Sebuah karya luar biasa kembali hadir dari goresan pena penulis kelas wahid negeri ini. Ya, Alberthiene Endah, salah satu penulis biografi paling beken seantero Indonesia baru saja menelurkan sebuah maha karya yang begitu indah. Novel berdasarkan kisah nyata ini begitu mengharu biru. Pembaca tak hanya diajak untuk larut dalam setiap ukiran kata yang dipahatnya, namun juga merenungkan betapa berharganya sebuah cinta yang tulus dalam keluarga.

review cahaya di penjuru hati
Foto :  IST/penjuruhati

Novel ini berkisah tentang Wim, seorang pemuda miskin keturunan Tionghoa yang berasal dari Sidoarjo. Kemiskinan yang membelitnya sejak lahir, telah membuatnya kenyang akan ejekan, hinaan, dan kesulitan hidup. Tumbuh besar dalam lingkungan yang keras dan hitam, Wim sadar bahwa dia harus keluar dari kemiskinan itu dan berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

PILIHAN EDITOR

Beruntung, kedua orang tuanya telah mendidiknya dan ketiga adiknya dalam kasih sayang dan keikhlasan. Sosok ibu yang pekerja keras dan tak mudah menyerah, telah menempa Wim menjadi lelaki yang pantang menyerah. Dia sanggup melakukan apapun demi meraih mimpinya. Karena karakternya tersebut, Wim sempat mengalami beberapa hal yang tak mengenakkan. Di antaranya berseteru dengan oknum polisi, anak-anak orang kaya, atau bahkan gurunya sendiri. Namun, didikan Bapaknya yang halus sering kali menyadarkannya akan hakikat kehidupan.

review cahaya di penjuru hati
Foto :  IST/penjuruhati

Meski sedikit bengal, Wim sebenarnya memiliki otak yang encer. Karena kepintarannya itulah, nasib membawanya kuliah ke Yogya, sebuah kota yang sarat makna kehidupan. Di sinilah, babak penting kehidupannya dimulai. Bertemu jodoh, hingga akhirnya harus merelakan diri kehilangan orang yang sangat dicintainya. Poros keluarganya, cahaya kehidupannya.

Penulis mengaduk-aduk emosi pembacanya lewat lemparan alur flasback yang sangat cair. Meski harus berulang kali maju mundur mengikuti alur cerita, pembaca tak akan bosan. Sebaliknya, mereka justru akan semakin dalam tenggelam dalam adukan rasa, pahit, getir, sedih, bahagia bahkan menyala-nyala. Pemilihan diksi yang menggigit, menjadikan novel ini begitu hidup. Seolah-olah pembaca mengalami dan merasakan kata-kata yang tertulis.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin menemukan kembali arti cinta, keluarga, ketulusan dan perjuangan. Tak hanya itu, novel ini juga mengajarkan betapa pentingnya berserah kepada Sang Pemberi hidup agar kita ikhlas menjalani takdir. Kabarnya, novel ini juga akan diangkat ke layat lebar, dan digadang-gadang akan memiliki alur seperti Habibie dan Ainun. Sang sutradara pun sama, yaitu Hestu Saputra, yang juga sukses menggawangi film Merry Riana dan Athirah. Bagaimana, kamu tertarik? Buku ini sudah tersedia di toko-toko buku di seluruh Indonesia, ya guys!