Halo, Takaiters!

Sebuah desa di Jepang telah menggegerkan jagat maya dengan mempublikasikan keinginan mereka untuk menciptakan kota bebas limbah yang mereka targetkan berhasil di tahun 2020. Terdengar tidak mungkin, apalagi bagi masyarakat Indonesia yang masih sangat buruk dalam mengelola sampah. Dialah Kamikatsu, kota kecil di Jepang yang masyarakatnya sebenarnya sudah cukup sukses dalam mendaur ulang sampah hingga 80 persen pada tahun 2015.

Kamikatsu hanya dihuni oleh 1.894 penduduk, merupakan daerah termiskin dari empat pulau besar yang dimiliki Jepang. Meskipun memiliki jumlah penduduk yang terbilang sedikit, mereka memiliki peraturan yang sangat ketat mengenai sampah. Hal tersebut mampu menghemat biaya pengeluaran pemerintah kota, serta membuat mereka lebih kreatif dalam menciptakan hal-hal baru hasil daur ulang sampah.

Di Kamikatsu sampah dibedakan menjadi 34 jenis sampah, dengan tujuan agar mempermudah mereka untuk mendaur ulang sampah

Kamikatsu

Jika di banyak negara maju sampah dipisahkan menjadi beberapa jenis saja seperti gelas, kertas, sampah bio, sampah rumahtangga dan plastik. Berbeda dengan Kamikatsu, disini sampah dibedakan menjadi 34 jenis sampah, termasuk kaleng alumunium, kaleng baja, kertas karton dan kertas selebaran. Hal tersebut memudahkan mereka untuk mendaur ulang sampah dan mengolahnya menjadi bahan yang lebih berguna.

Program zero-waste mulai mereka rencanakan pada tahun 2003. Awalnya mereka membakar seluruh sampah yang ada disana agar kota mereka bersih. Nyatanya hal tersebut berakibat buruk bagi lingkungan. Selain itu, banyak masyarakat Kamikatsu yang mengalami gangguan kesehatan akibat pembakaran sampah.

Pembakaran sampah bukanlah solusi yang baik untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Akhirnya pemerintah Kamikatsu mengeluarkan peraturan untuk tidak membakar sampah dan mendaur ulang sampah-sampah tersebut. Meski awalnya masyarakat tak begitu antusias dengan peraturan baru tersebut, hasilnya kini mereka berhasil mengelola sampahnya dengan baik dan sudah mengkategorikannya dalam 34 jenis sampah.

Masyarakat Kamikatsu membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memilah-milah sampah dan mencucinya yang kemudian mereka bawa ke pusat pembuangan sampah yang mereka sebut Zero Waste Centre

foto: ww.elconfidential.com

Kamikatsu tidak memiliki tempat pembuangan sampah. Setiap orang bertanggungjawab atas sampah-sampahnya sendiri. Masyarakat Kamikatsu membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memilah-milah sampah dan mencucinya yang kemudian mereka bawa ke pusat pembuangan sampah yang mereka sebut Zero Waste Centre dan kembali di sortir sesuai dengan jenisnya disana. Namun hal tersebut tidak jadi masalah bagi mereka demi menciptakan kota zero waste.

Pegawai Zero Waste Centre juga sangat aktif membantu warga menyortir sampah. Mereka juga menjelaskan berapa jumlah nominal yang bisa dihemat dari sampah mereka dan akan menjadi apa sampah yang didaur ulang tersebut.

Untuk satu botol minuman saja mereka membaginya dalam tiga kategori. Badan botol, tutup dan labelnya masing-masing dipisahkan menjadi jenis sampah yang berbeda. Selain itu, sesama botol plastik juga belum tentu ditempatkan menjadi satu kategori.

Sejak diterapkannya program zero waste ini, mulai bermunculan toko-toko barter dimana setiap orang bisa menukarkan barang-barang yang tidak mereka gunakan lagi dengan barang lain yang mereka butuhkan. Ada pula toko yang menjual barang-barang hasil daur ulang, termasuk toko kimono dari sampah.

Mendaur ulang sampah dengan baik, ternyata membuat banyak orang dari luar Jepang berdatangan melihat pegolahan sampah secara langsung

Foto: 2.bp.blogspot.com

Saat ini, masyarakat Kamikatsu sudah mendaur ulang sampah mereka sebanyak 80 persen, 20 persen sisanya adalah sampah ramah lingkungan yang mudah hancur dan sampah-sampah tersebut tidak dibakar, melainkan dikubur. Tetapi mereka terus berusaha untuk mencapai tujuan mereka menjadi kota zero waste dan mendaur ulang seluruh sampah yang mereka hasilkan.

Karena keberhasilan mereka yang cukup baik dalam mengelola sampah, banyak orang dari luar Jepang berdatangan ke Kamikatsu untuk melihat langsung cara mereka mengelola sampah yang patut dicontoh untuk tetap menjaga kesehatan bumi.

Indonesia patut meniru cara masyarakat Kamikatsu dalam mengatasi masalah sampah. Takaiters, kamu tak perlu menunggu pemerintah. Kita sebagai masyarakat awam bisa memulainya dari diri kita sendiri untuk menjaga lingkungan tetap bersih, serta menjaga bumi supaya berumur panjang.