Bumi Minangkabau patut berbangga hati. Pasalnya, sudah banyak putra putri Minang yang menorehkan prestasi yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah novelis perempuan pertama di Indonesia ini.

Sariamin Ismail adalah namanya, atau sering disebut dengan Selasih atau Seleguri. Mungkin banyak Takaiters yang nggak kenal dengan nama ini ya? Well, kalau kalian penyuka novel, kemungkinan besar sih bakalan familiar, terutama dengan novelnya yang berjudul Kalau tak Untung.

Lahir di Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, pada 9 Juli 1909, perempuan ini kelak lebih dikenal dengan nama Sariamin. Meski begitu, tidak ada informasi lengkap dan akurat mengenai pergantian nama ini, Guys. Demikian juga, ada beberapa referensi yang menyebutkan tanggal kelahiran Selasih bukan 9 Juli, melainkan 31 Juli.

Pilihan Editor



Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah guru tahun 1925, Sariamin mengabdikan diri pada dunia pendidikan hingga menjadi kepala sekolah di Meisjes Vervolog School (MVS). Sejak saat itu, Sariamin terus berpindah domisili, mengikuti tugas mengajar yang diembannya. Selama bertugas sebagai pendidik itu, Sariamin terus menelurkan berbagai karya.

Tahun 1926, Sariamin mulai mengirimkan tulisannya ke surat kabar dengan nama samaran Sri Gunung. Karir kepenulisannya makin naik hingga tahun 1930 beliau menjadi ketua SKIS (Serikat Kaum Ibu Sumatra) cabang Padang Panjang dan menulis untuk majalah Soeara Kaoem Iboe Soematra serta Harian Persamaan.

Sariamin adalah salah satu orang yang mengutuk poligami dan menekankan pentingnya hubungan keluarga inti di Minangkabau. Selain itu, Sariamin juga sangat vokal dalam mengkritisi ketidakadilan gaji bagi pegawai perempuan.

Tahu nggak, Guys, ternyata selain Selasih dan Seleguri, perempuan tangguh ini memiliki banyak nama samaran alias nama pena untuk berbagai karyanya. Sebut saja Sri Tanjung, Ibu Sejati, Bundo Kanduang, atau Mande Rubiah. Hal ini bertujuan untuk menghindari kemungkinan penangkapan akibat tulisan-tulisannya yang berbau politik.

Tahun 1933, Sariamin menerbitkan novel pertamanya berjudul Kalau tak Untung yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Karya inilah yang menjadikannya sebagai novelis perempuan pertama di tanah air. Selepas menikah di tahun 1942, Sariamin terus menghasilkan karya dan mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sariamin menjadi anggota DPRD Riau dan menelurkan novel terakhirnya berjudul Kembali ke Pangkuan Ayah di tahun 1986 serta buku antologi dan film dokumenter tentang kisah hidupnya. Sariamin meninggal tahun 1995 pada usia 86 tahun di Pekan Baru, Riau.

Nah, itu tadi sedikit cerita tentang Sariamin alias Selasih, novelis perempuan asli Minangkabau yang membanggakan. Semoga bermanfaat ya, Guys!