Halo, Takaiters!

April adalah bulannya Kartini. Pahlawan wanita Indonesia yang satu ini memang memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Digadang sebagai pembuka gerbang emansipasi, tanggal 21 April menjadi hari istimewa yang harus dirayakan. Hari kelahiran Kartini ini dianggap sebagai perayaan atas emansipasi wanita.

Namun, benarkah apa yang terjadi saat ini sudah seperti cita-cita dan harapan Kartini atas emansipasi wanita?

Semangat Kartini akan emansipasi wanita dimulai ketika Kartini berusia 12 tahun. Waktu itu, putri dari R.M. Adipati Ario Sosroningrat terpaksa tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Sesuai adat yang berlaku waktu itu, ia harus menjalani pingitan sampai nanti datang lelaki yang meminangnya. Perempuan kelahiran Rembang, 21 April 1879 ini menyadari ada kesenjangan hak antara perempuan dan laki-laki, terutama dalam hal pendidikan dan menyuarakan pendapat. Ia menginginkan adanya kesetaraan hak antara kaum perempuan dan laki-laki. Lantas kesetaraan yang seperti apakah yang dicita-citakan Kartini?

Emansipasi Wanita dalam Pandangan Kartini

Dalam salah satu nukilan surat Kartini tertanggal 4 Oktober 1902 yang ia tujukan untuk Prof. Anton dan istrinya, ia menjelaskan mengapa seorang perempuan seharusnya mendapat kesempatan mendapatkan pendidikan.

… . Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjasi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiba yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama.”

Pilihan Editor


Dari pemikiran yang ia sampaikan, jelas bahwa istri dari Raden Adipati Joyodiningrat memandang perlunya pengajaran bagi anak-anak perempuan agar kelak ketika menjadi ibu mempunyai kecakapan yang memadai.

Emansipasi Wanita Masa Kini

Seiring perkembangan zaman, cita-cita Kartini telah terwujud. Namun, sayangnya ruh emansipasi yang diusung wanita masa kini tak lagi sejalan dengan Kartini. Kartini menghendaki kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki tanpa melepas kodrat yang diberikan alam kepada perempuan.

Perempuan masa kini sibuk mengejar pendidikan dan karier yang gemerlang sehingga acapkali melupakan kodratnya sebagai perempuan. Kodrat seorang perempuan yang harus menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya. Sudah bukan hal baru lagi bahwa perempuan masa kini tak lagi pandai mengerjakan urusan rumah tangga. Urusan mengasuh anak ditanggungkan kepada babysitter-nya. Urusan pendidikan anak dialihkan kepada sekolah-sekolah berstandar internasional.

Beginikah emansipasi wanita yang dimaui Kartini? Mari menghormati Kartini dengan mengembalikan ruh emansipasi seperti cita-cita Kartini. Boleh sekolah setinggi-setingginya, tak masalah berkarier sampai puncak. Namun, jangan melupakan kodrat sebagai istri dan ibu bagi anak-anak yang keluar dari rahim kita. Biarkan setiap tanggal 21 April Kartini tersenyum dari surga melihat anak-cucunya merasakan buah perjuangannya.