melepas senja di pantai sasak
Curhat

Senja di Batas Tanah Minang, Sepenggal Cerita dari Tanah Kelahiranku

Foto : Anak Magang Takaitu

Kampuang kampuang kampuang malapeh rindu jo Mandeh Kanduang, Inshaallah ramadhan di tahun iko, bisa bakumpua basamo-samo, duduak jo kawan malapeh sanjo, saliang carito babagi raso. Itulah sedikit penggalan dari lagu “Kampuang”, sebuah lagu yang menceritakan seorang kelahiran Minang yang merantau di negeri seberang, dan ingin pulang karena rindu kampung halaman.

Siapa yang tidak merindukan Ranah Minang? Merindukan akan budayanya, merindukan makananya, merindukan keindahan alamnya nan begitu mempesona.

melepas senja di pantai sasak

Foto : AMT

Pada kesempatan ini akhirnya saya bisa pulang ke kampung halaman setelah 1,5 tahun merantau di negeri seberang. Pasti sudah tahukan seberapa besarnya rindu ini sebab sudah begitu lama tak jumpa dengan tempat kelahiran ini.

Sasak! Nama daerah kelahiran saya. Terletak paling ujung utara Provinsi Sumatera Barat, tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat. Sasak bisa saja disebut sebuah pulau sebab daerahnya dikelilingi oleh perairan yang dihubungkan oleh jembatan dengan panjang 100 meter. Sebelah barat daerah ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

PILIHAN EDITOR

Banyak kejelekan yang saya temukan pada kampung ini. Anak-anak dan pemudanya yang dulunya bersahaja, sekarang menjadi centeng yang sangat sarat dengan bahasa eufemisme. Anak-anak kecilnya masih sekolah dasar sudah bisa duduk di lapau (warung) main domino layaknya abak-abak (bapak-bapak) sedang bermain judi. Saya sangat prihatin dengan kampung ini.

Saya lihat, perhatian pihak pemerintah kampung tak ada sedikitpun yang peduli terhadap perkembangan anak-anak di kampung, yang mana mereka adalah cikal bakal generasi penerus bangsa ini. Seharusnya sebagai pemimpin apa salahnya melontarkan surat peringatan kepada mereka melalui pihak-pihak sekolah terkait. Itu sih saran saya…

Karena banyak pergaulan negatif di sekitar kampung, tak ada kegiatan yang bisa saya lakukan, kecuali menerima tamu yang datang dari Kota Pariaman. Tamu tersebut merupakan tamu istimewa bagi saya. Sebab, tamu tersebut adalah sahabat terbaik saya yang sudah lama tak jumpa.

melepas senja di pantai sasak

Foto : AMT

Memberikan pelayanan terbaik padanya, menyuguhkan makanan terbaik ala kampung saya, dan mengajaknya ke tempat wisata yang ada kampung saya. Kegiatan seperti itu memberikan kesenangan tersendiri bagi saya. Sebab, ketika ia senang sayapun ikut merasa senang.

Di kala senja itu, setelah semua berlalu, saya dan sahabat saya duduk di tepi pantai untuk melepaskan lelah ini sambil berbagi cerita. Saat matahari mulai tenggelam dan hamparan pohon-pohon kelapa nyiur yang memayungi pantai membuat saya terkagum-kagum akan keindahannya. Saya hening sebentar dan memikirkan lagu “Kampuang” di atas, memang benar kampung halaman ini membuat saya akan selalu rindu, rindu dengan mandeh kanduang, rindu dengan kawan untuk berbagi cerita ketika senja. 😀

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Populer

To Top