Tak dapat dipungkiri jika peran keluarga sangat besar saat seseorang punya masalah. Entah masalah pribadi ataupun sosial, keluarga dekatlah yang paling bisa memberikan semangat untuk bangkit.

Hal inilah yang dirasakan Sendy Hadiat, pengidap bipolar yaitu seseorang  yang mengalami gangguan perasaan dua kutub yang berbeda, mania (kebahagiaan) dan depresi (kesedihan). Penderita bipolar dengan mudah berganti mood  secara ekstrim, parahnya jika depresi penderita dapat mengarah pada tindakan bunuh diri.

Tahu nggak Takaiters, seseorang yang terkena bipolar akan tampak baik-baik saja seperti orang normal, padahal sebenarnya mood mereka mudah berganti secara ekstrim. Saat depresi penderita bipolar akan mengalami penurunan mood sepanjang hari, berat badan dan nafsu makan berkurang, menutup diri dari lingkungan, dan masih banyak lagi.

Pada fase mania (kebahagiaan), mereka dapat menahan rasa kantuk selama berhari-hari, merasa terhina, terlecehkan, dan sendiri. Bahkan mereka juga melibatkan diri pada aktivitas yang beresiko menyakitkan diri sendiri.

Pilihan Editor

Sejak tahun 2012, Sendy Winduvitri atau yang lebih dikenal dengan Sendy Hadiat mengidap bipolar, namun kedua kakak dan orang tuanya yang tinggal di Amerika tidak menyadari hal tersebut. Pun setelah ayah Sendy meninggal dunia pada tahun 2017, keluarganya belum juga memahami bagaimana memperlakukan pengidap bipolar. Hal itu membuat tekanan yang dihadapinya belum mengalami perubahan.

Hingga di tahun 2017, Wanita kelahiran Jakarta ini mendapat hidayah dari Allah untuk mencari sendiri arti bipolar, penyebab, pencegahan, dan cara mengatasinya. Sebenarnya sejak tahun 2013 Sendy telah membeli buku tentang bipolar tapi dengan alasan tertentu tidak dibacanya.

Beruntung sang suami membantunya berkonsultasi ke dokter kejiwaan yang ditemukan Sendy pada buku bipolar yang ia beli. Wanita itu pun menemukan kekuatan untuk kembali menjadi wanita yang berarti dalam hidup suami dan anaknya.

Setelah mempelajari lebih dalam tentang bipolar, akhirnya Sendy bisa memahami dua fase dari dalam dirinya dan berusaha menjaga ketenangan hati dan pikiran untuk menghindari faktor-faktor penyebab depresi atau panic attack yang berlebihan.

Wanita itu mengaku bahwa dirinya merasa lega dan bersyukur karena tahun ini merasa memiliki keluarga yang utuh. Menerima bipolar disorder sebagai karunia dari Allah SWT. Tak ingin menyimpan sendiri pengalamannya, Sendy ingin membagikan kisahnya sebagai bentuk kepedulian kepada perempuan lain khususnya pengidap bipolar.

Melalui buku berjudul “Menemukan-Mu dan Menemukannya” Sendy menuturkan perjalanan hidupnya yang penuh rintangan, pelecehan, bully, dan siksaan batin hingga akhirnya hatinya menemukan Allah SWT. Disusun saat menjadi peserta Privat Writing Coach, Sendy juga menceritakan pengalamannya menjadi pengidap bipolar dan usaha dalam menghadapinya.

Ditulis hanya dalam waktu dua hari, buku setebal 160 halaman tersebut berpesan kepada pembaca agar tidak menyerah pada keadaan, terus berjalan dan melangkah. Selalu ingat bahwa Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan hambaNya, Dia Maha Baik lagi Penolong.

Windy berharap dapat menginspirasi pembaca melalui bukunya, Sendy juga berpesan agar kita tidak malu dan membuka mata hati untuk membantu sesama perempuan yang sedang membutuhkan pelukan.

Lemahnya kejiwaan bukanlah penghambat untuk menginspirasi orang lain ya Takaiters, singkirkan malu dan buka mata hati untuk menerima saudara-saudara dan sahabat perempuan yang membutuhkan pelukan, begitu saran Sendy.

Segala kejadian dalam episode kehidupan kita pasti ada hikmahnya. Allah SWT lebih tahu yang terbaik untuk hambaNya, bukan begitu Takaiters? Yuk, saling berbagi dan menginspirasi seperti Sendy.