runut dan deretan kata kunci yang berkaitan dengan porno. Yang paling bengis sekarang ini adalah istilah “XXX”. Istilah tersebut merupakan istilah yang terbilang cukup populer untuk dikorelasikan ke hal-hal pornois. Sebelum proyek safe mode ini mencuat, keywords ini nampaknya memang sudah akrab bagi para penikmat konten porno.

Entah, istilah porno apa lagi yang akan berkembang selanjutnya.

Pilihan Editor



Safe Search vs Selebaran Keywords Negatif

Google Search Engine on Macbook Pro
Foto: pexels.com

Kebijakan yang diambil oleh Kemenkominfo itu bukan hal yang rumit, Takaiters. Safe Mode yang menjadi key tools dalam hal ini akan diaktifkan secara permanen. Dengan begitu, pengguna tidak bisa menon-aktifkan (disable) fitur tersebut dari pengaturan mesin pencari.

Secara sederhana, penerapannya sendiri akan sepenuhnya berpangku tangan pada sistem fitur mode aman di setiap search engine. Basis pengaktifan safe mode tersebut diserahkan pula ke para ISP yang telah dikoordinasikan. Harapannya, pengguna internet tidak bisa lagi dapat mengakses konten pornografi melalui hasil Googling.

Google sebagai search engine terpopuler, sudah barang tentu dilibatkan secara tidak langsung dalam kebijakan ini, meskipun tidak secara langsung. Mode pencarian aman a la Google diketahui bernama SafeSearch. Sistem yang diluncurkan pada tahun 2000 itulah yang nantinya akan diharapkan mampu berbuat banyak untuk membantu kesukseskan upaya Kemenkominfo dalam memproteksi anak bangsa dari terpaan negatif pornografi.

Namun, mengandalkan fitur SafeSearch Google ataupun search engine lainnya punya cerita lain. Bercermin pada Google, SafeSearch sendiri adalah fitur yang bertujuan untuk memfiltrasi situs-situs web, bukan hanya yang memuat konten pornografi, tapi juga konten-konten negatif lain yang muncul di daftar hasil pencarian.

Sebagaimana Kemenkominfo, SafeSearch juga masih terus main kucing-kucingan dengan seleberan keywords. Lewat postingan di blog resminya, Google mengakui bahwa SafeSearch belum sepenuhnya mampu melakukan penyaringan dengan tingkat akurasi 100 persen. Bahkan, peneliti dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat, Philip B. Stark dalam papernya “The Effectiveness of Internet Content Filters” menyebutkan bahwa tingkat akurasi filtrasinya pun belum bisa dikatakan dengan angka tinggi hingga 99 persen.

Keywords yang terus berkembang, seperti yang dikatakan, jelas merupakan tugas berat. SafeSearch terpaksa harus memonitor selebaran kata kunci yang bertebaran. Memilah mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang positif dan mana yang negatif adalah kawan sekaligus musuh.

Search engine dan keywords layaknya sepasang sahabat yang kadang berantem, kadang baikan. Dikutip Tirto.id, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi: SafeSearch memblokir konten yang tidak seharusnya diblokir atau overblocking dan (masih) gagal memblokir apa yang seharusnya diblokir.

Mesin Alternatif Lain

Hasil gambar untuk bing search on laptop
Foto: pixabay.com

Bukan cuma soal liarnya perkembangan keywords dan keakuratan safe mode dalam menentukan “pilihan”, Takaiters tentu sudah mengetahui kalau Google bukanlah search engine satu-satunya. Terdapat nama besar lain, seperti Yahoo yang dulu sempat berjaya sebelum era kedigdayaan Google saat ini. Selain itu, ada Bing yang merupakan mesin pencari besutan raksasa teknologi Microsoft dan Yandex yang memiliki popularitas di negeri asalnya, Rusia. Nama-nama seperti Ask.com, Quora, hingga DuckDuck Go, juga tidak boleh untuk tak dianggap.

Google selaku search engine dengan superiotas tertinggi boleh jadi rujukan terkait tingkat akurasi SafeSearch mereka yang masih ragu-ragu. Begitu pula saudara-saudaranya yang lain, fitur SafeSearch sendiri bukan hanya milik Google seorang. Pengguna internet—termasuk para “penikmat” sepeti yang dikatakan Menkominfo sebelumnya—seyogyanya masih memiliki Google-Google yang lain.

Dari temuan penulis secara personal, terakhir pada Rabu (15/8/2018), konten porno masih bisa ditemukan melalui Bing. Di samping persoalan kemampuan SafeSearch yang dimilikinya, SafeSearch a la Bing hingga saat ini masih bisa dinonaktifkan. Dengan mengetikan kata kunci “XXX”, Bing memberikan beberapa hasil pencarian berupa daftar link rujukan langsung ke situs-situs porno dan gambar-gambar yang eksplisit.

Namun, untuk masuk ke situs yang dimaksud cukup susah, dengan catatan bagi para pengguna awam. Karena mengingat, sejak medio 2014 lalu, Kemenkominfo telah mulai memberlakukan pemblokiran akses langsung ke alamat-alamat situs yang terdeteksi bermuatan konten berbahaya. Dan, pemblokiran tersebut terus diupayakan hingga kini.

Kendati demikian, masalah yang muncul adalah pemblokiran yang dilakukan, lagi-lagi, masih kucing-kucingan juga dengan situs-situs porno yang menjamur di Internet. Walaupun sebagian besar telah diblokir, daftar link dari hasil pencarian melalui Bing bukannya tidak bisa dikunjungi semuanya. Ada beberapa situs yang harus penulis akui, bisa terbuka dan diakses. Ya, dengan lancar.

Upaya proteksi yang dilakukan Kemenkominfo tentu tetap harus diapresiasi, meskipun masih menyisakan beberapa PR, khususnya upaya dalam memproteksi pengguna berbasis fitur SafeSearch ini. Perlu diakui juga nih, Takaiters, sukses tidaknya upaya memanfaatkan SafeSearch ini belum merata sepenuhnya. Hanya Google yang baru mendapat perlakuan “istimewa” ini ketimbang “saudaranya” yang lain sejauh ini.

Masih ada keraguan terkait efek yang dijanjikan dari upaya baru ini. Apabila melihat penyebaran konten-konten negatif itu menjamur secara masif di Internet, efeknya masih dalam bentuk imaji alakadarnya.

Akan tetapi, tentunya kita berharap ya, guys! Apa yang tengah diupayakan Kemenkominfo ini bisa terus menunjukan dampak positif dan signifikan seperti yang diharapkan. Jangan sampai janji tersebut justru tidak jauh berbeda dengan janji-janji politis yang kebanyakan bohongnya. Iya enggak, Takaiters?