Pada Tanggal 6 November 2017, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyematkan gelar Pahlawan Nasional untuk Malahayati. Seorang Laksamana Laut Wanita Pertama di Nusantara, bahkan mungkin di dunia seperti yang ditulis oleh Endang Moerdopo dalam bukunya Perempuan Keumala.

Terlahir dengan nama Keumalahayati, perempuan pemberani ini masih termasuk keluarga inti dari Kerajaan Aceh Darusalam. Ayahnya yang bernama Laksamana Mahmud Syah merupakan keturunan Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530), pendiri Kesultanan Aceh Darussalam (Rusdi Sufi dalam Ismail Sofyan, eds, Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah, 1994:30).

Malahayati kecil tidak begitu suka bersolek seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Ia lebih menyukai latihan ketangkasan yang kemudian membawanya menjadi panglima perang walaupun ia seorang perempuan. Bakat yang terlahir dari ayah dan kakeknya sebagai laksamana angkatan laut Kesultanan Aceh.

Putri istana berjiwa tentara ini memilih jalur militer sebagai pilihan hidupnya. Ia merupakan lulusan terbaik di Mahad Baitul Makdis, Akademi ketentaraan Kesultanan Aceh Darussalam yang memiliki beberapa instruktur perang dari Turki (Malahayati: Srikandi dari Aceh, 1995:26, karangan Solichin Salam).

Pada saat kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604) Malahayati di tunjuk sebagai Komando Istana Darud-Dunia, Kepala Pengawal sekaligus Panglima Protokol Istana menggantikan suaminya yang gugur saat menghadapi Portugis di Teluk Haru, perairan Malaka. Sultan Alauddin juga mempercayai Malahayati sebagai pucuk pimpinan tertinggi angkatan laut kerajaan dengan pangkat Laksamana, jabatan yang pernah dipegang oleh ayah dan kakeknya.

Pilihan Editor



Pasukan yang dipimpin oleh Malahayati rata-rata didominasi oleh pria. Oleh karena banyaknya janda yang ditinggal mati suaminya dalam perang di Teluk Haru, ia akhirnya membentuk pasukan yang digalang dari kekuatan kaum wanita pemberani yang dikenal dengan nama Inong Balee (Damien Kingsbury, Peace in Aceh, 2006:195). Pasukan Inong Bale berawal dengan 1000 orang anggota, namun kemudian kekuatannya bertambah menjadi 2000. Pangkalan militernya berpusat di Teluk Lamreh Krueng Raya dan di perbukitan yang tak jauh dari pangkalannya, ia juga membangun benteng sekaligus menara pengawas.

Perlawanannya Melawan Penjajah

Pada tanggal 21 Juni 1599, Penjelajah Belanda pimpinan Houtman bersaudara merapat ke dermaga Aceh Darussalam. Dua kapal besar bernama de Leeuw dan de Leeuwin dipimpin masing-masing oleh kapten Frederick dan kapten Cornelis de Houtman. Hubungan para pendatang dari Eropa dengan rakyat dan Kesultanan Aceh Darussalam awalnya berjalan baik, hingga tingkah beberapa orang belanda disertai provokasi seorang Portugis kepercayaan Sultan Alaudin menimbulkan benih munculnya pertikaian. Sultan Alauddin yang termakan provokasi memerintahkan Laksamana Malahayati menyerbu dua kapal Belanda yang masih bersandar di Selat Malaka.

Pertemburan yang terjadi di tengah laut akhirnya terjadi. Armada Belanda yang tak mampu melawan ketangguhan pasukan Malahayati yang jumlahnya ribuan berhasil dicapai dan terjadilah pertempuran di atas kapal belanda. Duel satu lawan satu pun tak dapat terhindari antara Laksamana Malahayati dan Cornelis de Houtman.

Pada satu kesempatan di tengah pertarungan tersebut, Malahayati akhirnya berhasil menikam Cornelis dengan rencongnya hingga tewas. Armada Belanda mengalami cukup banyak kehilangan tentaranya dan akhirnya kalah. Tentara yang tersisa termasuk saudara Cornelis, Frederick de Houtman di jebloskan ke dalam penjara. Peristawa ini dikisahkan kembali oleh Marie van C.Zeggelen (1935) dalam bukunya yang berjudul Oude Glorie.

Selepas pertempuran yang melegenda tersebut tepatnya pada tahun 1640, Laksamana Malahayati meninggal dengan nama besar yang diakui oleh bangsa-bangsa Eropa seperti yang di lansir oleh Fenita Agustina dalam Great Women: Suara Perempuan yang Menginspirasi Dunia (2010,87). Jenazah Pahlawan Nasional ini dikebumikan di kaki Bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.

Kini orang tahu bahwa di Aceh bukan hanya punya Cut Nyak Dien atau Cut Meutia saja, tapi ada perempuan lain yang tidak kalah perkasa sebagai laksamana wanita pertama di Nusantara ini.