Di daerah jawa timur tepatnya pada objek wisata Pesarehan di Desa Wonosari, Kecamatan wonosari, Kabupaten Malang, terdapat sebuah ritual yang masih dijalankan sampai saat ini, yaitu ritual satu suro. Ritual satu suro dilakukan untuk memperingati tahun baru islam (1 Muharram).

Tradisi yang telah berlangsung lama tersebut masih dipegang erat masyarakat daerah gunung kawi, ritual tersebut bertujuan untuk menyampaikan rasa sukur untuk apa yang telah diberikan kepada Tuhan. Ritual ini dilaksanakan secara ramai dan diikuti warga Desa Wonosari yang berjumlah 15 RW.

Di Desa wonosari terdapat 2 makam keramat, yaitu makam Eyang Djugo dan Iman Sudjono. Eyang Djugo dan Iman Sudjono merupakan tokoh penting yang dahulu membuka lahan di lereng Gunung Kawi. Beliau adalah tokoh yang mengajarkan budaya dan adat istiadat, serta mengusir penjajahan Belanda pada masa itu. Beliau juga yang menjembatani hubungan antara orang jawa dengan orang tionghoa. Sehingga mereka dapat akur dan hidup dalam satu lingkungan yang sama.

Saat ini orang Tionghoa membangun komplek klenteng di depan makam Eyang Djugo dan makam iman sudjono, bersebelahan dengan bangunan masjid. Hingga saat ini hubungan kedua etnis ini masih harmonis dan saling bergotong royong untuk melaksanakan ritual satu suro.

Pilihan Editor



Ritual satu suro dilakukan dengan cara kirab atau arak-arakan secara ramai bersama dengan penduduk desa. Hal yang menarik dari kirab ini adalah, adanya percampuran budaya. Ritual yang menyajikan berbagai tarian tradisional, drumband, pakaian adat, barongsai, hadrah marawis dan arak-arakan boneka. Barongsai sendiri merupakan budaya dari tionghoa, sedangkan hadrah marawis merupakan kebudayaan dari islam.

Kirab ini dimulai dari terminal gunung kawi, sebelum acara dimulai akan diberi sambutan oleh ketua adat. Setelah sambutan selesai, maka dimulailah kirab ini. Semua peserta diberangkatkan berdasarkan nomer RW di desa, dan peserta kirab berjalan sejauh 3 km menuju Pesarahan Gunung Kawi dengan jalan yang dipenuhi oleh penonton dari dalam maupun luar negeri.

Sesampainya di Pesarahan, acara ritual satu suro sudah hampir pada puncaknya. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pembakaran patung buto atau ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah simbol ke-angkaramurka-an yang ada pada manusia, ogoh-ogoh harus dibakar untuk membuang hal negatif pada masyarakat gunung kawi dan selalu dilindungi oleh tuhan. Yang membuat ogoh-ogoh adalah RW yang menjadi juara pada ritual satu suro tahun lalu.

Sebelum pembakaran ogoh-ogoh, dilakukan doa dan makan bersama. Setelah itu dilakukan tarian-tarian yang diiringi oleh musik tradisional dan penyerahan tombak kepada tutua adat desa untuk dilemparkan menuju ogoh-ogoh. Dengan dilempanya tombak, maka dimulailah pembakaran patung ogoh-ogoh sampai menjadi abu.

Cara ritual satu suro Gunung Kawi merupakan sesuatu yang menarik bagi wisatawan asing maupun lokal. Semua persiapan sebelum diselenggarakan acara ini telah dilakukan secara matang. Maka para wisatawan tidak merasa kesusahan ketika ingin menonton atau pun menginap selama acara itu berlangsung.

Ritual ini merupakan tradisi yang telah lama dilakukan untuk melestarikan budaya leluhur. Tradisi ritual satu suro merupakan antusias yang tinggi bagi warga Desa Wonosari, itu terbukti dengan meriahnya acara dan ramainya wisatawan yang ingin menonton ritual ini. Masyarakat bergotong royong untuk melaksanakan tradisi yang dilakukan satu tahun sekali. Mereka berharap dapat hidup secara damai, aman, dan terhindar dari hal yang tidak baik.