Hallo, Takaiters!

Kamu mungkin pernah mengenal atau pernah membaca kisah Billy Milligan di novel Billy yang bercerita tentang hidup seorang pria pemilik 24 kepribadian. Di novel tersebut diceritakan betapa seorang Billy Milligan harus bertanggung jawab atas perbuatan kriminalnya, yang sebenarnya dilakukan oleh salah satu alter kepribadiannya. Atau dengan kata lain, Billy Milligan adalah penderita Dissociative Identity Disorder (DID) atau kepribadian ganda.

Dissociative Identity Disorder adalah gangguan kejiwaan yang cukup langka di dunia. Diperkirakan hanya 0,0001 persen penderita DID di seluruh dunia, atau sekitar 750 jiwa saja. Dan, salah satunya adalah gadis lajang 28 tahun asli Surabaya, Anastasia Wella.

Gadis yang akrab dipanggil Wella ini memiliki 10 kepribadian dalam dirinya. Di samping dirinya sebagai Wella (host atau tuan rumah jiwa), ada Ayu, Naura, Atin, Saraswati, Bilqis, Andreas, Paula, Ravelline, dan Siana.

Seperti pada umumnya, DID dipicu oleh trauma masa kecil, begitu pula yang terjadi pada Wella sebelum dirinya mengalami split identity. Wella melalui masa kecilnya dengan perundungan ekstrim semasa sekolah dasar di Surabaya. Yang akhirnya mengalami puncaknya di kelas IV SD pada tahun 1999, sehingga terjadilah perpindahan identitas sebagai bentuk  defense mechanism-nya.

Kala itu, Wella tidak ingat siapa yang mengambil alih kesadarannya. Begitu juga dengan masalah ingatan, Wella memiliki lubang ingatan dalam beberapa waktu kehidupannya. Hal ini akibat peralihan kepribadian yang membuat host seperti tak sadarkan diri.

Dikira Kesurupan

Foto: Hendra Eka/jawapos.com

Setelah beberapa kali mengalami split identity, Wella akhirnya memutuskan untuk berterus terang kepada orang tuanya. Kala itu tahun 2007 saat Wella mengungkapkan kepada ibunya keadaannya.

Namun, sayangnya, oleh sang ibunda, Wella dikira kesurupan. Sehingga alih-alih mendapatkan perawatan medis yang tepat, Wella diantar ke “orang pintar”. Beberapa “orang pintar” tersebut mengatakan bahwa Wella mengalami gangguan makhluk halus, dan harus melakukan ritual yang malah membuat dirinya sangat tidak nyaman.

Penyembuhan holistik semacam itu hanya bertahan dilakukannya sebanyak tiga kali. Karena selain membuatnya tidak nyaman, hasilnya pun tidak ada. Bahkan membuat berat badannya menurun drastis sebanyak 18 kg.

Melihat hal tersebut, orangtua Wella pun akhirnya membawanya ke dokter spesialis jantung di sebuah rumah sakit di Sidoarjo. Wella hanya mendapat diagnosis disharmoni jantung. Masih dengan rasa penasaran, Wella pun berpindah konsultasi ke dokter spesialis saraf. Hasilnya masih tetap tidak memuaskan dan menjawab keluhannya selama ini.

Wella pindah kunjungan ke dokter spesialis penyakit dalam. Diagnosa terakhirnya, Wella mengalami sakit mag. Karena akhirnya sakit mag itu berbulan-bulan tak kunjung sembuh, sang dokter pun memberi rujukan Wella untuk konsultasi ke psikiater. Oleh psikiater, Wella disebut mengalami gejala psikosomatik atau penyakit fisik akibat faktor mental. Terapinya, hanya berupa obat-obatan antidepresi.

Mengingat betapa berlikunya Wella mencari penjelasan serta pengobatan atas apa yang terjadi pada dirinya, itu tak lepas dari fakta minimnya pemahaman akan DID di Indonesia dan di dunia. Hal ini pula yang mencerminkan penderita DID seperti berada dalam dunia yang tak satu orang pun memahami. Belum lagi stigma penderita DID mengalami gangguan makhluk halus atau kesurupan, membuat mereka susah mendapat penanganan yang tepat. Tak heran, hampir 70 persen penderita DID dekat dengan perilaku yang berpotensi untuk membahayakan dirinya sendiri atau bunuh diri.

Bertemu dengan Dokter yang Tepat

Foto: brillio.net

Pada tahun 2009, Wella akhirnya membulatkan tekad untuk berobat ke Jakarta. Wella harus berjuang menjaga mood-nya setiap kali harus mengunjungi dokter. Karena setiap ada salah satu alter-nya yang menolak diperiksa, maka batallah sesi konsultasinya. Selama di Jakarta, sudah total sebelas kali Wella bergonta-ganti dokter. Mayoritas diagnosanya hanya panic attack atau bipolar.

Hingga kemudian, pada Maret 2013, Wella bertemu dengan dr Ni Wayan Ani Purnamawati SpKJ. Beliau adalah dokter ke-12 yang akhirnya menemukan kondisi DID-nya setelah dua tahun sesi konsultasi dan wawancara.

