Indonesia memiliki beragam kebudayaan dengan ciri khas yang berbeda-beda, mulai dari bahasa, pakaian, tarian hingga kulinernya. Salah satu kuliner daerah yang populer dan cukup di kenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia adalah Lumpia Semarang.

Tentunya kalian tahu lumpia kan? Semula namanya adalah Loenpia, namun lambat laun masyarakat menyebutnya Lumpia karena lebih mudah diucapkan. Bentuknya sedikit lebih panjang juga lebih besar dari risoles dan memiliki kulit yang lebih renyah. Jenis lumpia ada dua macam, yaitu lumpia goreng dan lumpia basah. Lumpia basah berwarna putih namun siap dimakan meskipun tanpa digoreng, sedangkan lumpia goreng adalah lumpia basah yang digoreng. Sebenarnya lumpia merupakan makanan khas dari Tionghoa yang di bawa masuk ke Indonesia.

Lumpia yang akan kita bahas ini adalah Lumpia Semarang. Lumpia ini memang memiliki bentuk yang sama dengan makanan khas dari Tionghoa. Namun merupakan perpaduan antara kebudayaan Tionghoa dengan kebudayaan Jawa, tentu saja keberadaan Lumpia Semarang ini tidak lepas dari cerita masyarakat yang diakui kebenarannya hingga turun temurun.

Nah, bagaimana sih asal mulanya lahir Lumpia Semarang ini? Yuk, baca kelanjutannya..

Asal mula Lumpia Semarang berasal dari seorang Tionghoa bernama Tjoa Thay Joe yang lahir di Fujian, Tionghoa. Tjoa Thay Joe memilih untuk tinggal selamanya dan menjadi warga tetap kota Semarang, kemudian ia berdagang makanan yang merupakan ciri khas makanan Tionghoa dengan isi rebung dan daging babi.

Dalam menjalankan usahanya, Tjoa Thay Joe bertemu dengan mbok Wasih yang berasal dari Jawa. Mbok Wasih juga berdagang makanan sejenis seperti yang di jual Tjoa Thay Joe, hanya saja isi bagian dalamnya sesuai dengan selera orang jawa kebanyakan, yaitu terdiri dari kentang dan udang, rasanya juga manis.

Pilihan Editor

Tjoa Thay Joe  dan mbok Wasih sering bertemu saat berdagang, meskipun mereka berdagang  makanan yang sejenis, namun mereka tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu persaingan. Perlahan-lahan mulai ada perhatian diantara mereka berdua, akhirnya keduanya jatuh cinta dan menikah pada tahun 1870.

Pernikahan diantara keduanya juga termasuk mengawinkan dagangan mereka, Tjoa Thay Joe dan mbok Wasih sepakat mengawinkan dan memadukan usaha makanan tersebut menjadi satu jenis makanan dengan cita rasa yang baru. Benar-benar pemikiran yang inovatif ya?

Lumpia hasil perpaduan Tionghoa – Jawa tersebut tetap seperti lumpia dari Tionghoa namun  isinya disesuaikan dengan selera masyarakat. Isi daging babi diganti dengan udang, ayam, telor dan tetap menggunakan rebung, rasanya pun berubah menjadi asin tapi juga manis. Mereka mengolahnya sedemikian rupa sehingga rebungnya terasa manis dan telur yang digunakan sama sekali tidak amis. Rasa khas lumpia Semarang yang asin dan juga manis inilah yang membuat ketagihan bagi para penggemar kuliner hingga kini.

Biasanya Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasih berdagang di pasar malam Belanda yang disebut Olympia Park,  Karena itulah  makanan tersebut terkenal dengan nama makanan Olympia yang akhirnya menjadi Lumpia.

Pada awalnya Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasih berdagang membawa pikulan sambil berkeliling kota, lambat laun usaha mereka banyak penggemarnya dan semakin laris.  Kemudian mereka membuka toko lumpia di gang Lombok, usaha kedua pasangan tersebut semakin berkembang dan menjadi besar, hingga kini sudah beberapa generasi dan aliran yang berkembang.

Siem Swie Kiem Yang merupakan generasi tertua yang terus memberikan pelayanan terbaik kepada penggemar lumpia Semarang di tempat usaha yang merupakan warisan dari ayahnya. Generasi tertua lumpia Semarang inilah yang dikenal sebagai aliran pertama dari lumpia Semarang asli.

Lumpia Semarang ini cukup banyak penggemarnya baik dari dalam kota Semarang maupun dari berbagai kota di Indonesia. Keistimewaan Lumpia Gang Lombok sudah cukup terkenal karena racikan udang dan telurnya yang sama sekali tidak amis dan juga rebung yang tidak berbau,  sehingga saat menikmati lumpia Semarang, selain terasa nikmat juga tidak terganggu oleh bau yang amis. Pemilik toko lumpia yang tertua di Semarang ini tak segan-segan membuka rahasia mengapa rebung yang diolahnya bisa terasa manis dan tak berbau.

Kakak laki-laki dari Siem Swie Kiem yaitu  Siem Swie Hie Memiliki anak  yaitu Siem Siok Lien yang membuka dua usaha atau cabang lumpia di kawasan Pemuda dan juga di daerah Pandanaran,  di cabang tersebut terkenal sebagai Lumpia Mbak Lien. Lumpia Mbak Lien ini yang dikenal sebagai aliran kedua. Untuk aliran ketiga lumpia Semarang berada di jalan Mataram yang sebelumnya dikelola oleh Siem Hwa Nio.

Aliran pertama kedua dan ketiga merupakan keturunan langsung dari putri satu-satunya dari pencipta lumpia Semarang yaitu Tjoa Po Nio. Aliran keempat berasal dari beberapa karyawan yang pernah bekerja di cabang lumpia Pemuda dan membuka usaha lumpia Semarang berdasarkan pengalaman mereka selama bekerja disana.  Aliran yang kelima adalah orang-orang yang menyukai kuliner dan belajar tentang bagaimana cara membuat  lumpia Semarang.

Bila jalan-jalan ke Semarang jangan lupa kuliner khas Semarang, banyak toko lumpia yang bisa ditemukan dengan mudah, namun ada baiknya untuk mampir ke toko lumpia Semarang yang terlaris saat ini bahkan terkenal hingga ke luar negeri, yaitu toko lumpia Semarang tertua  yang terletak di gang Lombok nomor 11.