Halo, Takaiters!

Banyak hal di Jepang yang membuat kita takjub. Kreativitas dan keunikan masyarakatnya seolah tak terbatas. Produk-produk dari negari sakura ini sangat memperhatikan detail bahkan untuk pernak-pernik simple.

Selain memperhatikan fungsi, estetika juga tetap dijaga. Tak heran retail seperti Daiso dan Miniso sangat booming di Indonesia. Dengan harga terjangkau, model kekinian, material berkualitas yang ramah lingkungan, serta berorientasi pada fungsi yang memudahkan penggunanya, produk Jepang selalu jadi incaran. Sepertinya masyarakat di sana membuat segala sesuatunya terkonsep baik. Sejalan dengan character building yang terpatri sejak kecil.

Bagi pemerintah dan masyarakat negeri matahari terbit ini, tidak ada sesuatu hal yang instan. Pendidikan karakter secara konsisten ditanamkan sejak 1700 tahun yang lalu. Membangun karakter suatu bangsa memang membutuhkan proses yang lama karena tujuannya untuk membangun peradaban di masa depan. Persepsi yang sama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah menjadi kunci akan kesuksesan pendidikan karakter itu sendiri. Tujuan jangka panjangnya untuk mewujudkan generasi masa depan yang mandiri, disiplin, kreatif, dan berorientasi pada lingkungan; namun tetap mempertahankan tradisi.

Titik berat pendidikan karakter dimulai sejak TK dan SD. Masa ini dinilai sebagai golden period untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Parameter keberhasilan anak TK antara lain sejauh mana anak bisa mengaplikasikan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari dan bukan seberapa lancar anak bisa membaca dan berhitung. Materi pelajaran lainnya diberikan secara bertahap seiring meningkatnya jenjang pendidikan.

Materi character building yang diberikan antara lain:

1. Anak-anak terbiasa membereskan sendiri mainan atau alat tulis yang baru saja dipakai

Foto: tonesoftjapan.blogspot.com

Anak-anak Jepang sangat mandiri baik di rumah maupun di sekolah. Sejak kecil mereka dibiasakan untuk melakukan pekerjaan sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Mereka tidak mau merepotkan orang lain terutama ibunya.

2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas serta belajar membersihkan toilet

Foto: mysanantonio.com

Sadar akan pentingnya kesehatan, mereka bahkan membawa sendiri serbet dari rumah untuk disimpan di sekolah. Selain hemat, juga tidak mengotori lingkungan dengan limbah tissue. Kebersihan toilet pun selalu terjaga karena sejak dini anak-anak diajari cara memakai toilet dengan benar.

3. Menghabiskan Makanan Tanpa Sisa

Foto: businessinsider.sg

Mahalnya biaya hidup dan grocery di negara tersebut membuat anak-anak paham bahwa menyisakan makanan merupakan pemborosan. Dan juga membuat kecewa ibu yang sudah bersusah payah menyiapkan bekal.

4. Selalu Membuang Sampah pada Tempatnya

Foto: albadr.blog

Prinsip mereka apabila melakukan hal sepele seperti membuang sampah saja tidak bisa, bagaimana melakukan hal lain yang lebih sulit. Hal ini difasilitasi oleh pemerintah dengan menyediakan beberapa tempat sampah yang terklasifikasi berdasarkan bahan sampah.

5. Meletakkan Sepatu dengan Rapi

Foto: gilig.wordpress.com

Selain untuk memudahkan dalam mencari dan memakai kembali, juga menghindari sepatu menjadi kotor dan rusak terinjak teman. Kalimat yang selalu dipakai untuk mengingatkan dan memotivasi murid dalam hal ini adalah: “Perhatikan sepatu, kalau sepatu rapi hati bersih. Kalau sepatu bersih, hati juga bersih.”

Pilihan Editor


6. Menghormati dan Berkata Baik dengan yang Lebih Tua

Foto:ocregister.com

Masyarakat Jepang sangat menghargai generasi sebelumnya. Tidak jarang di sekolah sering diadakan sesi sharing dengan orang yang sudah lanjut usia. Mereka mendengarkan cerita tentang tradisi yang dijalankan keluarga bertahun lamanya dan bagaimana kakek-nenek membesarkan kedua orang tua sedari kecil.

7. Menyayangi Guru dan Teman

Foto: robohub.org

Hampir sepanjang hari waktu anak dihabiskan di sekolah. Untuk menciptakan perasaan nyaman dan bahagia mereka saling menyayangi. Kebiasaan ini juga dilakukan oleh siswa senior untuk juniornya, tidak ada yang namanya bullying. Mereka membimbing adik kelas dan membantu dalam masalah pelajaran. “Kyouiku wa deai nari, deai wa kando nari” artinya pendidikan adalah tempat untuk bertemu dalam rangka mencapai kebahagiaan.