Pada awalnya, Wella menolak kenyataan kondisinya menderita DID. Namun, dokter Wayan meyakinkannya untuk bisa percaya dan menerima apa adanya penyakitnya. Karena tanpa keyakinan dan sikap acceptance dari kondisinya tersebut, maka proses pengobatan akan susah dilakukan.

Setelah beberapa kali menerima terapi penyembuhan, ditemukan 10 kepribadian yang masing-masing memiliki fungsi untuk menghadapi situasi maupun masalah yang tidak dapat diatasi oleh sang host personality-nya.

Pilihan Editor



Hidup Sebagai Dissociative Identity Disorder yang Penuh Kejutan

Foto: brillio.net

Sebagai penderita DID dengan 10 kepribadian, membuat hidup Wella sarat dengan ‘kejutan”. Dirinya kerap menemui kejadian-kejadian yang terkadang membuatnya harus bertanggung jawab untuk hal-hal yang tak pernah ia lakukan. Salah satu contoh ketika dirinya dikagetkan oleh tagihan kartu kreditnya sebesar Rp 11 juta, yang telah digunakan untuk membeli high heels, topi, dan beberapa barang yang sama sekali bukan kebiasaannya. Ternyata itu adalah ulah salah satu alter-nya, Revelline, remaja yang doyan selfie.

Ada juga cerita tentang alter si kecil Atin yang tiba-tiba mengirim pesan WhatsApp tengah malam  ke kekasih Wella, Yoandy, untuk dibelikan boneka jumbo.

Hal lain yang tak kalah mengejutkannya  adalah saat tiba-tiba di suatu pagi, di masa Wella masih bersekolah SMA, dia yang penganut Katolik datang menggunakan jilbab. Itu adalah alter-nya yang bernama Bilqis, 16 tahun yang rajin salat dan fasih membaca Al Quran serta menulis Arab.

Penggemar klub sepakbola Persebaya Surabaya ini menuturkan bahwa, split identity dialaminya saat ia merasa stress atau menghadapi masalah yang membuatnya tertekan. Alter mana yang akan menggantikan kesadarannya tergantung kebutuhan. Seperti saat Wella mengalami tekanan pekerjaan kantornya, muncullah Paula yang merupakan alter-nya yang jago matematika dan akuntansi. Urusan kantor pun segera beres.

Lain lagi kejadiannya ketika Wella “menjadi” sosok bocah laki-laki bernama Andreas. Andreas pernah merepotkannya ketika usianya 15 tahun, ia membunuh seekor kucing milik tetangganya. Wella harus pontang panting mengubur kucing itu sebelum ketahuan oleh sang pemilik.

Yang paling merepotkan adalah alter-nya yang bernama Ayu. Ayu ini lebih dikenal di lingkungan kos-nya dibanding dirinya. Karena Ayu sendiri yang memilih kamar kos pada saat itu. Ayu dikenal sebagai sosok pendiam namun memiliki keinginan bunuh diri yang tinggi. Selain itu, Ayu juga pandai menulis cerpen, yang ditaruh di dalam diari Wella. Fakta mengejutkan dari Ayu adalah, dia seorang lesbian.

Meskipun banyak alter-nya yang suka merepotkan, ada juga yang menyenangkan. Seperti Saraswati dan Siana. Saraswati adalah sosok feminin, jago menari, berasal dari Bali. Ketika “menjadi” Saraswati, Wella kerap kali tampil pada pertunjukan di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya. Sedangkan Siana adalah alter ke-10 yang merupakan perempuan paro baya dari Belanda. Siana hanya muncul dua kali selama rentang kehidupan split identity Wella. Membuat Wella kurang bisa mendeskripsikan sosoknya.

Terapi Dissociative Identity Disorder dengan Kucing dan Nonton Bola

Foto: Hendra Eka/jawapos.com

Setelah berbagai sesi wawancara dan penegakan diagnosa DID-nya, Wella disarankan menjalani terapi menggambar dan olahraga memanah. Dengan tujuan kegiatan tersebut bisa membuatnya mengontrol fokus dan meredam emosi. Disarankan pula untuk memelihara seekor kucing persia. Karena dekat dengan hewan peliharaan bisa membawa ketenangan untuknya.

Wella yang kini berpacaran dengan salah satu atlet panahan, juga kerap diajak menonton pertandingan sepak bola. Dengan berada di dalam kerumunan orang bisa menjadi terapi khusus untuk Wella. Ketika menonton pertandingan, Wella bisa dengan bebas berteriak dan meluapkan emosinya, yang akhirnya bisa mengurangi kecemasan dan membawa kelegaan baginya. Meskipun pengobatan utama, menurut dokter Wayan, tetap kombinasi terapi dengan psikofarmaka.

Kini Wella aktif berkampanye tentang kesadaran DID. Dia berharap orang tidak lagi memberikan stigma buruk dan salah kepada para penderita Dissociative Identity Disorder ini. Jangan ada lagi yang menganggap penderitanya kesurupan atau diganggu makhluk halus, hingga kemudian dipasung atau dikucilkan. Pengobatan yang tepat akan memberikan kesempatan sembuh yang besar pula.

Dari satu seminar ke seminar lain, Wella acapkali memberikan semangat dan berbagi pengalaman kepada para penderita DID maupun bipolar, untuk berani jujur menerima kondisinya dan mencari pertolongan yang tepat.