Hari ini, 31 Januari 2018 akan menjadi hari yang sangat istimewa. Kenapa? Karena akan terjadi peristiwa langka, gerhana bulan total! Berbeda dengan gerhana bulan lainnya, gerhana bulan kali ini cukup langka karena gerhana ini terjadi saat bulan berada dalam konfigurasi supermoon blue moon, dan blood moon.

Fenomena pertama adalah supermoon, yakni sebuah fenomena yang terjadi ketika bulan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi sehingga ukuran bulan ini menjadi 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang daripada biasanya.

Fenomena kedua adalah blue moon, yakni adalah bulan purnama yang kedua dalam satu bulan kalender. Fenomena yang terakhir adalah blood moon atau sering disebut gerhana bulan total, dimana warna bulan tampak merah seperti darah.

Ketiga fenomena yang terjadi pada saat bersamaan, yaitu blue moon, supermoon, dan gerhana bulan total adalah peristiwa yang cukup langka terjadinya. Hal ini disebabkan, peristiwa ini terakhir diamati pada 31 Maret 1866 atau 152 tahun yang lalu.

Pilihan Editor



Perkiraan kapan terjadinya fenomena alam ini tentu tak lepas dari peran para ilmuwan, ahli astronomi. Tahukah kamu, siapa ilmuwan pertama yang berhasil memperkirakan kapan terjadinya gerhana Matahari dan Bulan? Dialah Ibnu Yunus. Seorang ilmuwan muslim yang berasal dari Mesir.

Ibnu Yunus adalah ilmuwan muslim kelahiran Mesir. Beliau lebih sering dipanggil dengan sebutan Ash-Shadafi. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan menurun dari ayahnya. Ayahnya bernama Yunus bin Abdul A’la, adalah seorang penulis sejarah Mesir.

Nama Ibnu Yunus mulai dikenal sejak beliau berhasil memperkirakan terjadinya gerhana matahari dan bulan. Saat itu, ketika berada di Gunung Al-Mugaththam, Ibnu Yunus meneropong dua kali gerhana matahari, yaitu pada tahun 977 dan tahun 978 M.

Pada tahun yang sama dia juga meneropong gerhana bulan dan mencatat semua peristiwa yang terjadi di dalam tabel astronominya. Ibnu Yunus menghitung kecondongan daerah gugusan bintang-bintang dengan tingkat ketelitian yang sangat mengagumkan.

Karena hasil peneropongan Ibnu Yunus yang tepat, maka para astronom barat pada masa sekarang mengambilnya dan menjadikannya sebagai rujukan untuk menghitung gravitasi bulan.

Atas karyanya itu, beliau diangkat sebagai ilmuwan kerajaan oleh penguasa Mesir dan dibuatkan sebuah observatorium di bukit Muqathattham. Ibnu Yunus pun melakukan penelitian di observatorium tersebut selama 30 tahun. Dari penelitian tersebut, lahirlah sebuah karya yang berjudul “ Al-Zij Al Hakim Al Khabir”. Buku ini berguna untuk menentukan penanggalan dan arah kiblat bagi kaum muslim.