Salam, Takaiters!

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan pasti berbeda bentuk-bentuk perlakuannya dari tiap saat dan zaman demi zaman, baik ibadah yang dilakukan maupun aktivitas rutin. Setiap zaman atau masa, mempunyai warna tersendiri dalam merayakan momen Ramadan.

Era tahun 70-an sampai 90-an terbilang sudah agak lama dari sekarang. Pada era tersebut, teknologi belum menyentuh kehidupan masyarakat Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Pada era itu, kita bisa menjalani ibadah puasa dengan baik serta menjalani rutinitas keseharian tanpa adanya teknologi canggih seperti zaman sekarang. Tetapi boleh dikatakan, di era tersebut ada tantangan tersendiri dalam menikmati momen Ramadan, khususnya di pedesaan.

Misalnya, seperti memasak. Kita harus mencari kayu bakar di hutan sambil menunggu waktu sore. Saat berbuka puasa dan makan sahur hanya diterangi lilin, pelita, atau bisa jadi obor.

Ngabuburit biasa dilakukan dengan aktivitas main kartu, pergi mengail atau pergi ke kebun. Namun, tradisi gosip sudah sering menghiasi ngabuburitnya ibu-ibu pada era itu. Biasanya, pada waktu sore, kids tempo doloe yang tinggal di pedesaan, sibuk mencari kelapa muda dan buah-buahan di kebun untuk disiapkan pada waktu buka puasa.

Tak mudah untuk kita lupakan, pada dasarnya nuansa tempo doloe telah mengukir nostalgia kental mengenai momen Ramadan yang dijalani secara alami dan tradisional.

Pilihan Editor



Masyarakat zaman sekarang dapat mengakses berbagai hiburan melalui teknologi canggih, seperti TV dan gadget, Sementara hiburan masyarakat era 70-ansampai 90-an hanya bersahabat dengan alam, yaitu mengail dan berkebun.

Namun walupun begitu, keterbatasan teknologi justru menguntungkan dan mendatangkan berkah tersendiri. Misalnya, tradisi yang masih kental masih dipatuhi, orang-orang tidak gampang berbuat khilaf dan dosa di bulan suci. Pemandangan mesum dan budaya luar tidak dapat diakses dengan mudah sehingga tidak mengganggu.

Menikmati bulan suci Ramadan di zaman now dengan pergeseran dan perubahan dinamika kehidupan tradisional menjadi modern telah membawa kemudahan dan tantangan tersendiri. Misalnya, dari segi pengelolaan dapur, memasak dengan memakai kompor, elpiji, dan rice cooker.

Perjalanan jauh dapat ditempuh dengan singkat dengan menggunakan sarana transportasi. Ketersediaan dan kelimpahan informasi telah menggiring kita beribadah secara maksimal seperti tersedianya banyak buku yang bisa dignakan untuk belajar.

Berbeda dengan tempo doloe yang serba terbatas, zaman now memberikan kita akses yang lebih untuk menikmati setiap momen kehidupan tanpa rasa bosan dengan duduk melihat matahari kapan terbenam dan sibuk melihat jam, seperti yang dilakukan kids tempo doeloe.

Kita bisa melakukan salat di masjid manapun yang kita inginkan tanpa terhalang jarak dan waktu. Ngabuburit bisa dilakukan dengan menikmati acara di layar TV maupun bermain gadget. Sehingga terbenamnya matahari sudah tidak terasa.

Tetapi, tantangan zaman now adalah banyaknya konten-kontem porno yang berseliweran yang mengganggu ibadah kita, seperti video dan gambar porno di medsos, pemandangan asusila di layar TV, pemandangan manusia setengah tanpa busana di mana-mana, dan lagu-lagu yang berkonotasi porno.

Zaman doeloe semarak dengan kesakralan salat wajib dan tarawih dan hal itu masih terpelihara. Tetapi, di zaman now, kegiatan ibadah berdzikir di masjid diselingi bermain facebook dan googling. Hal tersebut merupakan suatu aktivitas yang banyak dilakukan oleh sebagian remaja. Sungguh menyedihkan!