keadaan aleppo yang sebanarnya
Kisah

Menguak Keadaan Aleppo yang Sebenarnya dari Kisah Para Jurnalis

Foto : nbcnews.com

Kisah dari Aleppo, Suriah. Dari bumi yang mengalami pergolakan panjang, darah ditumpahkan, bom terdengar di mana pun kau memijakkan kaki, juga para dokter yang tak kuasa menahan tangis mereka tatkala mendapati para pasien kehilangan sanak saudaranya. Dalam deretan panjang kisah ini, kau akan belajar bersyukur bahwa kehidupan memberimu sejuta alasan untuk tetap melakukan kebaikan hingga Tuhan memanggilmu.

Lebih dari lima tahun lamanya dunia telah menyaksikan aksi protes terhadap rezim Suriah yang berubah menjadi perang berdarah di abad ini. Setiap aksi dan tindak kekerasan terekam jelas dalam sebuah video dan berbagai foto yang telah ter-upload ke dunia maya hingga seluruh dunia menyaksikannya. Kau tahu kawan? Semua itu benar adanya dan terjadi di depan monitor kalian.

Ribuan cuplikan online bahkan secara detail memperlihatkan kerusakan dan kematian yang membelenggu Kota Aleppo, dan yah.. kejahatan terus berlanjut. Menurunnya pemberitaan perang menjadi salah satu faktor pendorong para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan politik serta militer guna mengakhiri tragedi tersebut. Di Suriah, kekejaman diputarbalikkan, dianggap sesuatu yang biasa. Artinya, semakin banyak kita melihat kekerasan dan penderitaan, maka semakin kecil pula kesempatan untuk mengakhiri semua itu.

Pilihan Editor

Seluruh peperangan yang terjadi diklaim sebagai bentuk perjuangan bagi Aleppo, kota terbesar di Suriah. Peperangan itu melibatkan berbagai sisi; oleh kelompok militan sebagai pihak oposisi yakni Nusra dan ISIS, Turki, Prancis, Amerika Serikat, Iran, Iraq, Inggris, Kurdis serta tentara Arab Suriah.

Hampir seluruh daerah dibanjiri oleh para penembak. Daerah-daerah itu hancur diserang oleh para pelaku pom bunuh diri, gas berbahan kimia, dan serangan bom yang berasal dari udara. Namun seluruh kematian, kejahatan, pembunuhan massal, pengeboman udara di bagian timur Aleppo oleh tentara Suriah dan Rusia, peperangan yang tidak seimbang antara jumlah bom dan manusia “sangat nyata”

Seluruh jurnalis sudah akrab dengan keadaan genting yang mengerikan, tim penyelamat berlari berhamburan untuk mencoba menyelamatkan para korban, teriakan sanak saudara memecah Aleppo, debu berjatuhan, hingga dikejutkan dengan kematian anak-anak yang terpampang nyata di depan kamera. Penyerangan itu terjadi sangat lama karena pemberitaan mengenai mereka di media luar Suriah kian surut dan mengalir begitu saja. Ke manakah dunia?

Ketika musim panas datang, para jurnalis terus mencoba dan melaporkan segala hal yang terjadi di Suriah, terutama di Aleppo setiap harinya melalui Channel4.com. Seorang wanita bernama Wa’ad al Kateab membuka peluang bagi para jurnalis untuk menceritakan sepenggal kisahnya beserta keluarga yang berusaha mati-matian lolos dari serangan bom.

Setahun yang lalu, Waad membuat film yang mengisahkan seorang pemuda tengah bermimpi membangun kembali kotanya. Tepat pada waktu musim panas, banyak serangan bom udara yang membombardir wilayah bagian timur Aleppo, ia pun merekam peristiwa berdarah itu tatkala berada di dalam rumah sakit tempat suaminya bekerja.

Ia mendokumentasikan tragedi yang menimpa sebuah keluarga dan mengungkapkan bila banyak orang terjebak bersamanya di salah satu negara paling mengerikan di dunia bernama Aleppo. Dari sana, Waad lah yang mengijinkan para jurnalis untuk menceritakan keadaan bagian timur Aleppo persis seperti yang ia lihat.

“Mendengar suara dentuman keras di malam hari adalah sedikit bukti bahwa kau masih bernapas menghirup udara,  bahkan debu berjatuhan, atau bau darah dan daging anggota keluargamu.” —Waad al Kateab

Salah satu cerita datang dari Waad ketika dirinya dan sang suami harus pergi melawan rasa takut. Pada waktu itu, akses menuju beseiged Aleppo timur beberapa kali dilarang. Seluruh pekerja dan jurnalis internasional tidak diijinkan masuk ke dalam kota. Waad al Kateab tinggal di timur kota Aleppo.

Ia dan sang suami, Hamza al Khatib merupakan dokter di Al Quds (rumah sakit terbesar di daerah perang). Pada bulan Juli, pemerintah melakukan penguasaan terhadap bagian timur Aleppo yang membuat pasangan suami istri itu harus memberanikan diri melakukan perjalanan sembari menggendong bayi perempuan mereka di pundak.

