Hallo, Takaiters!

Setiap manusia memiliki kekurangan, namun dibalik semua itu, Tuhan telah menitipkan kelebihan dalam diri setiap manusia.

Mengenal Sosok Antony Tsaputra

Setiap orang  pasti punya cita-cita, begitu juga dengan penyandang difabel. Antony Tsaputra, pria kelahiran 19 Desember 1976 itu, sudah sangat akrab dengan kursi roda sejak dulu.

Kisah pria kebanggaan Sumatra Barat ini sungguh menginspirasi, lho, Takaiters. Antony Tsaputra, penyandang disabilitas dengan Severe Psysical Impirement ini tengah diolok-olok teman semasa kecilnya ketika bermimpi ingin ke luar negeri.

Kini, Antony Tsaputra menjadi salah seorang mahasiswa Sidney yang melanjutkan kuliah  S3 sebagai  kandidat doctor di University of New South Wales (UNSW), Sydney.

Antony Tsaputra lebih mempercayai Tuhan dan dirinya sendiri, ia berusaha keras menggapai impian. Ia bisa kuliah S1, S2, dan S3 tanpa biaya sendiri.

Ia mampu menembus batas, menepis ejekan atau gurauan orang lain  karena bagi  orang normal sekali pun belum tentu sanggup untuk melanjutkan kuliah S3 melalui jalur beasiswa atau tanpa biaya sendiri. Hanya orang-orang hebat yang mampu mewujudkan mimpinya menjadi nyata.

Antony meraih gelar sarjana  tahun 1998, di Universitas Andalas, Padang. Melalui pembiayaan penuh plus disability package dari pemerintah Australia pada 2010

Ia melanjutkan kuliah S2 di Griffith University, Queensland. Kini, ia tercatat sebagai kandidat doctor di UNSW yang mengambil tema penganggaran pemerintah yang inklusif terhadap penyandang disabilitas (Disability Inclusive Budgeting).

Pilihan Editor


Berbagai Tantangan Dilewatinya demi Meraih Mimpi

Banyak orang meragukan mimpi Antony, namun kini ia membuktikan pada dunia bahwa seorang Antony Tsaputra, sang difabel mampu menembus batas hingga melanjutkan kuliah S3 di Sydney.

“Bagaimana mungkin seorang difabel mampu ke luar negeri dan bisa melanjutkan pendidikan yang tinggi?” Banyak yang menyangsikan keinginan Antony untuk melanjutkan pendidikan apalagi pergi ke luar negeri. Rasanya seseorang difabel akan kesulitan untuk menggapai mimpi.

Berbagai bentuk tantangan ia hadapi selama ini dalam meraih mimpi untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Keluarga juga menyangsikan beasiswa bisa menyentuh penyandang disabilitas.

Antoni harus digendong buat naik tangga saat seleksi oleh keluarga bahkan oleh sesama teman saat seleksi. Semua itu tak pernah meyurutkan langkahnya untuk meraih mimpi.

Ia bersyukur banyak orang yang mendukungnya, baik istri, keluarga, dan sesama rekan yang ikhlas membantu dirinya. Mungkin inilah pertolongan Tuhan terhadap Antony.

Di Sydney, akses untuk penyandang disabilitas sudah baik, karena  adanya reasonable  accommodation berupa assistive technology di beberapa fasilitas umum dan sarana transportasi.

Sepak Terjang Antony Tsaputra

Antony melanjutkan kuliah S2 di Griffith University, Quensland. Ia mendapatkan kesempatan satu-satunya sebagai penyandang disabilitas yang mengikuti program Profesional fellowship on legislative process and governance di Amerika Serikat.

Saat Antony melanjutkan kuliah S3, ia juga aktif dalam berorganisasi, diantaranya sebagai anggota tetap UNSW International Students Sub Committee for Equity, Diversity, and Inclusion dan ditunjuk sebagai penanggung jawab program difabel untuk PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia). Keren, ya, Takaiters!

Impian dan Harapan Antony Tsaputra

Antony memiliki mimpi agar penderita disabilitas punya hak yang sama dalam pendidikan dan bisa mengukir prestasi.

Harapannya sebagai penyandang disabilitas mampu hidup mandiri dan memiliki akses ke berbagai hal dengan media yang bersahabat bagi para difabel.

Wow, kisah hidup Antony Tsaputra ini sangat menginspirasi, ya, Takaiters. Teruslah berusaha meraih mimpi dan jangan lupa berdoa, ya, Takaiters!