Dunia yang dipenuhi dengan kesepian, menyatu dengan segala penderitaan, saat itu terjadilah pertempuran batin dan pikiran. Tampaknya berlebihan memang, namun dari setiap kesunyian, rasanya perkembangbiakan ide lebih banyak terlahirkan.

Ada orang terlahir dengan idealisme yang jauh dari kata realistis. Mereka memandang dunia bagaikan cerita, layaknya kisah buatan. Nyatanya, bukankah kita hidup dengan masing-masing cerita yang telah digariskan? Cerita bukan buatan sendiri. Di mana kita bisa terjun langsung tanpa mengetahui kejelasan alurnya, tanpa tahu plot macam apa yang dikemas oleh-Nya.

Jenuh menjadi asupan paling sering dijumpai. Pertanyaan-pertanyaan untuk apa menulis bagi para penulis, melihat dunia lebih sering tidak berbaik hati maupun mendukung buah pemikiran kita, lebih sering bercokol pertanyaan itu di dalam hati.

Menulis menjadi tujuan hidup atau pilihan hidup?

Foto: pexels.com

Hidup bukan sekadar menulis. Tujuan hidup untuk menulis? Sebesar itukah cintamu kepada literasi? Salut.

Memilih menulis. Sebuah pilihan di antara jutaan pilihan. Pilihan yang lebih sering menyakitkan ketimbang membahagiakan. Ketika buah pikiran telah jadi dalam bentuk karya tulis, lebih sering kekecewaan didapatkan. Pengakuan dari mulut seorang kawan pun belum tentu didapatkan. Banyak yang memandang sebelah mata perihal penulis di tengah kehidupan masyarakat anti literasi, anti membaca.

Lihatlah ribuan penulis yang menjadi besar namanya ada berapa orang. Satu, dua, oh, ada ribuan. Mereka berjuang begitu keras, menekuni dan mencintainya, disokong dengan keuangan dan popularitas, semua tampak menjadi begitu mudah didapatkan.

Pencinta Literasi dengan Segala Keterbatasan

Foto: pixabay.com

Mari sekarang kita tengok kepada yang gagal. Mereka adalah orang yang mencintai literasi namun dengan segala keterbatasan membuat semua mimpi digantungkan. Banyak yang menggantung penanya, beralih menyibukkan diri dengan sesuatu yang menjanjikan.
Apakah penulis artikel ini akan menggantungkan pena? Barangkali suatu saat akan terjadi.

PILIHAN EDITOR

Suatu ketika, di sana ada seorang supir angkot, masih muda dan cerdas, sangat menyukai menulis. Ia menuliskan apa pun yang dirasa perlu diabadikan. Namun, menyerah dengan segala keterbatasannya. Waktu menjadi alasan utama ia berhenti menulis. Ketika subuh, ia telah terbangun, lalu mulai melakukan rutinitas sebagai supir hingga menjelang malam.

Setibanya di rumah, kelelahan menerpa tubuh. Saking cinta literasi, ia sering mengabaikan rasa lelah hingga sering tidur larut malam. Nyatanya, ia hanya manusia biasa.

Pada lain waktu, ia menyerah. Apa yang telah dihasilkan pikirannya, ia pendam rapat dan memilih melupakan. Hidup terkadang tidak adil, tapi perlu keseimbangan, dan keseimbangan hidupnya adalah dengan meninggalkan literasi daripada hidup dalam mimpi yang selalu menggerus separuh hidupnya. Ia merasa dengan menggantungkan pena hidupnya jauh lebih selaras. Tidak lagi sakit-sakitan sebab sering begadang, bisa lebih fokus pada kesibukan utamanya.

Penulis Bukan Bintang di Dunia Melainkan Bintang di Hati

Foto: pixabay.com

Masih banyak kisah pilu para pemimpi di bagian lain dari lebarnya dunia ini. Kita tidak pernah tahu kisah di balik tercipta suatu karya. Ada yang tercipta dengan menggerus kewarasannya demi mewujudnyatakan karya tersebut, lalu berakhir tragis dengan tidak adanya peminat dari pembaca untuk membeli karyanya. Ada memang, satu-dua manusia, hanya para pendukung. Setelah itu, karya ciptaan tergeletak di lemari, masih menumpuk banyak dimakan rayap.

Dari sekian banyak penulis yang tenar, masih jauh lebih banyak lagi yang bernasib tragis. Sungguh ironis. Andai saja negara ini tidak dinamai Indonesia, mungkin saja nasib para pemimpi-pemimpi tidak seburuk itu. Barangkali dari ketragisan nasib penulis malang, kita dapat mengambil kesimpulan paling mudah dipahami untuk tidak menempatkan posisi penulis sebagai profesi menjanjikan, pada dasarnya penulis bukanlah bintang di dunia melainkan bintang di hati. Jadi, pesan ini mungkin bisa diterima hati.

Menulislah untuk diri sendiri, bila belum mampu mengetuk hati banyak orang. Menulislah dengan tulus dan dari hati paling ikhlas, bila arah ke depan dari setiap kemungkinan karyamu hanya akan dipandang remeh. Menuliskan untuk kebahagian sendiri, bila kamu menyadari sejak awal karyamu bukanlah sebuah prioritas kebahagian orang lain.