Hai, Takaiters!

Gresik merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Selain mendapatkan julukan sebagai kota santri dan kota industri, Gresik juga mempunyai peninggalan seni budaya, yaitu damar kurung.

Damar kurung merupakan lukisan yang ditorehkan pada lampion atau lentera. Lukisan yang ada pada damar kurung menggambarkan tentang manusia dan kegiatan kehidupan sehari-hari masyarakat Gresik yakni kesibukan di pesisir dan juga di ombak, karena itulah Damar Kurung dijadikan ikon dari kota Gresik.

Lentera Damar Kurung, Legenda Budaya Gresik yang Mulai Memudar
Foto :/disparbud.gresikkab.go.id

Damar kurung mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia setelah diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Mbah Masmundari. Sebenarnya damar kurung sudah ada sejak zaman Hindu-Budha. Namun sayang, dulu banyak yang tidak mengetahui damar kurung. Keberadaan damar kurung kurang berkembang dan hampir punah.

Sebelum diperkenalkan oleh Mbah Masmundari, seni damar kurung hanya akan muncul pada saat moment tertentu saja, khususnya pada saat bulan Ramadan dan diletakkan atau digantung di depan rumah penduduk. Bahkan lentera damar kurung ini dibuat mainan oleh anak-anak kecuali di bulan Ramadan.

Lentera Damar Kurung, Legenda Budaya Gresik yang Mulai Memudar
Foto : https://www.ngopibareng.id

Lampion atau lentera pada damar kurung berbeda dengan lampion China yang berbentuk bundar, lampion damar kurung ini berbentuk kubus. Mbah Masmundari merupakan seorang tokoh fenomenal yang ikut melestarikan damar kurung. Beliau melukis damar kurung sejak muda sampai akhir hayatnya.

Sebenarnya ada pakem-pakem yang harus dipatuhi dalam melukis damar kurung. Mbah Masmundari merupakan salah satu pelukis damar kurung yang sangat patuh pada pakem-pakem yang ada:

  • Harus mempunyai mahkota segitiga di atasnya (menyimbolkan hubungan antara manusia denga Tuhan)
  • Harus memiliki segituga yang mengarah ke bawah (mengandung makna bahwa Tuhan menurunkan berkah ke bumi)
  • Masing-masing sisi dibagai menjadi dua babak cerita.
Related image
Foto: kelanakota.suarasurabaya.net

Damar kurung karya Mbah Masmundari telah mengalami beberapa transformasi, yang pada awalnya menggunakan kertas minyak dan pewarna makanan, seiring perkembangan zaman berpindah menggunakan serat kaca dan tulang kayu dengan cat modern. Selain itu untuk lukisan di dinding menggunakan kanvas seperti bahan lukisan pada umumnya.

Tahun 2005 merupakan puncak fenomenal dari Mbah Masmundari. Lukisannya banyak terpasang di kantor-kantor pemerintahan di Jakarta. Bahkan Mbah Masmundari pernah bertemu langsung dr Presiden RI ke-2. Namun, sepeninggal Mbah Masmundari, fenomenal damar kurung mulai meredup.

Related image
Foto: yourou.id

Segala upaya pelestarian lukisan lentera damar kurung masih tetap dilakukan. Salah satunya adalah dengan mengadakan lomba lukis atau mengikuti pameran-pameran yang khusus menampilkan karya seni damar kurung.

Pada saat ini, damar kurung dijadikan lukisan dinding, kaos, batik dan arsitektur bangunan. Mudah-mudahan lukisan damar kurung tidak punah seiring dengan perkembangan zaman. Lenteramu takkan redup dan akan tetap menyala sepanjang masa. Nah, Takaiters patutlah kita berbangga dengan keanekaragaman budaya dan seni yang ada di Indonesia.