Heiyo, Takaiters!

Suku Bugis terkenal sebagai suku yang memiliki jiwa perantau. Bukannya tanpa alasan, masyarakat suku Bugis memang mempunyai jejak sejarah yang membuktikan keterampilan ulung mereka dalam hal merantau. Jiwa perantau dari bangsa suku Bugis erat dengan keterampilan melaut dan mengarungi samudera yang mereka miliki.

Suku bangsa yang satu ini merupakan suku etnis yang tersebar di beberapa wilayah Sulawesi Selatan. Berkat kemampuannya itu jugalah, orang-orang Bugis tersebar meninggalkan wilayah aslinya ke berbagai provinsi Indonesia, hingga sejumlah wilayah mancanegara seperti Malaysia dan Singapura. Maka tak heran, dahulu orang Bugis dikenal sebagai pelaut ulung. Bahkan, image itu masih melekat hingga saat ini.

Namun, selain dikenal sebagai “suku perantau”, suku Bugis sendiri juga dikenal dengan tradisi unik yang disebut “Mappalette Bola”. Mappalette Bola sendiri adalah tradisi pindah rumah. Lalu, apa yang membuat tradisi ini unik? Pindah rumah yang dilakukan bukan sekadar pindah dari rumah lama ke rumah baru seperti biasanya, melainkan memindahkan letak rumah mereka secara utuh dari tempat lama ke tempat baru.

Bagaimana bisa? Simak, ya, Takaiters!

1. Selama Bergotong-royong, Semua Menjadi Mungkin!

Mappalette Bola - Tradisi Pemindahan Rumah Adat Suku Bugis
Foto: Good News From Indonesia

Sebagai bentuk dari tradisi, hal itu bukanlah hal aneh bagi suku Bugis. Mereka akan memindahkan rumah dengan cara menggotongnya ke tempat baru yang diinginkan sang empunya rumah. Tentu, hal itu mustahil jika dilakukan sendirian. Karena itu, warga tetangga akan ramai-ramai bergotong-royong membantu mengangkat rumah yang akan menempati lahan baru.

Sekilas, hal ini memang cukup nyeleneh. Namun, hal itu bukannya tanpa alasan. Suku yang menurut catatan sensus dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, memiliki jumlah populasi sekitar 7 juta orang ini; menganggap rumah sebagai hal sakral, di mana rumah merupakan tempat bersejarah yang merujuk sebagai tempat mereka lahir, menikah, berkegiatan sehari-hari, dan meninggal.

2. Bentuk Rumah yang Memudahkan Pemindahan

Bentuk Rumah Adat Suku Bugis
Foto: Indonesia Kaya

Hanyalah rumah adat masyarakat bugis yang dapat dipindahkan melalui tradisi ini. Rumah adat suku bugis sendiri memiliki struktur bangunan berbentuk rumah panggung yang lantainya berjarak di atas permukaan tanah. Jarak tersebut ditopang oleh beberapa tiang penyangga sehingga membentuk bagian kolong rumah (awa bola) yang biasanya dijadikan sebagai garasi atau tempat untuk menyimpan berbagai alat pertanian.

Yang membuat rumah adat (bola soba) ini unik terletak pada pembuatannya didominasi oleh susunan kayu bangunan yang penyatuannya tidak menggunakan paku. Tanpa adanya paku, bola soba dapat dibongkar pasang. Ini dimaksudkan untuk memudahkan ketika dilakukannya pemindahan rumah.

Untuk diketahui, nih, Takaiters! Selain awa bola, Rumah adat Suku Bugis sendiri memiliki dua bagian lain, yakni rakkeang—bagian atas rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil panen—dan ale bola yang merupakan interior utama bagi penghuni menempati rumah, seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, serta dapur.

Pilihan Editor



3. Upacara Sebelum dan Sesudah Pemindahan

Upacara Pemindahan Rumah Adat Suku Bugis
Foto: Indra Abriyanto – Indraabriyanto.blogspot.com

Seperti dengan upacara adat lainnya, tradisi Mappalatte Bola akan diikuti dengan pra-pasca acara. Sebelum rumah dipindahkan, ada beberapa persiapan yang dilakukan demi kelancaran proses pemindahan.

Persiapan tersebut dengan mengadakan selamatan yang berisi, panjatan doa yang dipimpin ketua adat, menurunkan perabotan rumah tangga untuk mengurangi berat beban rumah, dan memasang bambu di bagian awa bola sebagai pegangan warga ketika menggotong rumah.

Selain itu, pemilik rumah juga akan menjamu para warga yang akan ikut membantu pada saat sebelum dan sesudah rumah dipindahkan. Pemindahan rumah nantinya akan didampingi oleh ketua adat yang memberikan arahan kepada warga.

4. Upacara Adat Dilaksanakan Kembali Setahun Kemudian

Maccera Bola Sebagai Simbol Tolak Bala
Foto: Wahyu Chandra – Mongabay.co.id

Tidak selesai di situ saja, lho, Takaiters! Nah, baik setahun setelah rumah didirikan ataupun dipindahkan dari tempat sebelumnya, diadakan lagi tradisi tolak bala yang disebut “Maccera Bola”.

Dalam acara tersebut, tiang penyangga rumah panggung akan diolesi dengan darah ayam yang telah dipotong terlebih dulu. Maccera Bola digelar agar rumah dapat terhindar dari bencana atau mara bahaya.

Wah, selain suku yang terkenal sebagai pelaut dan perantau ulung, suku Bugis sendiri memiliki tradisi unik yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Kita patut bangga, nih! Iya enggak, Takaiters?