Halo, Takaiters!

Sebelum memasuki bulan Ramadan, umat muslim meminta maaf baik langsung maupun lewat media. Dengan tulus meminta maaf agar dalam berpuasa sudah dalam keadaan suci. Namun, lain halnya orang yang mengalami konflik dengan orang lain sangat sulit meminta atau memberi maaf.

Pernahkan Takaiters tidak mau memaafkan orang minta maaf, karena merasa sakit hati atau kesal? Memang kata maaf adalah sebuah kata yang sederhana namun sulit diucapkan.

Sebagai manusia pasti pernah melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak. Ketika kita menyadari telah melakukan kesalahan tentu akan meminta maaf. Konflik yang muncul kalau tidak diakhiri dengan saling memaafkan, hal ini akan memperpanjang masalah.

Kompleksitas kata “maaf” menuntut kedua belah pihak yang berkonflik untuk “meminta” dan “memberi”. Kenyataan yang ada, mengucapkan kata maaf memerlukan tantangan tersendiri bahkan seringkali pihak yang bersalahpun sulit mengatakan hal itu.

Seseorang menyadari kesalahannya, meminta maaf kepada orang yang telah disakiti bukanlah perkara mudah. Dipihak lain orang yang tersakiti juga sulit memaafkan orang tersebut. Kata yang diucapkan, “Aku memaafkan tapi aku tidak bisa melupakan kesalahanmu.” Kata ini tidak menunjukkan telah memberi maaf.

Penyebab seseorang sulit untuk meminta atau memberi maaf, antara lain:

1. Rasa Peduli yang Rendah

Foto: gentwenty.com

Keinginan untuk memberi ataupun meminta maaf datang dari rasa peduli dan juga empati atas pihak yang dirugikan. Sulit dalam memberi atau meminta maaf disebabkan oleh kepedulian yang rendah terhadap satu sama lain dan kelangsungan hubungan itu sendiri. Selain itu kurangnya empati terhadap orang yang tersakiti. Jadi sebenarnya, permintaan maaf adalah upaya untuk memperbaiki sebuah hubungan.

2. Khawatir Citra Dirinya Terancam

Foto: sweetyhigh.com

Orang yang sulit meminta maaf memiliki sifat narsisme dan tingkat empati yang rendah. Secara naluri sebenarnya tiap orang memiliki nilai kebaikan, namun karena pertimbangan citra dirinya yang merasa terancam, sehingga sulit meminta atau memberi maaf.

3. Menganggap Maaf Bukanlah Solusi

Foto: madgracelove.com

Pemikiran bahwa maaf bukanlah solusi yang menyebabkan sesorang yang tidak mau memberi maupun meminta maaf. Kalimat-kalimat biasanya yang akan muncul seperti, “Lalu apa setelah bermaaf-maafan, tidak akan mengulangi lagi?” atau “Apakah masalahnya selesai setelah minta maaf?”

Sebenarnya, orang meminta dan memberi maaf, bukan menunjukkan seseorang itu lemah atau tidak mampu membalas. Hal ini menunjukkan orang tersebut memiliki sifat keutamaan dan kemuliaan dari sifat Allah yaitu Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Allah akan memaafkan dan mengampuni seberapa besar kesalahan yang pernah dilakukan hamba-Nya.

Permohonan maaf yang tulus tidak selalu langsung diikuti pemberian maaf, hal ini perlu proses dan waktu. Kedua belah pihak harus lapang dada dalam pemberian dan permohonan maafnya. Jika hal ini tidak ada, maka konflik dapat terjadi kembali dengan saling mengungkit dan menyalahkan. Jadi permohonan dan pemberian maaf harus mempunyai keinginan agar kelanjutan hubungan terus terjalin.

Nah, Takaiters yang pernah mengalami konflik, harus lapang dada dalam meminta atau memberi maaf agar hubungan persahabatan tidak putus.