Hai, Takaiters!

Generasi muda yang kreatif menciptakan inovasi yang dapat mengangkat nama Indonesia dalam kancah dunia. Kali ini tim Smart Car MCS (Microalgae Cultivation Support) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta membawa harum nama Indonesia diajang kompetisi dunia.

Tim yang terdiri dari Thya Laurencia Benedita Araujo, Herman Amrullah, dan Sholahudin Al Ayyubi, berhasil meraih gelar juara dalam kompetisi inovasi teknologi Shell Ideas360 di London Inggris.

Kompetisi Inovasi Teknologi Shell Ideas360 di London
Foto: BBC Indonesia

Mereka mengusung konsep tentang mobil pintar berbahan bakar limbah plastik. Konsep yang dipilihnya itu dapat mengalahkan 3.363 gagasan dengan melalui tiga tahapan seleksi.

Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik terbanyak kedua di dunia setelah China. Tiap orang Indonesia memproduksi sampah plastik sebanyak 2,5 kilogram setiap hari. 90 persen sampah itu mencemari lingkungan. Pengelolaan sampah belum tertata dengan baik.

Berdasarkan kondisi yang ada di Indonesia ini memunculkan ide yang cemerlang, yaitu mengubah sampah plastik menjadi energi. Mereka menggunakan sampah plastik berupa botol-botol maupun plastik bening. Seperti kita ketahui Indonesia masih kekurangan energi. Jadi diharapkan bisa mengatasi kekurangan energi tersebut.

Kompetisi Inovasi Teknologi Shell Ideas360 di London
Foto: BBC Indonesia

Proses membuat sampah plastik menjadi bahan bakar dengan cara reaktor pirolisis. Panas itu berasal dari gas buang knalpot mobil dengan suhunya mencapai di atas 400 derajat Celcius. Desain reaktor pirolisis ini dapat menampung 2 kilogram sampah plastik dan dapat diolah menjadi 2,2 liter BBM.

Pengembangan konsep ini bisa memproduksi bahan bakar dan biofuel. Dengan menggelola sampah plastik ini, masalah sampah yang mengakibatkan pencemaran lingkungan bisa dikurangi.

Chris Brauer, direktur inovasi dari Universitas London dan juga sebagai juri kompetisi menilai ide tim Smart Car MCS ini sangat dekat dan relevan. Inovasi mereka bisa langsung digunakan oleh orang yang peduli dengan lingkungan. Teknologi ini jika diterapkan bisa turut serta dalam memelihara lingkungan.

Sebagai bangsa Indonesia merasa bangga karena Tim mahasiswa UGM ini merupakan satu-satunya tim mahasiswa Indonesia bisa mencapai babak final. Dan menjadi juara sejak pertama kali kompetisi ini diadakan tahun 2013. Prestasi yang bisa diancungkan jempol karena tim tersebut bisa mengalahkan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Perancis, Australia, dan negara-negara lain.

Takaiters sebagai penerus bangsa, sangat diperlukan untuk pengganti mereka. Semoga akan muncul ide-ide baru yang dapat memelihara atau paling tidak mengurangi pencemaran lingkungan.