Hidup itu suatu kebahagian yang harus dinikmati bagi para ekstrovert. Untuk apa menjadi pemalu? Rugi doang! Begitu anggapan mereka. Buat apa cuma diam pas lagi kumpul bareng? Hei, kita di sini untuk saling bertukar pikiran bukan untuk merahasiakan sesuatu. Memang terkesan arogan bila begini.

Hidup itu akan bermakna bila punya banyak teman, tahu banyak informasi tempat keren, bisa punya pasangan, enggak jadi pemalu. Ini kebenaran yang tidak bisa dibantah!

Menyikapi para ekstrovert yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan orang introvert, kita jadi tahu betapa Yang Maha Kuasa sangat adil menyeimbangkan dunia ini. Ada putih, ada hitam, ada abu-abu, dan ada lain warna lagi.

Bila dilihat dari keseharian mereka, sangat membuka diri terhadap dunia, maka ekstrovert dapat diartikan sebagai manusia yang lebih banyak beraktivitas. Banyak beraktivitas tanpa banyak berpikir. Mereka akan merasa lebih senang berada dalam keramaian daripada di tempat sunyi.

Di dalam diri para ekstrovert begitu menyenangkan. Semua orang sangat menginginkan menjadi pribadi seperti ini. Periang, pandai bicara di depan banyak orang, pandai mengawali percakapan, dan sangat lihai membuat suasana tidak menjadi membosankan, lebih sering dilirik dan menjadi pusat perhatian. Para ekstrovert sangat humoris, sekalipun ada yang tenang menghanyutkan biasanya pandai melenakan hati orang.

Pilihan Editor



Manusia ekstrovert lebih sering dijadikan tolak ukur laku tidaknya ia berada di dunia hiburan. Banyak dari mereka berkecimpung di dunia entertainment dengan menjadi aktor, atau menjadi pelawak dengan melucu tanpa tanpa rasa malu.

Umumnya jumlah mereka sangatlah banyak. Saking dominan, kita tidak pernah tahu di mana orang-orang yang merasa tersisihkan (introvert).

Dari sikap positif para ekstrovert, ternyata menyimpan sisi negatif juga. Jelas benar adanya, bahwa kesempurnaan bukan milik manusia.

Terkadang mereka kurang peka bahkan sulit peka terhadap sesama. Ini kebalikan dari introvert. Ketika para introvert yang jumlahnya kalah jauh dari mereka, mampu menganalisa dan bisa respek pada lingkungan atau orang di sekitar, mereka justru cenderung apatis. Rata-rata beranggapan, buat apa memikirkan hal kecil tidak terlihat bila ada hal besar di depan mata yang jauh lebih menarik. Ini masih dapat diterima, namun akan menyebalkan ketika sudah enggan peka malah suka mengucilkan.

Mengucilkan yang tidak sejalan pemikiran dengan mereka. Ketika sedang bersama dengan orang pendiam, langsung malas berdekatan. Pada situasi tertentu disandingkan dengan orang pemalu, langsung diolok-olok. Segala hal di luar zona kebebasan mereka, pasti akan langsung dicap buruk.

Ekstrovert bukanlah kesempurnaan hidup melainkan kehidupan yang sangat membutuhkan keseimbangan. Tidak selamanya tertawa itu memuaskan hati, terkadang berdiam diri dan menangis diperlukan untuk melampiaskan segala perkara.