Waad merekam perjalanan keluarga mereka yang tengah berusaha menghindari serangan bom dan tembakan api agar mampu menyelinap ke Aleppo melalui jalan Castello. Rute tersebut merupakan rute satu-satunya untuk keluar dari kota dan masuk ke wilayah bagian utara luar kota. Bertahun-tahun jalan Castello digunakan untuk kabur, menyalurkan makanan dan aneka keperluan ke wilayah pemberontak.

Namun pro-Assad terus mencoba untuk memotong rute. Meskipun begitu, tekad pasangan suami istri itu sangat kuat, apalagi Hamza. Ia berpikir bahwa setiap manusia memiliki peran besar untuk melawan kejahatan. Ia juga menjadi salah satu dokter yang tinggal di wilayah kota timur. Baginya, ia tidak memiliki pilihan lain namun harus terus bekerja.

“Kami tidak perlu repot-repot untuk mengatur alarm untuk membangunkan kami di pagi hari. Sebab, peluru dan serangan bom sudah melakukan pekerjaan ini,” —penduduk Aleppo.

Apa yang dilakukan Hamza al Khatib ketika tiba di rumah sakit?

Hamza dan temannya tengah berjuang menyelamatkan hidup para korban di ruang operasi, sedangkan sang istri merekam gambar yang membuat hatinya tersayat, mengerikan dan membuat pikiran siapa pun mampu meracau. Salah satu rekaman dramatis pada konflik Aleppo adalah ketika para dokter di rumah sakit membawa bayi laki-laki dengan jahitan di perutnya usai sang ibu terkena serpihan ledakan bom. Sang anak, Mohammed Hakeem baik-baik saja, namun ibunya terluka parah di kaki dan memerlukan tindakan medis.

Belasan anak meninggal dalam waktu dua minggu, sementara lainnya harus menderita berbulan-bulan. Para aktivis lokal mengatakan bahwa ratusan orang meninggal dalam semalam akibat gencatan senjata antara Rusia dan Amerika gagal, namun jumlah korban tidak dapat diverifikasi dengan tepat.

Pihak UN (United Nation) mengatakan bahwa berbagai fasilitas rumah sakit dihancurkan “satu demi satu” di wilayah bagian Aleppo timur.

“Ada banyak peristiwa menyedihkan di sini – seluruh keluarga dihabisi, anak-anak pun menjadi yatim piatu. Kematian begitu dekat dengan dengan semua orang. Rasanya kematian itu mengikuti kami semua.” —Waad Al Kateab.

Wissam Zarqa, seorang penduduk di bagian timur kota Aleppo sekaligus berprofesi sebagai guru bahasa inggris memberitahu bahwa seluruh orang ketakutan dan pergi karena mereka dianggap sebagai teroris oleh Rezim Suriah dan berpeluang ditangkap. “Kami mungkin akan disiksa hingga mati.”

“Saya lebih baik lumpuh di atas lantai dari pada hidup di antara pemberontak dan para monster” —Lama Khawashki, seorang penduduk yang melarikan diri dari Aleppo timur.

Rezim Suriah sebelumnya telah mengepung para pemberontak di bagian timur kota; menjebak para pemberontak oposisi dan 250.000 warga sipil menjadi korban atas peperangan keduanya. Suriah dan Rusia dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dibalik kejahatan perang dan penggelontoran berbagai macam jenis senjata.

Setandan bom bahkan menghujani para warga sipil di kediaman mereka sendiri disertai gas klorin, senjata termobarik dan peluru. Bukan hanya rezim saja, kelompok pemberontak juga dianggap sebagai biang kejahatan karena menyerang wilayah warga sipil tanpa pandang bulu.

Sejak berada di kota, rezim Suriah mulai melakukan serangan besar-besaran untuk menghentikan pemberontakan di kota timur. Pada akhir November, Rusia dan Suriah meluncurkan serangan udara yang kian memperparah keadaan kota di tengah-tengan konflik. Usai berbulan-bulan tidak ada pergerakan, para pemberontak kehilangan wilayah penting mereka di daerah yang sudah dikendalikan dan diisi oleh para pengungsi yang mencari tempat berlindung.

Konflik pun kembali memanas setelah Presiden Putin berbicara pada Trump yang kala itu masih menjabat sebagai kandidat presiden Amerika Serikat, namun seperti apa hubungan keduanya tidak diketahui secara pasti hingga saat ini. Semuanya ditunjukkan melalui sikap dan tindakan yang mereka torehkan ke Suriah.

“Kami bahkan tidak bisa menyembunyikan segala hal yang terjadi di dalam, terlalu banyak kejahatan dan kehancuran akibat hujan bom serta peluru” —Baladi’, salah seorang penduduk kota Aleppo Timur yang berbicara pada kantor berita Aleppo Timur.

2 Comments

2 Comments

  1. pibiinka

    25 April 2017 at 6:45 am

    Ya allah..serem bener 😭😭😭

  2. Bablofil

    26 April 2017 at 12:55 am

    Thanks, great article.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Populer

To Top