Halo, Takaiters!

Jika kita membicarakan Jepang, yang ada dibenak kita adalah anime, bunga sakura, atau samurai dengan baju perangnya. Tapi, yang akan saya bahas kali ini adalah penyakit hikikomori.

Hikikomori adalah sebuah penyakit anti sosial yang terjadi di Jepang, dimana seorang remaja atau orang dewasa mengurung diri di kamar atau rumahnya dan menolak berinteraksi dengan masyarakat.

Di Jepang hikikomori sudah melanda jutaan penduduknya, tapi tidak di Jepang saja penyakit ini juga terjadi pada negara-negara lain termasuk Asia dan Eropa.

Hikikomori bisa terbilang sebuah parasit yang merugikan orang lain, penderitanya tidak akan bekerja atau keluar rumah dan selalu bergantung pada keluarganya dalam menghidupi dirinya. Ketika anggota keluarga yang mengurusnya meninggal seorang hikikomori kemungkinan tidak akan bertahan hidup karena sudah tidak memiliki orang yang dapat melayaninya lagi.

Pelaku hikikomori melakukan tindakan mengurung diri dari dunia luar dengan memutuskan hubungan komunikasi dan tidak berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya.

Lalu, apa Penyebab terjadinya hikikomori? Yuk, simak ulasannya!

1. Masalah di Sekolah dan Tempat Kerja

Foto: Bidanku.com

Adanya masalah saat di sekolah atau tempat kerja yang membuat mereka merasa tertekan dan putus asa, kemudian mereka lebih memilih pasrah dengan mengurung diri dan tidak berinteraksi dengan dunia luar karena takut.

2. Bullying (Penindasan)

Foto:: cdn.diabetesdaily.com

Di Jepang sering terjadi kasus pembullyan yang dilakukan oleh teman-teman di sekolah, apalagi pembullyan yang terjadi kadang disertai dengan penyiksaan fisik. Hal ini menyebabkan hikikomori tertekan untuk pergi ke sekolah karena dia merasa takut saat bertemu pembullynya. Untuk mereka dunia akan terasa lebih aman saat berada dirumah dan tidak bersekolah.

Pilihan Editor


3. Nilai Akademik yang Rendah

Foto: pexels.com

Di Jepang nilai akademik yang tinggi dapat menjamin masa depan hidupnya, untuk ini para pelajar berusaha meraih nilai tertinggi dengan belajar keras dan mengikuti bimbingan saat selesai sekolah. Mereka juga harus memenuhi harapan dari keluarganya dengan mendapat nilai terbaik saat ujian sekolah. Tekanan yang besar dari keluarga dan minimnya dukungan dari orang terdekat dapat menyebabkan mereka stres dan depresi, sehingga mereka lebih memilih menjadi hikikomori dengan menutup diri dari dunia luar.

4. Gagal saat ujian

Foto: pexels.com

Gagal saat melakukan ujian, dapat menyebabkan seseorang menjadi depresi. Hal ini menyebabkan mereka tidak mau bersekolah atau melanjutkan pendidikan dan memilih berdiam dan mengunci diri karena malu.

5. Lingkungan yang Kurang Nyaman

Foto: img.carapedia.com

Pengaruh lingkungan yang tidak nyaman dapat membuat seorang menjadi hikikomori. Mereka merasa tidak memiliki kepercayaan terhadap orang-orang, hal ini bisa terjadi karena perbedaan dan penolakan pemikiran.

6. Sulit Meninggalkan Zona Nyaman

Foto: inovasee.com

Lepas dari zona nyaman memang sulit, hal ini terjadi karena orang tua selalu memanjakan mereka dengan menyediakan apa yang dibutuhkannya. Sehingga seorang anak malas untuk keluar rumah dan  lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam kamarnya.

Jadi, Apa Solusinya untuk Menyembuhkan Hikikomori?

Foto: ia.media-imdb.com

Mulailah dengan membenahi pikiran kita tentang hal-hal yang negatif dan mulailah berpikiran positif. Cobalah untuk berkomunikasi dengan dunia luar, seperti menghubungi teman atau saudara. Curhat juga merupakan sarana yang positif untuk menghilangkan keluh kesah yang dialami, dari pada memendam semua masalah sendiri hingga pada akhirnya menjadi putus asa.

Memberikan dukungan sangatlah berguna bagi penderita Hikikomori, janganlah menekan atau mengolok-olok mereka karena hal ini dapat membuat penderitanya semakin tertekan.

Hikikomori merasakan malu karena tidak memiliki pekerjaan seperti orang yang normal. Mereka menyadari dirinya tidak berharga dan tidak layak untuk mendapat kebahagian. Seorang hikikomori tersiksa akan pikirannya sendiri, padahal mereka ingin seperti orang normal yang bermain atau mencari pacar selayaknya orang lain.