Hai, Takaiters!

Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, terbentang dari sabang hingga merauke. Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia terkenal dengan pesona, keindahan, tari-tarian, dan adat-istiadatnya.

Salah satu desa di Bali yang patut dikunjungi adalah desa Tengenan Pegringsingan , karena di desa ini kita biasa menyaksikan ‘perang pandan’ atau mekare-kare yang telah tersohor ke seluruh dunia. Berikut beberapa penjelasan tentang ‘parang pandan’

Sebagai Bentuk Terima Kasih Kepada Dewa

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Foto: goodnewsfromindonesia.id

Menurut kepercayaan agama Hindu, Dewa Indra atau Dewa Perang telah menyelamatkan desa Tengenan yang kala itu dikuasai oleh Raja Maya Denawa yang kejam dan penindas. Maka Dewa Indra diutus untuk melawan Raja Maya Dewana. Perlawanan akhirnya dimenangkan oleh Dewa Indra. Sebagai bentuk terima kasih, warga Tengenan mengadakan ritual mekare-kare atau perang pandan.

Menggunakan Daun Pandan dan Tameng Terbuat dari Rotan Sebagai Senjata

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Foto: goodnewsfromindonesia.id

Daun pandan berduri atau dalam bahasa latinnya pandanus tectorius dipotong sama panjang kemudian diikat menjadi satu, Daun pandan ini digunakan sebagai senjata. Selain itu tameng terbuat dari rotan juga digunakan untuk melindungi diri.

Dua orang laki-laki akan bertarung dan masing-masing memegang ikatan daun panda tersebut. Tiap peserta akan bergumul dan berusaha menggesekkan daun panda kebadan lawan.

Peserta Perang Pandan

perang pandan
Foto: benarnews.org

Semua pria warga desa Tengenan harus ikut dalam ritual ini. Karena ritual tersebut merupakan ngayah atau sebagai bentuk pelayanan pada dewa. Selain penduduk desa, peserta pendatang juga boleh ikut dalam ritual ini.

Pilihan Editor



Tidak Ada Dendam dan Benci Setelah Perang Pandan, Hanya Persaudaraan yang Semakin Kokoh

perang pandan
Foto: wisata-bali.com

Melakukan ritual ini memiliki dua tujuan, yaitu untuk menghormati Dewa Indra, dan mempererat persahabatan antara warga. Karena setelah usai perang pandang, warga melakukan magibung atau makan bersama dalam satu tempat. Biasanya nasi dan lauk pauk ditaruh pada daun pisang yang panjang dan lebar lalu makan bersama.

Luka Diobati dengan Ramuan Tradisional

perang pandan
Foto: goodnewsfronindonesia.id

Akibat dari gesekkan daun pandan berduri ini akan mengakibatkan luka-luka. Luka-luka akibat goresan ini akan diobati dengan ramuan tradisional. Berbahan kunyit, cuka dan bahan alami lainnya. Ramuan ini dihaluskan kemudian dilumurkan di bagian kulit tubuh yang terluka.

Anak-anak Juga Dapat Menjadi Peserta, Asal Memenuhi Syarat

Hasil gambar untuk Perang Pandan
Foto: goodnewsfromindonesia

Bukan saja laki-laki dewasa yang ikut dalam perang panda, anak-anak juga dapat menjadi peserta. Mereka sama menggunakan daun pandan sebagai senjata. Dengan anak-anak ikut dalam perang pandan ini, melatih mereka akan terus melestarikan ritual menghormati Dewa melalui perang panda tersebut.

Guys, tertarik untuk menyaksikan perang pandan ini? Ayo datang ke Bali setiap sasih kelima atau bulan kelima sesuai dengan penanggalan masyarakat Hindu Bali atau jatuh sekitar bulan Juni menurut penanggalan Masehi. Ditunggu ya, Guys.