Hello, Takaiters!

Bagi saya, Ratna Indraswari Ibrahim adalah orang pertama yang mengenalkan saya pada kecintaan terhadap dunia literasi. Beruntungnya saya karena sempat menjadi salah satu dari ratusan santri yang duduk menikmati malam bersama beliau beberapa tahun silam.

Datang bersama asisten serta beberapa wartawan, beliau yang juga merupakan aktivis ini mulai mengenalkan dunia literasi kepada kami. Meski cukup singkat, tetapi malam itu benar-benar menjadi malam di mana mimpi-mimpi saya melangit seutuhnya.

Lalu, siapa sebenarnya sosok Ratna Indraswari Ibrahim ini?

Jika kamu orang asli Malang, mungkin nama sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim ini sudah tak asing lagi, ya, Guys. Terlahir sebagai putri kelima dari 10 bersaudara, rupanya sastrawan satu ini telah melahirkan lebih dari 400 karya dengan semangatnya yang begitu luar biasa dalam melawan keterbatasan fisik.

Guys, walaupun lahir dan dibesarkan di kota Malang, rupanya Ratna merupakan keturunan asli Minang, lho. Sejak kecil dia sudah diajarkan mencintai buku dari sang Ayah yang asli keturunan Minangkabau. Bacaan-bacaan berat sudah dikenalnya sejak belia. Hingga suatu hari, mimpi buruk itu terjadi dan sempat membuatnya putus asa.

Ratna Indraswari Ibrahim mengalami kelumpuhan sejak berusia 10 tahun

Sejak usia 10 tahun, Ratna mengidap penyakit rachitis atau radang tulang yang menyebabkan kedua tangan serta kakinya tidak berfungsi dengan normal. Maka, sejak saat itulah, dia harus melakukan semua aktivitasnya di kursi roda.

Dalam keadaan serba sulit, Ratna tetap produktif menghasilkan banyak karya sastra, lho, Guys. Dia mendiktekan karyanya kepada para asistennya. Meskipun cukup merepotkan, tetapi Ratna berhasil menyelesaikan itu semua dengan baik.

Pilihan Editor


Di balik kursi rodanya, telah lahir ratusan karya sastra

Guys, jika selama ini kamu sering mengeluh ketika ingin memulai sesuatu, maka berkacalah dari sastrawan satu ini. Dengan kondisi fisik yang nyaris tidak berfungsi seluruhnya, Ratna tetap produktif menghasilkan karya berkualitas. Karya-karyanya pun masuk dalam cerpen pilihan Kompas (1993-1996), cerpen harian Surabaya Post (1993) hingga juara tiga lomba cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997) serta setumpuk prestasi lainnya.

Bukan hanya jadi penulis, Ratna juga aktif dalam kegiatan sosial

Tidak terbatas pada dunia literasi saja, rupanya Ratna mendedikasikan hidupnya sebagai seorang aktivis sosial juga, lho. Salah satu novelnya yang berjudul ‘Lemah Tanjung’ merupakan novel konstroversial yang mengangkat isu sosial. Karena peran besarnya inilah, Ratna kerap mendapatkan kesempatan untuk mengikuti seminar internasional.

Pada tahun 2001, Ratna mendirikan Forum Kajian Ilmiah Pelangi yang mengakomodasi banyak elemen masyarakat untuk berdiskusi di rumahnya sendiri.

Bertahun-tahun duduk di kursi roda sempat menjerumuskannya pada ateis

Rupanya jalan yang ditempuh oleh Ratna tidaklah selalu mudah. Kehidupan selama bertahun-tahun di atas kursi roda membuatnya sempat marah kepada apa yang sudah Tuhan takdirkan. Dia sempat tidak memercayai adanya Tuhan, pernah menjadi sangat kesal dengan apa yang dia alami. Bersyukur, Ratna sadar dan tahu jika Tuhan ada serta menyayanginya.

Ketika ajal menjemput

Pada tanggal 28 Maret 2011, Ratna menghembuskan napas terakhirnya setelah mengalami serangan stroke untuk ke sekian kalinya. Derita akibat komplikasi jantung dan paru-paru rupanya sudah tak bisa lagi ditanggungnya.

Ratna yang seorang satrawan, budayawan serta aktivis ini pun dimakamkan di bawah gerimis sendu kota Malang yang menangisi kepergiannya.

Terlalu lemah jika kita begitu mudah mengeluh dengan sedikit musibah yang kita alami selama ini, ya, Guys. Kisah Ratna Indraswari Ibrahim patut dijadikan contoh bahwa hidup memang tak selalu semanis seperti yang kamu bayangkan. Meski kadang harus jatuh bangun dan terluka, tetapi, kamu harus tetap kuat dan penuh syukur. Sebab adanya ujian dan musibah sejatinya akan menguatkan hamba-hamba-Nya, bukan justru sebaliknya.