Hai, Takaiters!

Seperti yang kita tahu nih, banyak deretan penyanyi yang memasang kebijakan untuk melarang para penontonnya membawa ponsel ketika sang musisi menggelar konser mereka. Salah satu musisi yang melarang ponsel dalam konsernya adalah Jack White.

Serupa dengan banyak artis lainnya, White beralasan bahwa ia merasa kesal dengan penonton yang lebih “memilih” untuk menghabiskan seluruh waktunya bermain ponsel saat konser berlangsung. Sekalipun para penonton itu bertujuan untuk sekadar merekam aksi panggungnya dengan kamera ponselnya.

“Hal ini diberlakukan untuk menciptakan pengalaman yang seratus persen manusia,” kata timnya dalam sebuah kesempatan, seperti dilansir Engadget, Januari lalu.

Pria yang bernama asli John Anthony White ini tidak sendirian yang merasa kesal dengan ulah penonton yang terlalu sibuk dengan ponsel ketika menikmati konsernya. Sebelumnya, Bruno Mars sempat terekam melempar handuknya ke arah dua orang penonton wanita saat gelaran konsernya tengah berlangsung.

Nah, konser yang digelar di Saitama Super Arena, Jepang bulan April lalu, sempat menjadi viral di media sosial. Pasalnya, rekaman tersebut menyebar hingga menjadi pembicaraan para netizen. Dari rekaman video tersebut, memperlihatkan kemarahan Bruno Mars karena ulah keduanya yang sibuk ber-selfie sepanjang konser.

Penyanyi yang lahir di Hawaii, Amerika Serkat tersebut diduga kesal karena melihat kedua penontonnya itu. Sebagaimana dilansir Worldofbuzz, pria 32 tahun itu memang dikenal sebagai penyanyi yang melarang penontonnya bermain gadget sepanjang konser berlangsung.

Senada dengan Jack White, hal tersebut dimaksudkan agar penonton lebih menikmati konser yang disuguhkannya. Insiden pelemparan handuk yang dilakukannya adalah salah satu bentuk dari rasa jengkelnya seorang Bruno Mars, Takaiters.

Sekarang, “Juru Selamat” Itu Adalah Smartphone

Konser - Nomophobia
Foto: Pixabay

Apa yang menjadi biang kekesalan dari kedua penyanyi itu sebenarnya bisa kita katakan merupakan cerminan dari sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa orang-orang memperlakukan ponsel mereka sebagai “juru selamat” untuk membantu mereka mengatasi situasi sosial yang tidak nyaman.

Apakah kita seringkali meraih merogoh saku untuk mengambil smartphone setiap kali kita merasa berada dalam situasi yang canggung atau merasa bosan ketika berada di tempat tertentu? Apabila jawabannya iya, mungkin Takaiters termasuk orang-orang yang terindikasi mengidap nomophobia.

Nomophobia sendiri termasuk dalam kategori phobia yang merasa takut atau lebih tepatnya merasa kehilangan ketika tidak membawa serta ponsel genggamnya kemana-mana. Saat tidak memegang smartphone, orang dengan nomophobia akan merasa seperti kehilangan salah satu anggota badannya.

Jika ditelisik, smartphone telah menjelma menjadi bagian yang sangat vital di kehidupan kita sehari-hari. Telepon genggam yang dulunya hanya sekedar alat yang memudahkan dalam berkomunikasi, kini seakan berubah menjadi bagian dari eksistensi diri.

Hal tersebut termasuk pula ke dalam kegiatan bernarsis ria berupa mengunggah foto-foto untuk menunjukkan kehidupan ke akun media sosial hingga berganti ke arah alasan supaya kita “tidak mati gaya” saat sendirian atau berada dalam obrolan yang dirasa canggung dengan orang asing.

Para peneliti dari University of California Irvine (UCI) menemukan bahwa ketika orang berada dalam situasi sosial yang canggung dan dirasa membosankan, orang-orang cenderung memilih untuk “bertegur sapa” dengan ponsel mereka untuk mengatasi perasaan terisolasi tersebut. “Smartphone kini telah beranjak menjadi barang yang diperlakukan sebagai ‘selimut keamana’ untuk membantu mengatasi situasi sosial yang tidak nyaman,” ujar John Hunter, perwakilan tim peneliti UCI, sebagaimana dikutip melalui laman berita di situs resmi mereka, Selasa (7//8/2018).

Sekelompok orang yang duduk bersama tapi tidak saling berbicara karena mereka semua terfokus memperhatikan ponsel mereka masing-masing adalah salah satu kejadian umum yang seringkali terjadi saat ini. Takaiters mungkin seringkali melihat pemandangan ini, bukan?

Hunter menambahkan, perilaku ini sangat dikatakan sebagai suatu hal yang baru secara naluriah; setiap kali kita dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman. Dalam percobaan yang dilakukan timnya, Hunter mengatakan bahwa orang-orang yang bersama smartphone-nya cenderung memiliki tingkat hormon yang lebih rendah ketika dihadapkan dalam situasi membosankan. Dengan kata lain, adanya ponsel di genggaman saja sudah cukup membuat kita merasa aman.

