Sebuah tempat yang disebut penjara suci, bangunan yang menjulang tinggi, yang didalamnya terdapat orang-orang yang berpakaian rapi, merekalah para santri, yang berjuang tanpa henti. Pertama kali aku datang dan memulai dunia baru ku, aku masih teringiang dengan kalimat “Ke Pesantren Apa Yang Kau Cari..?!”. Disinilah aku yakin, sebuah kesuksesan yang akan ku raih.

Sumatra adalah tempat kelahiranku, nenek kakeklah yang menjagaku, kedua orang tuaku pergi tuk berjuang ditanah Jawa. Hari-hari kecilku selalu habis dengan permainan bersama para teman-teman kecilku. Ketika aku memasuki jenjang SMP, aku bersama kawanku membuat sebuah janji kecil, yaitu kami ingin sekali masuk sebuah lembaga SMK, supaya bisa masuk sebuah kejujuran.

Tetapi, ada rencana besar di balik rencanaku itu. Sebuah panggilan dimana aku harus mengikuti kemauan orang tuaku, yaitu masuk ke sebuah pesantren yang ada di Jawa. Awalnya aku tidak pernah berfikir akan masuk kesebuah pesantren, dimana banyak sekali perturan yang harus dilaksanakan, diikuti dan ditaati, banyak sekali hafalan, materi pelajaran, serta banyaknya agenda kegiatan yang harus diikuti.

Awal mula masuk pesantren aku butuh sekali penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitar, bagaimana berkomunikasi baik dengan sesama teman, adik kelas, kakak kelas serta dengan guru-guru yang baru aku kenal. Masih ingat betul dengan nasihat yang diberikan oleh seorang ustadz yang disebut sebagai tokoh GAS para santri, beliau dikatakan sebagai tokoh GAS, karena beliau bisa berperan sebagai “Guru, Ayah dan Sobat” dimana kami selalu luluh dengan apapun yang beliau katakan. Diantaranya “Banyak orang yang menjadi bagian dari hidup kita, tetapi tidak bersama kita, tetapi banyak orang yang ada disekitar kita tetapi mereka bukan bagian dari hidup kita”.

Banyak sekali pengalaman, serta pelajaran hidup yang aku dapatkan di pesantren, mulai dari ibadah, cara belajar yang efektif, mengukiti banyak ekstrakulikuler yang sangat menguras tenaga dan pikiran tetapi tetap teratur. Setiap pergantian tahun selalua ada acara besar yang diadakan. Karena para santri selalu dikenalkan dengan kalimat “Istirahat adalah pergantian dari satu agenda ke agenda yang lain, dan istirahatnya para santri adalah di surga_Nya kelak”.

Yang membuat aku bangga menjadi seorang santri adalah, karena menjadi seorang santri, kita bisa berperan menjadi berbagai macam profesi, kita bisa merasakan bagaimana nyamannya menjadi anggota, meningkat lagi menjadi seorang pemimpin atau pengurus organisasi, belajar menjadi panitia dalam setiap acara, dan bisa langsung mengapresiasikan ilmu kita terhadap anak-anak diniyah.

Impianku sebagaimana anak rantau, aku ingin sekali membangun dan mengurus sebuah pesantren tahfidz, dimana sebuah pesantren yang akan membangun peradaban tahfidz modern. Sebagai gambarannya, aku ingin membangun masjid besar sebagai pusat ibadah para santri.

Disamping masjid akan dibangun sebuah perpustakaan yang terbuat dari kaca, berisikan buku-buku kuno dan modern, sehinga para santri bisa mengetahui sejarah zaman dahulu dan bisa menyesuaikan perkembangan islam didunia melalui buku-buku tersebut.

Alsannya kenapa aku ingin sekali membangun perpustakaan, karena aku sendiri sadar dengan kurangnya minat baca, nah dengan adanya perpustakaan yang dibangun sedemikian rupa, agar menarik minat baca para santri, maka akan lahirlah generasi muda yang berpengetahuan luas.

Disamping perpustakaan akan di bangun sebuah apotik, fungsinya agar selain para santri bisa lancar dalam menghafal Al-Qur’an meraka juga bisa menjadi para dokter hafidz yang  bisa menggabungkan antara ilmu yang ada didalam Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu kedokteran.

Selain itu, akan dibangun juga sebuah Studio, yang berfungsi sebagai tempat untuk membuat berita atau sebagai tempat untuk meliput dan mempublikasikan segala agenda yang diadakan oleh pesantren ini, tujuannya agar pesantren ini bisa dikenal oleh masyarakat luas serta bisa mendunia sekaligus.

PILIHAN EDITOR