Hai, Takaiters!

Pulau Penyengat adalah sebuah pulau kecil di provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini terletak di bagian barat pulau Bintan dan berjarak sekitar 2 km dari kota Tanjung Pinang, ibukota Kepulauan Riau. Perjalanan ke Pulau Penyengat dapat di tempuh dari Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu bermotor kecil yang dikenal dengan sebutan Pompong dan hanya butuh waktu sekitar 15 menit.

Pulau Penyengat memang hanya sebuah pulau kecil dengan panjang 2 km dan lebar 1 km, namun pulau ini menyimpan sejarah yang penting mengenai jatuh bangunnya Kerajaan Melayu di bagian selatan semenanjung tanah Melayu atau semenanjung Malaysia sekarang.

Takaiter, kamu ingin tahu bukan sejarah apa saja yang tersimpan di pulau kecil ini ? Inilah beberapa tempat yang merupakan peninggalan bersejarah yang sekaligus menjadi destinasi wisata bagi yang berkunjung ke pulau ini :

1. Mesjid Raya Sultan Riau

Jika kamu berkunjung ke Pulau Penyengat, pertama-tama ketika kamu tiba di pulau ini akan menemukan sebuah mesjid yang sangat indah dengan cat berwarna kuning yang letaknya tidak jauh dari dermaga Pulau Penyengat. Itulah Mesjid Raya Sultan Riau yang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Riau Lingga yang masih utuh.

Mesjid tersebut didirikan pada tahun 1803 oleh Yang Dipertuan Muda ke 7 Raja Abdul Rahman. Menurut sejarah mesjid tersebut dibangun dengan menggunakan bahan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat sedangkan catnya menggunakan kuning telur.

Di halaman mesjid terdapat dua buah bangunan yang disebut rumah Sotoh yang digunakan untuk musafir beristirahat dan juga sebagai tempat bermusyawarah. Dan terdapat juga dua balai sebagai tempat menghindangkan makanan ketika ada kenduri atau hidangan untuk berbuka puasa yang disajikan oleh pengurus mesjid.

Di dalam mesjid ada terdapat dua buah Al Qur’an yang ditulis dengan tulisan tangan. Salah Al Qur ‘an tersebut merupakan goresan tangan Abbdurrahman Stambul, seorang penduduk pulau Penyengat yang dikirim ke Mesir oleh Kerajaan Riau Lingga untuk memperdalam ilmu agama Islam.

2. Balai Adat Melayu

Balai Adat Melayu merupakan rumah panggung yang berhalaman luas dan menghadap ke laut. Balai ini berfungsi sebagai tempat menyambut dan menjamu tamu-tamu penting. Di bagian depan sebelah kanan dan kiri terdapat teks Gurindam Dua Belas, sebuah maha karya seni sastra yang ditulis Raja Ali Haji yang sudah sangat terkenal itu.

Di dalam ruangan terdapat pelaminan Melayu berhiaskan kain berwarna kuning dengan ciri khas adat Melayu. Di bawah balai adat terdapat sebuah sumur yang airnya bening dan rasanya tawar.

3. Komplek Istana Kantor

Komplek Istana Kantor merupakan bangunan yang sangat besar didirikan di atas lahan seluas 1 hektar dengan dikelilingi tembok yang tebal dan pintu gerbang di bagian belakangnya. Dahulu Komplek Istana Kantor adalah istana yang digunakan sebagai Kantor Pemerintahan Kerajaan Riau pertama kalinya pada masa pemerintahan Yang DiPertuan Muda VIII Raja Ali (1844 – 1857).

4. Benteng Pertahanan Bukit Kursi

Benteng ini merupakan bekas benteng pertahanan bangsa Melayu saat melawan Belanda. Benteng ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Haji. Benteng ini sudah tidak terlihat lagi kecuali parit parit pertahanan dan sejumlah meriam.

Pilihan Editor



5. Gedung Mesiu

Gedung ini merupakan gedung untuk menyimpan mesiu. Bangunan berwarna kuning ini dibuat dengan menggunakan beton dan dinding yang ketebalannya melebihi ketebalan bangunan biasa. Hal ini bertujuan untuk menjaga bubuk mesiu yang tersimpan agar tetap memiliki kualitas bagus. Terdapat dua buah jendela kecil yang dipasang jeruji besi agar cahaya dapat masuk ke ruangan tersebut.

6. Komplek Pemakaman Raja Ali Haji

Raja Ali Haji adalah tokoh dari Pulau Penyengat yang sangat terkenal. Beliau adalah seorang pujangga, ulama dan juga pahlawan nasional.

Komplek Pemakaman Raja Ali Haji terletak di kaki bukit kecil yang dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Terdapat beberapa bangunan di sekitar komplek pemakamam tersebut, diantaranya adalah sebuah mesjid kecil , berkubah dan bermihrab.

Di dalam bangunan utama terdapat cuplikan “Gurindam Dua Belas” sebuah karya sastra yang diciptakan Raja Ali Haji yang berbentuk puisi lama yang isinya banyak mengandung nasihat.

Ok, Guys. Itulah beberapa situs peninggalan sejarah Kerajaan Melayu yang masih tersisa saat ini di Pulau Penyengat. Bagaimana, Takaiters? Jika kamu berkunjung ke Kepulauan Riau jangan lewatkan untuk mampir ke Pulau Penyengat. Kamu pasti akan terkesan dan takjub dengan jejak-jejak yang tersisa dari kebesaran Kerajaan Melayu di masa silam tersebut.