Hidup nan jauh diperantauan terkadang membuatku rindu akan kampung halaman nan elok dan tentram. Namun, apalah dayaku yang jauh diperantauan rela menghapus air mata dan berusaha untuk selalu kuat menghadapi suka dan duka perantauan.

Anak perantauan, adalah sebutan untukku yang merantau. Demi mengubah hidup yang lebih baik bak istilah minang mengatakan “Mambangkik Batang Tarandam”, aku rela meninggal keluargaku.

rindu perantauan
rindu perantauan

Megahnya gedung-gedung pencakar langit di daratan Gemeente Batavia tak mampu menghapus kepolosan akan keindahan kampung halamanku. Enaknya makanan di restoran mahal tak mampu mengalahkan enaknya masakan amak dirumah yang membuatku selalu rindu makanan kesukaan yang biasa disajikan dirumah.

Terkadang walaupun ada jadwal libur, aku hanya dapat melampiaskan kerinduan ini dengan melihat foto keluarga yang kusimpan di dompetku. Walaupun tak bisa pulang kampung, aku mencari kesibukkan sendiri untuk melengah diri dari rasa rindu yang tertimbun dalam di hati ini.

Keluargaku, kaulah penyemangatku disaatku mulai redup. Tunggu aku pulang sampai aku bisa menjadi anak perantau yang sesungguhnya. Anak perantau yang sukses di rantau orang. Titip rinduku buat deburan ombak yang suaranya menemaniku dikala malam hari.