Halo, Takaiters!

Sejak lama, inai atau henna, telah digunakan kaum perempuan untuk menghias kuku. Nggak hanya di Indonesia Guys, tapi beberapa daerah di Semenanjung Mediterania, Melayu, dan India ternyata juga memiliki tradisi mewarnai kuku dengan ramuan yang berasal dari daun pacar ini.

Dalam tradisi perkawinan adat Minangkabau, inai memiliki arti khusus. Salah satunya, tampak dalam prosesi Malam Bainai.

Bainai artinya melekatkan tumbukan daun pacar merah atau daun inai ke atas kuku mempelai wanita. Hal ini lazim dilakukan pada malam hari menjelang akad nikah. Tradisi ini merupakan ungkapan kasih sayang dari segenap keluarga kepada mempelai, sebelum melepas masa lajangnya.

Warna merah pada ujung kuku, juga diyakini sebagai tameng atau penolak bala pada mempelai agar terhindar dari segala mara bahaya. Selain itu, juga akan menjadi penanda bahwa ia telah berumah tangga, sehingga bebas dari gunjingan sosial ketika bepergian bersama suaminya.

Dalam prosesi ini, mempelai wanita mengenakan busana khusus, yakni baju tokoh dan bersunting rendah. Sebelum inai ditorehkan, akan dilaksanakan prosesi memercikkan air harum tujuh kembang oleh para sesepuh dan kedua orang tuanya. Setelah itu, inai akan dilekatkan pada ujung kuku, disertai ucapan doa restu untuk kebahagiaan mempelai.

Nah, selain di Minang, ternyata tradisi menggunakan daun pacar ini juga bisa ditemui di beberapa daerah lain, Guys. Antara lain:

1. Tradisi Malam Bohgaca di Aceh

Foto: bridestory.com

Di Aceh, ada tradisi Malam Bohgaca, yang mirip dengan malam bainai di Minang. Dalam tradisi ini, daun pacar melambangkan isteri sebagai obat pelipur lara dan perhiasan dalam rumah tangga.

2. Tradisi Berinai Curi di Riau

Foto: lutfi.com

Di Riau, tradisi memakai inai disebut dengan “Berinai Curi”. Disebut berinai curi karena sebagian peralatan berinai yang ada di rumah calon mempelai wanita akan dibawa secara diam-diam ke rumah calon mempelai pria.

Malam berinai ini dilaksanakan sekitar 3 hari menjelang akad nikah. Maksud dari prosesi ini adalah untuk menolak bala dan menaikkan wibawa dan aura dari sang calon pengantin.

Pilihan Editor



3. Tradisi Berpacar di Palembang

Foto: lutfi.com

Di Palembang, tradisi memakai inai bagi calon pengantin disebut dengan “Berpacar”, yaitu mewarnai seluruh kuku tangan dan kaki, serta telapak tangan dan kaki. Penggunaan henna atau inai juga dimaksudkan untuk menghalau hal-hal negatif pada calon pengantin. Selain itu, daun pacar juga diyakini sebagai lambang kesuburan mempelai wanita, Guys.

4. Tradisi Pasang Pacar di Lampung

Foto: tirto.id

“Pasang Pacar” adalah sebutan masyarakat Lampung untuk prosesi pemakaian inai pada calon mempelai wanita. Sebelumnya, mempelai akan mengikuti prosesi mandi uap dan berparas, serta membentuk alis agar wajahnya makin memesona ketika dirias nanti. Prosesi ini biasanya dilakukan sehari sebelum akad nikah dilangsungkan.

5. Tradisi Malem Pacar di Betawi

Foto: lutfan.com

Masyarakat Betawi juga memiliki prosesi pemakaian inai pada mempelai. Acara ini dinamai “Malem Pacar”, yang dilakukan seusai prosesi ngerik atau bercukur bulu kalong pada pengantin perempuan. Kuku kaki dan tangannya akan diwarnai dengan tumbukan daun pacar agar terlihat makin cantik.

6. Tradisi Akkorotigi di Bugis-Makasar

Foto: lutfi.com

Orang Bugis-Maskasar pun memiliki tradisi yang dinamakan “Akkorotigi/Mapacci”. Prosesi ini melambangkan kesucian calon mempelai. Nggak hanya untuk perempuan lho Guys, ternyata calon mempelai laki-laki juga mengikuti prosesi ini.

7. Tradisi Peta Kapanca di NTB

Foto: athyun0288.wordpress.com

“Peta Kapanca” adalah sebutan untuk prosesi memakai daun pacar atau inai pada pengantin adat Bima, NTB. Acara ini dilakukan 7 hari menjelang akad nikah dilangsungkan. Hal ini ditujukan untuk penanda dan pengingat kepada calon mempelai wanita bahwa ia akan segera menikah.

Nah, itulah tadi beberapa tradisi pemakaian inai atau henna dalam pernikahan adat dalam masyarakat Indonesia. Ternyata, dalam banget ya maknanya, Guys. Wajib bangga dong, jadi orang Indonesia!