Siapa nggak kenal Singapura? Negara kecil tetangga Indonesia ini sejak lama telah menjadi destinasi favorit anak bangsa. Nggak cuma letaknya yang relatif dekat dari tanah air, banyaknya produk-produk branded dengan harga lebih miring di sepanjang Orchard Road adalah surga bagi para penggemar belanja.

Terlepas dari wisata belanja yang ditawarkan negeri Merlion ini, Takaiters tahu nggak kalau Singapura memiliki ikatan historis dengan Indonesia? Nggak hanya presiden pertamanya yang asli Minang, lho. Penggubah lagu Majulah Singapura, yaitu lagu kebangsaan Singapura ini, tak lain juga putra asli Minang bernama Zubir Said. 

Lahir di Bukittinggi, 20 Juli 1907, pria sederhana ini tercatat telah menulis sekitar 1.500 judul lagu. Sayangnya, nggak semuanya terdokumentasi dengan baik, Guys. Ia merupakan anak tertua dari delapan bersaudara yang mempelajari musik secara otodidak.

Karena keterbatasan ekonomi, Zubir Said terpaksa bekerja di usianya yang ke-18 tahun. Beberapa pekerjaan sempat dilakoninya. Di antaranya adalah menjadi pekerja di pabrik batu bata dan seorang juru ketik. Setelah itu, Zubir Said meninggalkan pekerjaannya dan bergabung dalam orkes keroncong keliling.

PILIHAN EDITOR

Pada tahun 1928, saat berusia 21 tahun, Zubir said merantau ke Singapura. Di sana, ia bergabung dengan wayang kebangsaan City Opera yang beranggotakan banyak orang Melayu. Di sana pula ia belajar membaca dan menulis notasi Barat dan bermain piano.

Karirnya nggak berhenti sampai di situ, Takaiters. Pada tahun 1936, Zubir hengkang dari City Opera dan bergabung dengan perusahaan rekaman milik Inggris, HMV. Di situlah ia bertemu dengan Tarminah Kario Wikromo yang kelak menjadi istrinya. Setelah menikah, Zubir kembali ke tanah air pada tahun 1941, sebelum akhirnya memutuskan untuk bertolak lagi ke Singapura hingga akhir hayatnya.

Darah seniman dalam dirinya terus berkembang. Kedatangannya yang kedua kali di Singapura dimanfaatkannya dengan menjadi fotografer dan penulis. Kemudian semuanya berubah ketika  Zubir mulai mengenal industri film pada tahun 1949. Hal inilah yang membawanya menjadi komponis lagu-lagu untuk latar belakang film. Istilah kerennya OST alias Official Sound Track gitu, Guys.

Tahun 1958, Zubir memperkenalkan karyanya yang berjudul Majulah Singapura di Teater Victoria, atas permintaan Ong Pang Boon. Beliau adalah Wakil Wali Kota Dewan Kota Singapura. Hal ini awalnya ditujukan untuk merayakan dibukanya kembali Teater Victoria secara resmi.

Setelah Singapura mulai menjalankan pemerintahannya sendiri di tahun 1959, lagu Majulah Singapura ini didaulat menjadi lagu kebangsaan. Lagu ini dikumandangkan secara resmi menggantikan God Save the Queen, pada 3 Desember 1959. Kemudian, saat Republik Singapura resmi berdiri pada 9 Agustus 1965, Majulah Singapura disahkan menjadi lagu kebangsaan. Zubir sendiri memperoleh kewarganegaraan Singapura pada tahun 1967.

Zubir Said meninggal dunia di usia 80 tahun akibat penyakit kuning, di Joo Chiat, Singapura. Banyak penghargaan yang telah diterimanya semasa hidup, maupun secara anumerta atas jasa-jasanya di bidang seni dan budaya. Pada tahun 2004, patung perunggu dirinya senilai SGD20.000 dipajang di Istana Kampung Gelam, Taman Warisan Melayu, Singapura. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kawasan Orchard Road, di tahun 2009.

Wuaah, luar biasa ya Guys! Gimana nggak bangga kita sebagai sesama anak bangsa memiliki sosok seperti beliau ya. Terlebih tanah Minang yang telah melahirkan seorang putra yang begitu berpengaruh bagi negara Singapura.