Dobo, sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Aru, pernah dinobatkan sebagai daerah lumbung ikan nasional pada tahun 2006. Tak heran jika di daerah ini kamu bisa menemukan banyak nelayan Bugis Makassar, Buton Bau-Bau, Ambon, Jawa, Sumatera yang bercokol di lautan Arafura.

Masyarakat Aru memiliki mekanisme konservasi lingkungan hidup flora dan fauna, habitat biotik dan abiotik yang terunik di dunia.

Melalui konsep petuanan, maka sumber daya alam hayati dan non hayati dapat dinikmati sebesar-besarnya oleh masyarakat adat yang tanpa campur tangan eksploitasi oleh imigran dan pemerintah Indonesia.

Setiap desa memiliki wilayah masing-masing untuk dijamah sebagai sumber pencarian hidup. Para pendatang tidak diperkenankan untuk mengeksploitasi wilayah tertentu, kecuali ada hubungan kekerabatan di desa tersebut.

Kita bisa melihat banyaknya kepiting, udang, dan teripang di daerah ini yang merupakan primadona ekspor unggulan. Pengusaha diizinkan masuk di tiap desa yang telah mendapat izin dari tetua adat dan kepala desa. Bahkan masyarakat Aru setiap 3 tahun sekali melakukan pesta panen teripang terunik didunia.

Pilihan Editor



Hasil konservasi lingkungan telah mengantarkan masyarakat bermandikan uang di atas peti yang masing-masing desa miliki. Puluhan sampai ratusan juta didapatkan tiap individu saat musim panen teripang tiba.

Tetapi tradisi jahiliyah rupanya belum juga pudar di daerah ini. Ironi kehidupan harus bertolak belakang dengan fakta kekayaan sumber daya alam. Mabuk-mabukan telah menutup akses kemajuan hidup di daerah ini.

Belum terhitung lagi soal siput mutiara di lautan Arafura telah mengantarkan Kabupaten Kepulauan Aru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mimika menjadi daerah primadona para imigran. Sejatinya Timika dan Dobo merupakan daerah dolar yang kaya akan sumber daya alam.