Pernikahan merupakan titik akhir dari sebuah hubungan. Dengan begitu kita sudah sah dinyatakan sebagai pasangan suami dan istri.  Pernikahan juga selalu identik dengan mahar, yang diberikan kepada calon mempelai wanita. Di kepulauan Nias mahar diartikan dengan kata Bowo.

Apa yang dimaksud dengan Bowo? Untuk lebih jelasnya mari kita cari tau mahar yang membuat pria di kepulauan Nias menjadi miskin ini.

Arti Bowo yang mengalami pergeseran

mahar pernikahan adat nias
Suku adat Nias (Foto : anthony.blogspot.com)

Bowo diartikan sebagai pemberian dengan sukarela atau tanpa paksaan sama sekali. Hal ini yang menjadi pedebatan berbagai kalangan, karena Bowo pada jaman sekarang sudah mengalami banyak pergeseran arti dan makna. Golongan muda sekarang banyak yang mengartikan bowo sebagai keharusan, dengan banyak permintaan yang memberatkan pihak lelaki.

Niha sabowo sibai” atau dalam artian lain ringan tangan dan mudah memberi. Seiring perkembangan jaman kata ini tidak benar-benar dipakai oleh suku Nias. Hal ini menyebabkan pria di kepulauan Nias jatuh miskin, dan mereka memilih untuk tidak menikah jika belum memiliki uang.

Pilihan Editor

Bowo adalah hal yang paling ditakuti bagi pemuda Nias

mahar pernikahan adat nias
Tradisi di nias (Foto : qlapa.com)

Melihat dari pergeseran Bowo yang sudah mengalami perubahan arti, banyak sekali pemuda Nias yang mengurungkan niatnya untuk menikah. Tapi biar bagaimanapun kita sebagai manusia harus memiliki keturunan, hal inilah yang membuat para pemuda di kepulauan Nias bingung dalam menentukan sikap.

Kriteria Bowo yang sudah mengalami pergeseran arti

mahar pernikahan adat nias
Tradisi Bowo (Foto : niasutara.wordpress.com)

Berikut ini kriteria Bowo yang harus dipenuhi para pemuda Nias agar bisa menikah. Pertama mempelai lelaki harus memberikan 25 ekor babi kepada mempelai wanita. Jika kita hitung, satu ekor babi bisa mencapai satu juta rupiah untuk setiap ekornya. Tidak hanya itu, pemuda Nias juga harus memberikan emas dan sebagainya untuk dijadikan mahar pernikahan.

Sungguh sangat miris melihat hal ini, karena kondisi ekonomi di Nias tidak sebaik kota besar lainnya. Masyarakat disana harus bertahan dengan hidup bertani atau berkebun, hal inilah yang menjadikan pemuda Nias sulit jika harus memenuhi Bowo yang sudah mengalami pergeseran arti.

Banyak dari pemuda Nias yang nekat meminjam uang kepada rentenir. Tujuannya agar mereka bisa memenuhi bowo tadi. Jadi bukannya menikah menambah rezeki, malah menambah masalah baru. Menurut kalian gimana nih soal Bowo yang mengalami pergeseran arti ini.