Kesal Karena Diabaikan?

Diabaikan - Nomophobia
Foto: pixabay

Nah, apa yang terjadi pada Bruno Mars atau John White adalah bentuk kekesalan orang yang merasa diabaikan oleh orang lain cuma karena smartphone. Apa Takaiters juga pernah merasa seperti apa yang dirasakan kedua penyanyi itu? Lagi duduk bareng teman misalnya, bukannya ngobrol, lah kita malah dicuekin.

Penulis sering banget tuh dicuekin orang cuama gara-gara gim di smartphone. Duh, rada ngeselin sih rasanya. Tapi, bukan berarti penulis juga enggak pernah nyuekin orang karena smartphone lho, ya. Hehehe…

Tapi Takaiters, diabakan dan mengabaikan itu sepertinya memang wajar-wajar saja untuk terjadi, bukan? Bahkan sejak “demam smartphone” belum semasif sekarang. Sayangnya, yang perlu jadi renungan adalah sikap abai-mengabaikan ini bertambah ke ranah digital. Sederhananya, sikap abai ini dianggap mematikan apa yang disebut real interaction, atau interaksi nyata. Lebih buruk? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak.

John White, begitu pula Bruno Mars, merupakan sosok dari sebagian besar orang yang merasa kesal apabila mereka tidak diperhatikan. Sikap “benci” mereka dengan penonton yang terlalu sibuk “mengamankan” dirinya saat konser berlangsung adalah bentuk rasa kesal ketika merasa diabaikan. Masa iya sih, penyanyi justru terasing tidak diperhatikan di tengah gelaran konsernya sendiri, hanya karena sebuah alat bernama smartphone?

Seorang penulis asal Amerika Serikat, Dale Carniege, dalam bukunya, How to win Friends and Influence People, mengisyaratkan bahwa kebutuhan untuk didengarkan nyatanya menjadi salah satu hasrat dasar manusia. Bahkan, kebutuhan tersebut setara dengan kebutuhan manusia yang membutuhkan makanan, kesehatan, tempat tinggal, maupun kebutuhan biologis (baca: seks).

Lalu, pertanyaan yang muncul adalah, mengapa kita cenderung terpaku bahkah bersikap layaknya nomophobia? Dua orang penonton yang dilempari handuk oleh Bruno Mars termasuk contoh dari banyak kejadian umum yang sering kita jumpai. Dari video tersebut, kedua penonton itu tampak terus-terusan selfie hingga membuat seorang Bruno Mars kesal. Diketahui, hasil rekaman yang dilakukan penonton itu–apa lagi kalau bukan–untuk kebutuhan eksis dan “diperhatikan” di ranah dunia maya. Dunia di media sosial.

Brent Cole dari Dale Carniege Association, mengatakan bahwa kebanyakan orang di era digital saat ini semakin mengesankan diri menjadi “manusia independen” yang justru menghilangkan pola dasar manusia sebagai makhluk sosial, seiring dengan kecanggihan teknologi yang semakin berkembang dan mudah diakses.

Seiring Kemajuan Teknologi

Kemauan Teknologi - Nomophobia
Foto: pexels

Berdasarkan pendapat Cole, alasan seseorang untuk eksis di media sosial salah satunya dipengaruhi oleh kecenderungan manusia yang ingin didengar, dikenal, dan diperhatikan orang banyak. Pendapatnya itu sejalan dengan persoalan nomophobia yang menjadi bahasan banyak pihak.

Kim Ki Joon, ketua tim penelitian yang tergabung dari hasil kolaborasi oleh City University of Hongkong dan Sungkyunkwan University, mengatakan bahwa seiring dengan kemajuan teknologi, ketergantungan smartphone akan terus meningkat. Kemajuan teknologi akan membuat smartphone semakin menarik dan kaya fitur canggih yang membuatnya kian adiktif. “Oleh karena itu, nomophobia kemungkinan besar untuk semakin merajalela di masa mendatang,” ujarnya.

Lalu, dari sini, kubu siapa yang sebenarnya perlu kita salahkan? Baik John White, Bruno Mars, begitu pula dengan dua “korban lemparan handuk”, adalah wakil-wakil kita. Manusia yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Carniege tadi. Sama-sama ingin didengar, diperhatikan, dan dikenal. Bukan begitu, Takaiters? Sekali lagi nih, kubu siapa yang harus disalahkan? Dua penyanyi, atau dua penonton yang menjadi korban handuk dari Mars itu?

Sekedar informasi aja nih, Takaiters. Salah seorang korban handuk itu diketahui bernama Moeka Nozaki, seorang aktris dan model asal Jepang, lho! Karena berada di barisan terdepan, pantesan aja dapet perhatian Bruno Mars, langsung dari atas panggung. Wuih!