Halo, Takaiters!

Warga sekitaran Gunung Merapi dikejutkan oleh suara gemuruh dan asap tebal yang membumbung tinggi di atas puncaknya kemarin, hari Jumat (11/05/2018) pagi. Kepanikan pun melanda seluruh warga, mengingat Merapi pernah ‘mengamuk’ hebat di tahun 2010 silam. Tentu saja kejadian itu membuat sebagian warga akhirnya bergegas meninggalkan rumah masing-masing untuk menyelamatkan diri.

Pesan berantai melalui aplikasi WhatsApp yang berisi pernyataan Pusdalops BPBD Kabupaten Magelang pun beredar. Kabar tersebut menyatakan bahwa letusan Merapi pagi itu merupakan letusan berjenis freatik, dengan radius bahaya sejauh 3 KM dari puncak. Letusan freatik bisa terjadi tanpa gejala apapun. Lalu, seberapa berbahayakah letusan freatik ini? Apa penyebab terjadinya? Yuk, simak empat faktanya berikut ini.

1. Letusan freatik sulit terbaca oleh seismograf

Foto: trubus.id

Belum lama ini, letusan freatik terjadi di Kawah Sileri Dieng pada Juli 2017. Proses terjadinya letusan ini begitu cepat dan terkesan tanpa gejala sedikitpun, sehingga menyulitkan evakuasi. Ada tujuh belas korban jiwa dalam peristiwa tersebut, dikarenakan posisinya yang cukup dekat dengan kawah.

Letusan Kawah Sileri Dieng ini tergolong dalam tipe freatik yang kemunculannya tidak diawali dengan tanda-tanda jelas. Aktivitas getarannya pun relatif lemah, sehingga sangat sulit terbaca seismograf. Hal ini juga yang terjadi pada letusan Merapi pada hari Jumat (11/05/2018) kemarin.

2. Beberapa gunung di Indonesia sering mengalami letusan freatik, sejak letusan dahsyat Gunung Krakatau pada abad ke-18

Foto: grid.id

Tak hanya Merapi dan Kawah Sileri Dieng saja yang pernah mengalami letusan freatik ini. Ada beberapa kali letusan freatik yang sudah terjadi di Indonesia, seperti awal erupsi Gunung Sinabung dan Gunung Agung pada tahun 2013 lalu. Pada abad ke-18 silam, letusan freatik juga muncul sebagai pertanda awal dahsyatnya erupsi Krakatau yang menggemparkan dunia.

Jika ditinjau dari potensi kerusakan yang dihasilkan, letusan freatik memiliki radius bahaya yang relatif pendek. Volume semburan material padat yang terjadi akibat letusan freatik ini bisa dibilang kecil dan hanya terjadi jika gunung tersebut memiliki timbunan material di puncaknya. Seperti yang terjadi pada Merapi, hujan abu baru mulai terjadi pada siang hari. Hal ini disebabkan oleh debu vulkanik yang terbawa angin sebagai dampak letusan freatik tersebut.

3. Kontak air tanah dan magma yang menghasilkan uap bertekanan tinggi, merupakan salah satu penyebab terjadinya letusan freatik

Foto: tqn.com

Jika dilihat dari aktivitas pergerakan magma, jenis letusan gunung berapi dikategorikan menjadi tiga bagian, yakni freatik, freatomagmatik, magmatik. Freatik bisa dikatakan sebagai fase awal yang terjadi karena adanya kontak antara air tanah atau air hujan yang terakumulasi di kawah dengan kawah yang masih berada jauh di kedalaman.

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Aktivitas magma di dalamnya pun akan terus terjadi, meskipun dari luar tampak tenang. Adanya kontak magma tersebut dengan air tanah pun mengakibatkan perbedaan temperatur yang mencolok, karena adanya pemanasan oleh magma yang mengubah air menjadi uap panas bertekanan tinggi.

Uap panas bertekanan tinggi ini yang kemudian mendesak lapisan padat di atasnya. Lapisan padat ini terbentuk dari sisa letusan sebelumnya yang sudah membeku karena proses pendinginan. Desakan kuat pun akhirnya muncul dan mengakibatkan letusan baru, suara gemuruh, serta keluarnya asap tebal yang kerap disebut dengan wedhus gembel.

4. Kamu wajib waspada, karena letusan freatik dapat membuka jalan untuk letusan berikutnya!

Foto: kbknews.id

Letusan freatik Merapi kemarin, memang tampaknya tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan letusannya di tahun 2010 silam yang memakan puluhan korba jiwa, hingga jebolnya jembatan di Muntilan, Jawa Tengah karena pergerakan lahar dingin. Meskipun begitu, kalian yang berada di sekitar Merapi wajib waspada ya, karena freatik merupakan fase awal yang bisa membuka jalan untuk letusan berikutnya, yaitu tipe freatomagmatik dan magmatik. Kedua tipe ini jelas memiliki potensi bahaya yang jauh lebih besar.

Letusan freatik dibedakan menjadi dua macam, berdiri sendiri ataupun sebagai jalan pembuka. Erupsi Merapi pada 2014 silam merupakan ciri letusan freatik yang berdiri sendiri dan tidak diikuti dengan letusan yang lebih besar. Sementara yang terjadi pada Sinabung, letusan freatik telah membuka jalan bagi keluarnya material vulkanik yang jauh lebih besar hingga magma atau lahar panas dari perut bumi.

Oleh karena itu, pemerintah mengimbau agar warga di sekitar kawasan Merapi tetap tenang sembari mengikuti perkembangan lebih lanjut dari badan-badan yang bertanggungjawab. Jangan lupa ya, untuk tetap menjaga keselamatan diri dengan mengenakan masker serta pelindung mata.