Hai, Takaiters!

Sudah pernah tahu dong tentang Reog? Kesenian asli Ponorogo yang menampilkan atraksi tari dengan ikon Dadak Merak atau topeng raksasa berkepala harimau dengan bulu merak cantik yang menjulang tinggi. Ditambah puluhan penari yang memerankan Warok, Jathil, Bujang Ganong, dan pangeran tampan, Prabu Klono Sewandono.

Yess … Seru banget ya, Guys! Megahnya Dadak Merak dipadu dengan indahnya gerak tari dan kostum yang memikat serta alunan musik iringannya yang khas. Enggak kalah seru sama nonton grup K-Pop, deh. Hehehe …

Lebih oke lagi karena ada banyak fakta keren, lho, dibalik kesenian Reog ini, penasaran? Simak, yuk!

1. Nasionalisme Seorang Demang pada Kerajaan

Foto: youtube.com

Demang Ki Kutu Suryonggalan menggagas sebuah topeng Barong (kepala harimau) dengan bulu-bulu merak di atasnya untuk menyindir Raja Majapahit yang dalam menjalankan pemerintahan justru banyak dikendalikan oleh Sang Permaisuri dan teman-temannya dari China, sehingga mengabaikan kepentingan rakyatnya sendiri. Sang Demang tidak ingin Majapahit mengalami kehancuran sehingga melakukan aksi unjuk rasa. Dalam menjalankan aksi protesnya Sang Demang di kawal oleh para warok yang kuat dan sakti serta pasukan berkuda yang terlatih.

Wow, ternyata menyampaikan aspirasi bisa dilakukan dengan cara yang unik, ya, Guys!

2. Perjuangan Cinta Sang Pangeran Tampan

Foto: nasional.tempo.com

Dikisahkan Prabu Klono Sewandono dari Kerajaan Jenggala yang sedang jatuh cinta kepada Dewi Songgolangit, dari Kediri. Diutuslah Adipati Pujangga Anom (Bujangganong) untuk melamar. Lamarannya diterima namun dia harus bisa memenuhi permintaan sang Putri yaitu memboyong semua isi hutan sebagai mas kawin. Dalam usahanya itu dia dan pasukannya harus menghadapi Singo Barong sang penguasa hutan. Pasukan berkuda, Warok dan Adipati Bujangganong tidak mampu menghadapi Singo Barong. Akhirnya Sang Raja Klono Sewandono sendiri yang berhasil mengalahkannya dengan pecut pusakanya yang ampuh, Cemeti Samandiman.

So sweet, ya Guys! Cinta sejati memang harus ditebus dengan perjuangan, ya. Uups, yang jomblo dilarang baper, ya, hehe ….

Pilihan Editor


3. Pesan Mendalam untuk Meraih Khusnul Khotimah

Foto:cnnindonesia.com

Guys, nama Reog ternyata berasal dari bahasa Arab, lho, yaitu dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah. Nama ini pemberian Adipati Batorokatong. Sebelum diubah, pertunjukan ini biasa disebut sebagai Singo Barongan.

Adipati Batorokatong mengubahnya karena menggunakan pertunjukan ini sebagai salah satu sarana untuk menyebarkan agama Islam. Pesan yang ingin disampaikan sang Adipati adalah akhir hidup yang baik dalam iman Islam, akan menjadi jaminan masuk surga meskipun kehidupan sebelumnya bergelimang dosa.

Ini harapan semua orang ya, Guys! Semoga perjalanan hidup kita pun berakhir dalam kebaikan. Amiin … (praying)

4. Sosok Keren dari Tokoh dalam Reog

Foto:penakecil.com

Tidak hanya tariannya yang keren, ya, Guys, sosok-sosok dalam Reog pun juga keren, lho! Seperti Patih Pujangga Anom. Meskipun digambarkan wajahnya buruk rupa namun dia seorang patih yang setia dan taat kepada Raja Klana Sewandana. Dia pun sosok yang menyenangkan, ceria, dan lincah namun tetap jago dalam bela diri.

So, Guys … penampilan kece bukan selalu yang utama ya, lebih penting kita jadi pribadi yang charming, dan bertanggung jawab. Akuuur?

5. Tetap Dicinta di Ponorogo dan Makin Mendunia

Foto: ridwanaz.com

Reog seakan menjadi hiburan wajib saat ada moment-moment spesial di Ponorogo. Seperti dalam acara Bersih Desa, peringatan HUT RI, penyambutan tamu spesial, acara di berbagai instansi kantor dan sekolah bahkan dalam acara personal seperti pernikahan bahkan khitanan. Dan yang paling seru adalah pagelaran Reog dalam rangka Grebeg Suro, yaitu peringatan Hari Jadi Kota Ponorogo.

Pemerintah Daerah pernah memberlakukan peraturan bahwa setiap desa wajib memiliki Paguyuban Reog, dengan para pemain warga masyarakatnya. Bahkan sekolah-sekolah tingkat lanjutan pun mempunyai seperangkat lengkap pertunjukan Reog ini. Dengan begitu Reog tetap lestari hingga para generasi muda pun tetap mencintai Reog.

Paguyuban Reog Ponorogo pun ada di berbagai daerah di luar Ponorogo hingga ke mancanegara. Orang-orang Ponorogo yang merantau, atau berdomisili di luar daerah atau di luar negeri pun tetap menghidupkan kesenian ini. Seperti di Jepang, Malaysia (hingga pernah diklaim sebagai budaya asli Malaysia).

Reog juga sudah sering ditampilkan di berbagai event pentas kesenian tingkat dunia dan mengharumkan nama Indonesia dengan menyabet berbagai juara. Banyak juga, lho, seniman mancanegara yang tertarik dan mendalami kesenian Reog ini.

Wah, kita nggak boleh kalah, ya, minimal ikut mendukung dan mempromosikan aneka budaya Indonesia. Siap?

Nah, Guys, Reog ternyata tidak hanya sekedar tarian daerah ya, ada banyak sisi positif yang bisa kita ambil dan jadikan pelajaran. Yuk, sempatkan main ke Ponorogo dan nikmati sensasi luar biasanya Reog Ponorogo. See you!