Halo, Takaiters!

Mimpi terindah yang menjadi nyata bagi Vidya Spay adalah menebarkan kebaikan dengan menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Ia memilih mengabdi untuk negeri dibandingkan menerima tawaran menggiurkan di luar negeri. Sungguh menginspirasi, Guys!

Mengenal Sosok Vidya Spay

Vidya Spay
Foto: jatengpost.com

Vidya Spay merupakan seorang arsitek lulusan S2 di Belgia yang telah menyelesaikan kuliahnya berkat beasiswa LPDP. Karier cemerlangnya di Singapura ternyata tidak menyurutkan langkah Vidya untuk pulang dan mengabdi untuk tanah kelahirannya. Vidya kini memilih membangun desa sebagai wujud cinta tanah air.

Vidya adalah nama panggilan dari putri pasangan Wimpi Joko Wimono Spaye Putro dan Nani Mulyani yang lahir di Solo, 18 Mei 1985. Kedua orang tua Vidya Spay berprofesi sebagai pengusaha. Kedua orang tua Vidya memiliki prinsip moral yang tinggi sehingga membentuknya menjadi pribadi seperti sekarang ini.

Saat krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1998 yang lalu, kedua orang tua Vidya terkena dampaknya sampai Vidya lulus SMU. Kedua usaha orang tuanya tumbang. Pernah Ibunya hanya memiliki uang 20 ribu rupiah dan hanya cukup untuk makan saja, ibu menyiasati masak sayur dengan kuah banyak agar cukup untuk Vidya dan ketiga adiknya.

Di tengah kesulitan ekonomi yang melanda keluarganya, ibu tetap memberikan nilai-nilai hidup yang menjadi teladan seperti menjaga keluarga, tetap dinjalan yang lurus, mengurus anak yatim, janda, orang tua, dan orang yang terkena stress berat. Vidya belajar dari sang ibu mengenai peduli sesama dan tak berputus asa.

Prestasi Vidya dalam bidang pendidikan terhitung bagus, semenjak SMP dia menjadi juara 1 berturut-turut selama dua tahun. Melihat kondisi keuangan keluarganya yang belum membaik, Vidya membantu berjualan kosmetik dan hasil penjualannya akan ia pakai untuk kursus menjahit dan melepaskan mimpinya untuk melanjutkan kuliah.

Ibu Vidya menginginkannya melanjutkan kuliah meski kondisi keuangan belum stabil. Tuhan memberikan jalan dengan beasisiwa pendidikan S1 di UGM, akhirnya Vidya lulus cumlaude dari Universitas Gajah Mada Jurusan Arsitektur. Vidya memperoleh beasiswa LPDP dan melanjutkan kuliah S2 di Belgia.

Pilihan Editor


Karier Cemerlang Vidya

Widya Spay
Foto; www.uii.ac.id

Saat Vidya menempuh tugas akhirnya, ia menempuh perjalanan ke sebuah desa di Norwegia untuk proyek magisternya mengenai human settlements di KU Leuven University. Ini merupakan titik balik Vidya yang kemudian ingin mengembangkan desa-desa di Indonesia agar bisa maju seperti di luar negeri.

Vidya pun berkesempatan membuat proyek post-industrial landscape di Brussels North, Belgia dan post-mining landscape di Afrika Selatan. Di sebuah desa kecil Eropa bagian utara, Vidya dibuat takjub akan suatu daerah dengan kondisi ekonomi yang sangat baik. Hal ini tergantung pada pengambilan suatu kebijakan dalam suatu wilayah.

Beragam pengalaman Vidya Spay, membuatnya bekerja di sebuah perusahaan besar di Singapura selama empat tahun. Vidya berkesempatan menangani proyek penting di Qatar, Turki, India, dan China yang pernah dibahas majalah The Strait Time Singapore.

Berkat kinerjanya yang baik ia berkesempatan diangkat menjadi direktur, namun Vidya melepaskan tawaran menggiurkan dengan gaji yang fantastis hanya untuk pulang ke Indonesia dan mengabdi untuk negeri.

Mengabdi untuk Negeri

Vidya Spay
Foto: lpdp.kemenkeu.go.id

Di Kota Solo yang menjadi kampung halamannya, Vidya mendirikan sebuah start up di bidang rancang bangun, yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya.

Dengan bantuan beberapa orang arsitek lain, Vidya membangun beberapa tempat di Solo dan Yogyakarta. Ia juga aktif dalam komunitas peduli desa. Dengan kebijakan yang tepat ia berharap warga desa bisa hidup makmur, bahagia, bisa saling bekerja sama, dan mampu menebarkan manfaat satu sama lainnya.

Inilah kisah Vidya Spay yang menginspirasi. Semoga banyak sosok Vidya lainnya yang memilih mengabdi untuk negeri di masa yang akan datang.

“Jangan tanyakan apa yang diberikan negara untukmu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kau berikan untuk negaramu?”