8. Berkata Jujur dan Menghargai Barang Milik Orang Lain

Foto: japantime.co.jp

Pernah nonton Chibi Maruko Chan? Film kartun yang mengisahkan kehidupan sehari-hari anak perempuan kecil di sekolah dan rumah. Sepulang bermain, maruko menemukan uang 10 yen di jalan. Hatinya bimbang antara mencari pemiliknya atau pulang ke rumah untuk menonton acara televisi kesukaan. Karena sudah tiba waktunya acara diputar, maruko memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah ia bercerita kepada ibu bahwa baru saja menemukan uang di jalan.

Alih-alih dipuji karena beruntung mendapatkan rezeki, maruko malah mendapat omelan karena telah mengambil barang yang bukan haknya. Saat itu juga ibu menyuruh maruko kembali ke jalan tempat ia menemukan uang tersebut dan menyerahkannya ke kantor polisi terdekat. Jadi kalau ketinggalan barang di Jepang, Takaiters tidak perlu panik karena kemungkinan besar masih ada di tempatnya.

9. Berjalan Kaki atau Naik Sepeda ke Sekolah

Foto: shizu.exblog.jp

Pemerintah menerapkan sistem zonasi untuk sekolah sehingga tidak ada sekolah favorit. Anak dapat masuk di sekolah yang paling dekat dengan rumahnya. Tujuannya agar orang tua tidak perlu mengantar jemput dan bisa ditempuh dengan sepeda untuk anak yang lebih besar. Apabila memilih berjalan kaki ke sekolah dapat berjalan bersama-sama dengan siswa lain didampingi oleh sukarelawan yang terjadwal. Bagi siswa PAUD tetap diantar oleh orang tuanya. Tidak ada perbedaan mencolok dari direktur hingga penjaga sekolah karena semua sama-sama menggunakan sepeda. Selain sehat juga mengurangi polusi.

10. Menyayangi Hewan dan Tumbuhan

Foto: blog. ruangguru.com

Sejak usia dini anak-anak diwajibkan untuk mempunyai tanaman atau hewan peliharaan sendiri. Mereka bertugas mencatat pertumbuhannya hari demi hari. Selain menambah ilmu, juga menumbuhkan rasa cinta kepada lingkungan. Untuk siswa yang lebih besar kegiatan ini disertai dengan belajar membaca, berhitung, menulis, dan ilmu lainnya.

11. Memudahkan dan Empati Terhadap Orang Lain

Foto: msn.com

Perusahaan kereta api cepat (shinkansen) di Jepang mengumumkan total keterlambatan selama setahun adalah 11 menit saja! Selama masa keterlambatan itu pihak perusahaan mengeluarkan surat untuk atasan para penumpangnya yang sebagian besar adalah pekerja. Surat tersebut menyatakan bahwa keterlambatan disebabkan oleh kelalaian perusahaan kereta api cepat dan bukan kesalahan karyawannya. Keren, ya, Takaiters!

12. Mengantri dengan Tertib

Foto: ulfah02.wordpress.com

Sejak kecil anak-anak sudah diajarkan cara mengantri yang benar. Teratur dan tidak berdesak-desakkan. Bagi mereka, mengambil jatah antrian sangat memalukan karena sama saja mengambil hak orang lain tanpa izin.

13. Menjadikan Buku sebagai Teman

Foto: wonderfulrife.blogspot.com

Tiada hari tanpa membaca. Kegiatan ini menjadi rutinitas yang menyenangkan mulai dari anak-anak sampai lansia. Membaca bagi mereka bukan lagi kewajiban melainkan kebutuhan.

Lebih lanjut, pemerintah Jepang memberikan kurikulum dengan berpegang pada konsep “Seikatsu-ka (living environmental study)” dan “Sougou gakusyuu (integrated learning)” yaitu pendidikan yang berfokus pada minat anak-anak dan pentingnya belajar melalui pengalaman langsung. Kurikulum ini memfasilitasi kebebasan berekspresi dan berkesenian. Sejak usia dini anak-anak dapat meng-explore bakat dan minatnya. Sehingga banyak bermunculan seniman-seniman muda yang berbakat di bidangnya.

Industri kreatif seperti anime dan manga pun berkembang pesat dan menjadi daya tarik luar biasa bagi industri pariwisata. Begitu juga dengan gaya street fashion Harajuku yang mempengaruhi gaya busana remaja zaman now. Dengan ciri kebangsaan yang berkarakter, etos kerja yang tinggi, perhatian khusus pada detail, serta kemajuan teknologinya menjadikan bangsa Jepang bagian dari masyarakat dunia yang diperhitungkan.

Itulah beberapa character building yang diajarkan semenjak dini di sekolah-sekolah Jepang. Semoga bermanfaat, ya, Takaiters!