Hola, Takaiters!

Omong-omong tentang kain Nusantara, rasanya kita semua akan sepakat bahwa batik masih menjadi juara bertahan. Kebanyakan orang masih mengenal motif batik khas Jawa, sedangkan kain dari daerah lain masih berusaha merangkak untuk menampilkan pesonanya– yang sebetulnya tidak kalah memukau.

Seiring dengan perkembangan mode di Indonesia, kain Nusantara pun makin diperhitungkan sebagai busana yang chic dan menawan. Tidak hanya batik, kain-kain semacam ulos, lurik, sasirangan, shibori, bahkan songket makin dilirik. Nah, bagi Takaiters yang hobi mengoleksi kain tradisional, sudah saatnya kalian mengintip keindahan kain Sarita.

Kain Sarita adalah sebuah peninggalan khas dari Toraja. Seorang peneliti Batik bernama William Kwan Hwie Liong menyatakan bahwa Toraja tidak hanya terkenal karena kain tenunnya semata. Siapa sangka, Toraja memiliki batik yang khas dan memiliki keunikan yang sulit ditiru?

Ingin mengenal keistimewaaan kain ini lebih lanjut? Berikut 3 penjelasan yang wajib kamu ketahui tentang kenapa kain ini begitu unik:

Kain Sarita Mengandung Unsur Prasejarah

Foto: bukalapak.com

Motif mula-mula dari kain Sarita sarat dengan percampuran budaya Megalithikum dan agama Hindu-Budha. Proses penggambaran motifnya pun terbilang unik, karena menggunakan media sepotong ranting kayu. Asal-usul kain ini semakin menarik karena dibumbui oleh cerita kuno, bahwa nenek moyang orang Toraja berasal dari surga. Itulah sebabnya, motif populer dari kain sarita adalah gambar pohon kehidupan, yang menjadi penghubung antara dunia dan surga.

Pilihan Editor

Bahan Pembuatan Kain Sarita yang Unik

Foto: modelbatikterbaru.com

Ada sumber lain yang mengatakan bahwa kain sarita dilukis dengan sepotong bambu runcing. Bubur beras dan malam menjadi bahan utama pewarnaan kain sarita. Kedua bahan itu memiliki kesamaan dengan tenun yang dihasilkan oleh suku Baduy. Namun, teknik ini makin kalah bersaing oleh teknologi mesin.

Kamu harus membayar mahal selembar sarita yang dibuat dengan metode manual. Selembar kain berukuran 150 x 50 cm ini dibanderol dengan harga hampir Rp.800.000,00.

Beda Warna, Beda Artinya

Foto: blog.negerisendiri.com

Kain Sarita berfungsi sebagai tolak bala sekaligus permohonan untuk mendatangkan rezeki. Saat upacara pengorbanan hewan, kain sarita dibentangkan di ujung atap rumah. Beberapa kain difungsikan sebagai penutup peti mati, umbul-umbul, sampai hiasan penari adat.

Kain yang berwarna cerah dipakai untuk permohonan rezeki berlimpah, seperti upacara pernikahan atau kelahiran bayi. Sedangkan warna yang gelap kerap dipakai di upacara adat dan kematian.

Kain Sarita telah mendapatkan apresiasi dari negeri Austria. Negeri yang mengadakan event MQ Viena Fashion Week  pada tahun 2017 itu mengagumi kecantikan dan kemolekan kain Sarita. Bahkan desainer Indonesia, Handy Hartono telah menggadang-gadang sarita sebagai kain khas Toraja yang dapat diterima di kawasan Eropa.

Nah, sudah siap berburu kain Sarita? Dijamin tidak menyesal dan makin bangga pada kekayaan budaya kita, deh. Happy hunting!