Hai, Takaiters!

Berburu madu adalah salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Nepal setiap dua tahun sekali. Sebut saja suku Gurung, salah satu suku yang ada di Nepal yang mempertaruhkan hidupnya memanjat tebing Himalaya untuk mengumpulkan madu dari sarang-sarang lebah yang bergelantungan di tebing-tebing Himalaya nan curam dan terjal.

Suku Gurung sudah melakukan tradisi cari madu ini sejak ratusan tahun yang lalu

pemburu madu himalaya
Foto : Eric Tourneret

Suku Gurung sudah melakukan tradisi ini sejak ratusan tahun yang lalu, turun temurun dari nenek moyang mereka. Tradisi berburu madu ini dilakukan dengan menggunakan tongkat bambu (disebut tangos) untuk mengambil sarang lebah yang menempel pada dinding tebing setinggi puluhan meter.

Pilihan Editor



Untuk mendapatkan madu, pemburu membuat asap untuk mengusir lebah-lebah ganas

pemburu madu himalaya
Foto : Andrew Newey

Sebagaimana layaknya proses panen madu, pemburu membuat asap pembakaran untuk mengusir lebah-lebah ganas yang ada lereng Himalaya. Setelah lebah-lebah berlarian meninggalkan sarangnya, disana para pemburu beraksi memanen madu tersebut.

Musim semi madu yang dihasilkan bisa mencapai 800 liter

pemburu madu himalaya
Foto : Andrew Newey

Untuk musim gugur biasanya hasil perburuan madu bisa menghasilkan sekitar 200 liter madu, yang kemudian dibagi-bagikan secara merata untuk penduduk desa. Nah, sedangkan pada musim semi dapat menghasilkan 800 liter madu. Madu ini kemudian diekspor ke Jepang Korea, dan China untuk kebutuhan pengobatan.

Tidak hanya Gurung di Himalaya, ternyata tradisi memburu madu ini telah dikenal sejak 8.000 sebelum masehi yang lalu. Pada umumnya tradisi ini dilakukan oleh suku dan penduduk Afrika, Asia, Australia, dan Amerika Selatan. Untuk Indonesia sendiri, perburuan madu seperti ini masih bisa kita jumpai di hutan-hutan Sumbawa dan Riau. Nah, dari sinilah kenapa madu liar itu harganya berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan madu hasil dari lebah yang diternakkan.