Holla, Takaiters!

Belakangan ini persepakbolaan Indonesia mulai naik gaungnya, setelah berbagai kasus membelit dan hampir menenggelamkan olahraga yang paling diminati oleh seantero negeri ini.Pembenahan-pembenahan dalam tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pun terus dilakukan dalam upaya meningkatkan kinerja manajemen.

Ada yang baru dan segar dalam susunan organisani PSSI, yaitu bergabungnya seorang perempuan muda berusia 32 tahun bernama lengkap Ratu Tisha Destria.

Ratu Tisha Destria menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PSSI baru menggantikan Ade Wellington yang melepaskan jabatannya pada bulan April 2017 yang lalu.

Tisha, sapaan akrabnya, tak mudah bersaing dengan 31 pelamar lain yang menginginkan kedudukan yang sama di PSSI. Dari 31 kandidat, PSSI menyaringnya menjadi 16 kandidat. Dan terakhir terpilihlah tiga kandidat kuat termasuk Tisha.

Nama Tisha memang telah digembor-gemborkan oleh Ketua Umum PSSI sebagai calon terkuat yang layak menjabat sebagai Sekjen PSSI baru.

Pilihan Editor

Ditunjuknya Tisha menjadi Sekjen PSSI hingga tahun 2020 adalah sebuah kejutan, mengingat usianya yang masih sangat muda. Namun, hasil dari  fit and proper test yang telah dilakukan oleh pihak Komite Eksekutif (Exco) PSSI, yang kemudian dilanjutkan dengan rapat bersama menghasilkan keputusan terpilihnya Tisha sebagai Sekjen yang baru.

Kiprah Tisha dalam dunia sepakbola tentu tidak seumur jagung, ia sudah merintisnya sejak masa SMA dengan mengurusi berbagai hal tentang olahraga paling populer di dunia itu.

Namanya mencuat di jagat sepak bola nasional sejak menjabat sebagai Direktur Kompetisi PT Gelora Trisula Semesta (PT GTS). PT GTS adalah operator kompetisi yang ditunjuk menjadi operator Indonesia Soccer Championship (ISC) tahun 2016.

Tisha kembali ditunjuk memegang jabatan yang sama di LIB yang menggantikan PT Liga Indonesia.

Kecintaannya terhadap dunia bola, membawanya mendapatkan beasiswa untuk mengikuti program FIFA Master-Internasional Master in Management, Law and Humanities Asia. Dia, bersama 20 peserta lain dari berbagai negara, menjalani beasiswa itu sejak September 2013.

Perempuan kelahiran 1985 ini, menjalankan program beasiswa dari FIFA sekitar 10 bulan di tiga negara Eropa, yaitu di De Montfort University di Leicester (Inggris), SDA Bocconi School of Management di Milan (Italia) dan University of Neuchatel (Swiss).

Salah satu bekal yang membawa Tisha mendapatkan beasiswa itu adalah statusnya sebagai Co-founder LabBola yang menyediakan data statistik sepak bola lokal dan internasional.

Berbekal dengan berbagai ilmu dan pengalaman yang telah ia dapatkan, Tisha sangat percaya diri dapat menjalankan tugasnya dengan baik dalam organisasi olahraga yang mayoritas digawangi laki-laki itu.

Selamat Tisha!